Mohon tunggu...
Fatmi Sunarya
Fatmi Sunarya Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pujangga

Penulis Sederhana - Penjelajah Buana - Kompasianer Teraktif 2020 "DILARANG MEMUAT ULANG ARTIKEL UNTUK TUJUAN KOMERSIAL 😡"

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Dari Lugu Menjadi Lugas

30 Juli 2021   14:28 Diperbarui: 31 Juli 2021   22:21 177 47 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dari Lugu Menjadi Lugas
Sumber https://www.kompasiana.com/topic/senioritas-di-kantor

Sesungguhnya, saya dulu sangat lugu, kuper. Zaman SMA, rutinitas tiap hari hanya rumah dan sekolah. Bukan anak gaul, anak rumahan banget. Karena apa? Saya dulu penyakitan, kena hujan sedikit saja demam. Kena panas juga begitu, sakit kepala dan banyak keluhan lainnya. Kalau diingat-ingat malu juga, cuma saya yang suka bawa payung lipat tiga didalam tas.

Bisa dibayangkan ketika saya mulai bekerja di sebuah LSM standar internasional pula. Saya mengalami shock therapy yang lumayan. Contoh kecil, nama-nama ATK (alat tulis kantor) saja saya tidak tahu. Mana yang namanya cutter, staples, binder clips dan lain-lain. Maklum orang dusun, yang tahunya pisau bukan cutter, stiker (penyebutan yang salah) bukan staples. Nah, saya sering bingung waktu itu.

Waktu itu saya sebagai staf administrasi yang dikoordinir oleh ibu EM yang galak tapi baik. Sebagai anak bawang, tentu saja disuruh ini disuruh itu. Yang paling bikin cemas adalah jika saya ditugaskan di ruang radio. Kantor kami mempunyai ruang radio SSB (Single Sideband), radio untuk berkomunikasi dengan beberapa kantor lapangan dan juga staf lapangan. Saya mulai gemetar mesti pakai bahasa radio. 

"Iya, silakan masuk, disini Fox Tenggo (FT)," jawab saya.
"Siapa sih ini", semprot boss saya diseberang sana.
"Staf baru pak," saya ketar ketir.
'You mesti belajar bahasa radio, paham ya," tegur bapak boss.

Akhirnya saya merengek sama bapak saya, untuk dibelikan radio HT. Jadilah saya anak breaker, hanya gara-gara ingin belajar menggunakan radio komunikasi.

Karena staf baru, saya mesti banyak belajar dan kadang yang ngajarin galak atau entah digalak-galakin. Seperti mengirim faximile, dan menerima faximile juga. 

Biasanya dari luar negeri mengirim surat selalu pakai faximile dan habis itu mereka konfirmasi apakah fax yang dikirim sudah diterima.  Saya galau, bahasa Inggris saya agak kacau. Saya selalu membuat contekan yang berisi kalimat, yes, I have received your fax, thank you. Langsung saya tutup teleponnya di mesin faximile, jangan ada pembicaan lanjutan di antara kita he he he.

Yang saya ingat juga adalah hari pertama saya bekerja, saya disuruh mengetik satu buah buku berbahasa Inggris, dan dinilai berapa banyak halaman perhari yang bisa sayak ketikkan dan butuh waktu berapa hari untuk sebuah buku tersebut. Saya mengerjakannya dengan serius, nonstop dari pagi sampai sore. Istirahat cuma waktu istirahat saja. Dan selesai tiga hari, sampai tangan saya semutan sama gajahan. 

Saya lalu menyerahkan kepada PO (Project Officer), buku dan disket hasil ketikan tersebut. Beliau mengucapkan terima kasih dan mengembalikan disket tersebut.
"Saya hanya mengetes ketekunan dan kerajinan kamu saja", katanya.

Hati saya berselimut haru dan kesal, banyakan kesalnya mungkin. Satu buku yang sia-sia. Tapi, harus berpikiran positif bahwa ini ujian dan orang lain bisa menilai bahwa kita serius bekerja atau tidak. Sejak itu, saya operator segala macam laporan. Tolong, ketikkan laporan saya dan harus selesai hari ini, begitu kira-kira staf yang dari lapangan memberi tugas. Karena komputer terbatas waktu itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN