Mohon tunggu...
Fariz Ilham Rosyidi
Fariz Ilham Rosyidi Mohon Tunggu... Penulis Roller Coaster

Penulis adalah mahasiswa S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Airlangga. mempunyai motto "tidak ada keabadian kecuali perubahan"

Selanjutnya

Tutup

Media

Peradaban Kerohanian di UNAIR

26 Desember 2017   20:01 Diperbarui: 26 Desember 2017   21:10 0 0 0 Mohon Tunggu...

"Undang Undang Dasar menjamin kebebasan berpikir, kenapa? ya, melindungi semua. Itu hasil daripada tujuh abad lamanya kita (Indonesia) berpancasila tanpa nama yaitu yang dikenal dengan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua, wes gitu aja kog repot!" ini adalah quotes dari Almarhum Gus Dur untuk menafsirkan bagaimana negeri ini menjamin kebebasan (beragama) seluas-luasnya kepada setiap masyarakat di Indonesia. Penjaminan tersebut merupakan pengamalan dari nilai luhur nenek moyang yang terjaga dalam penyatuan budi dan daya kebhinekaan.

Penyatuan ini kemudian mendapat perlakuan dari setiap warga negara untuk hidup dalam keberagaman secara damai. Meski dalam peranannya masih terdapat kisruh maupun konflik-konfik sana-sini, namun 'kesadaran' akan berbangsa dan bernegara masih dipegang erat oleh setiap masyarakat di Indonesia. Ini tak lain adalah pengamalan dari wujud implementasi Pancasila dalam memberikan arah sekaligus wadah setiap masyarakat untuk berakar dalam membuat peradaban yang adil dan makmur sentosa. di setiap yang kita ketahui, Indonesia di masa kontemporer ini juga sedang dilanda radikalisme di kalangan pemudanya, ini tidak terlepas dari adanya gerakan ideologi transnasional dan terorisme yang mulai menggejala sejak masa Reformasi 1998 dimulai. Berangkat dari pada masa itu, kampus yang menjadi 'rumah intelektual' mulai dijadikan ajang pembentukan ideologi sekaligus pengkaderan untuk menarik mahasiswa potensial ke kelompoknya. Namun tidak semua kampus terhegemoni untuk mengikuti apalagi melakukan tindakan radikalisme tersebut. salah satunya adalah Universitas Airlangga. Yang sudah lama menyuarakan 'Mahasiswa Airlangga, Setia Pancasila' seperti yang pernah dideklarasikan di Rektorat kampus C Universitas Airlangga 5 Juni 2017 lalu.


Di Universitas Airlangga sendiri, telah diajarkan bagaimana setiap civitas akademika di didik secara penuh untuk mengamalkan Pancasila secara utuh. Mulai dari awal pengukuhan sampai wisuda telah terangkai pemahaman "Kebhinnekaan" pada setiap aktivitasnya. Ketika semester 1 melalui MKWU mahasiswa baru diajarkan materi wajib kenegaraan dan keagamaan seperti Pancasila, Kewarganegaraan dan keagamaan sesuai pemeluknya (Islam, Protestan, Katholik, Hindu, dan Budha). 

Disana mahasiswa baru diajak menyelami lebih mendalam bagaimana Pancasila itu termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari lewat kewarganegaraan dan keagamaan. Mahasiswa tersebut diajak bercengrama dengan cakrawala kebangsaan, diskusi dengan keragaman, sampai perdebatan yang berakhir dengan kecintaan akan Indonesia. Mahasiswa Universitas Airlangga yang telah mendapat bekal kecukupan mengenai wawasan kebangsaan kemudian diberi wadah khusus untuk mengembangkan pemahamannya lewat Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang telah disediakan Universitas Airlangga. Terdapat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Budha dan Hindu. dan kesemuanya juga menyebar di setiap fakultas dengan nama Sentra Kerohanian .

UKM/Sentra Kerohanian

Berada di dalam 'kawah candradimuka' Universitas Airlangga rasanya tidak pernah habis dalam menyelenggarakan kegiatan. Banyak kegiatan kerohanian yang diselenggarakan Universitas Airlangga mulai dari tingkat jurusan sampai universitas dan kegiatannya pun bisa dibilang bermacam-macam. seperti seni religi (islam) yang berulang kali mewakili Universitas Airlangga di ajang nasional yakni MTQ Nasional. Keseniannya meliputi musabaqal Tilawatil Qur'an, Tartil, Al-Banjari, dan Nasyid. Lewat hobi-hobi seni semacam ini, mahasiswa Airlangga yang memeluk agama islam akan senang karena secara tidak langsung mereka telah menyebarkan syi'ar di bumi Airlangga. 

Tidak hanya UKMKI, mahasiswa yg tergabung UKM Protestan dan Katholik pun turut ambil bagian kegiatan kemahasiswaan. Mereka berulang kali menyebarkan kebahagiaan dengan berkumpul dan beribadah bersama setiap waktu yang ditentukan. Kemudian UKM Budha dan Hindu secara aktif ikut dalam kegiatan-kegiatan di Student Center Universitas Airlangga. Mereka tiap tahun tidak pernah absen mengikuti Display UKM yang diadakan dalam rangkaian penyambutan mahasiswa baru yang biasa dikenal dengan Amerta Universitas Airlangga.

Dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan di UKM di tingkat Universitas dan Sentra Kerohanian di tingkat fakultas membuat mahasiswa Universitas Airlangga belajar organisasi sekaligus belajar keagamaan. keadaan seperti ini yang akan memperkuat mahasiswa Airlangga dalam mencapai cita-cita bersama, yakni masuk 500 besar Universitas dunia atau lebih dikenal dengan World Class University pada tahun 2019.

Sinergi dalam menyongsong World Class University

Mengutip perkataan Fisikawan Einstein, "science without religion is lame, religion without science is blind" atau jika diartikan pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa pengetahuan adalah buta. Jadi kalau disimpulkan agama dan pengetahuan itu saling berpadu, saling bersinergi untuk memformulasikan sebuah perabadan besar dalam kebaikan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2