Fasih Radiana
Fasih Radiana

Kalimatku sederhana, hanya ingin berbagi cinta lewat sederet kata.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Profesi Ibu Rumah Tangga, Sederhanakah Ia?

11 Maret 2015   20:21 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:48 77 0 0




Keinginan saya memang menjadi ibu rumah tangga. Karena saya begitu tahu bahwa bekerja di luar rumah tak pernah bisa disambi dengan mengurus semua urusan rumah, tidak sama, berbeda pola. Pikiran-pikiran itu memenuhi saya sudah cukup lama. Sudah sejak Saya masih dikategorikan sebagai remaja.  Dengan pendidikan yang tetap mumpuni karena untuk mencetak penerus yang baik pun butuh andil seorang Ibu yang cerdas. Ibu rumah tangga harus multitalent kan? Lalu ada yang salah dari saya yang sekolah di beda-beda jurusan? Hehe, abaikan kalimat terakhir.



Dari dini hari sampai pagi lagi, bukankah harus ada satu orang yang memimpin seisi rumah agar tetap teratur? Bagaimana jika sistem itu cacat sedikit saja? Kira-kira siapakah korbannya? Siapa yang akan dirugikan di sana? Berhasilkah saya, jika saya adalah "orang besar" yang dihormati dan dibanggakan di mana-mana, tetapi keluarga kecil saya ternyata tidak bisa memaknai hakikat "keluarga" yang seutuhnya? Sederhanakah tugas seorang Ibu Rumah Tangga? Sesederhana setiap mata yang mencela prodi Tata Rias dan Kecantikan, katanya, kuliah hanya datang lalu praktik make up. Tanpa profesi Ibu rumah tangga, saya rasa sistem di dalam rumah tidak akan berjalan dengan baik. Pun ada, hanyalah sekian persen saja. Bisa dihitung dengan jari telunjuk.



Masih salahkah? Apa? Uang?



Saya tidak naif dan munafik. Saya dan keluarga kecil saya nanti butuh dana ini dan itu. Dari papan, sandang, lan pangan, lalu belum lagi pendidikan sampai urusan kesehatan.



Saya rasa hanya pecundang yang takut kekurangan biaya hidup. Pun nanti jika gaji suami saya pas-pasan, bisakah mencari uang tambahan di luar kantor? Tak bisakah saya mengerjakan sesuatu di rumah yang menghasilkan pundi-pundi uang? Tak bisakah saya berdoa, bersujud siang-malam, meminta Allah memperlancar rezeki keluarga kami? Bisa. Sangat bisa.



Hanya orang-orang yang tidak percaya pada keajaiban, ketangguhan, kebesaran, keadilan, kasih-sayang, dan kesempurnaan Allah yang bilang bahwa dengan menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kesalahan. Apalagi jikalau hanya menyangkut urusan finansial.



Mari saya tunjukkan contoh kecil. Adakah suami-istri yang bekerja dan kedua-duanya mempunyai penghasilan besar tetapi tetap kekurangan? Banyak. Tapi adakah hanya bekerja serabutan tapi ternyata serba kecukupan? Ada.



Bolehkah Saya simpulkan?



"Cukup" hanya akan ada di hati orang-orang yang bersyukur dan pada mereka yang dekat dengan Allah. Yang jauh dari keduniawian. Yang percaya bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang mampu mengurus segala kehidupan.



Lalu pedulikah saya atas perkataan orang yang bilang bahwa cita-cita saya HANYA seperti itu?



Saya tidak punya keinginan yang dilihat secara garis vertikal. Tidak begitu tertarik memiliki jabatan, pangkat, eksistensi tinggi, atau segala jenis ke arah atas. Kalaupun saya punya keinginan lebih dari seorang Ibu rumah tangga, adalah motivator. Lewat apa saja, bahkan sekadar coretan di facebook saja asal manfaat akan saya lakukan berulang-ulang, akan saya teruskan sampai ke mana-mana. Karena senyum lega pembaca adalah salah satu bagian dari kebahagiaan yang entah didatangkan Allah lewat angin apa. Saya ingin bermanfaat, meski kecil, meski sedikit, meski hanya dengan kata-kata usang semacam ini. Semua boleh berpendapat. Semua boleh menyanggah. Beginilah saya ingin hidup. Beginilah cara saya bersyukur. Beginilah cara saya memandang hidup melalui garis horizontal yang saya harap bisa merengkuh dunia-akhirat.







Catatan Kecil, Fasih Radiana, 11 Maret 2015.

www.fasihradiana.blogspot.com