Mohon tunggu...
Fariz Ilham Rosyidi
Fariz Ilham Rosyidi Mohon Tunggu... Penulis Roller Coaster

Penulis adalah mahasiswa S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Airlangga. mempunyai motto "tidak ada keabadian kecuali perubahan"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Retensi Sejarah Gerilya Wanara di Tengah Eksistensi Wana Wisata Sumber Boto Jombang

10 Desember 2017   11:15 Diperbarui: 10 Desember 2017   11:57 0 0 0 Mohon Tunggu...
Retensi Sejarah Gerilya Wanara di Tengah Eksistensi Wana Wisata Sumber Boto Jombang
sumber-boto-20-5a2cba01caf7db1f7657d432.jpg

Sumber Boto adalah nama sumber mata air dari 9 sumber mata air yang berada di bawah kaki gunung Asjasmara, terletak di Jalan Sumber Boto Dusun Tempuran Desa Japanan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Mata air sumber boto adalah sumber mata air terbesar dan dahulunya digunakan sebagai tempat pemandian oleh masyarakat setempat. Masyarakat setempat menggunakan sumber mata air itu untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Namun seiring berjalannya waktu, tepatnya setelah proklamasi 17 agustus 1945, ketika Belanda dan Sekutu mulai  menginvasi kembali wilayah Indonesia. Sumber Boto menjadi tempat Pergerakan Organisasi Angkatan Muda Kehutanan yang terdiri dari Korps Karyawan Kehutanan. Kemudian, pada tanggal 24 Agustus 1947 pergerakan itu resmi dibentuk dengan nama "Pasukan Wanara" di Sumber Boto Jombang, berjumlah 39 pasukan dan di komandoi pasukan kehutanan yang berada 1 devisi dibawah pimpinan Soedomo dan Soekiman. Pasukan Wanara sendiri telah mendapat pengesahan khusus oleh Panglima Besar Jendral Soedirman. Sehingga  Komando pasukan Wanara sendiri pusatnya di Jogjakarta dan basis pasukannya tersebar di hutan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Di Jawa Timur, Sumber Boto menjadi daerah Batalyon III yang berada di bawah pimpinan bapak Soejarwo selaku asisten direktur kehutanan saat itu.

Dalam menghadapi invasi dari Belanda dan Sekutu, para pasukan Wanara di Sumber Boto memanfaatkan sisa senjata peninggalan kolonial Jepang di Jombang dan sekitarnya, khususnya di daerah dekat Pabrik Gula (PG) Tjoekir yang dahulunya menjadi basis utama tentara Jepang ketika menginvasi Pondok Pesantren dan sumber gula tebu di Jombang. Selain itu Sumber Boto juga menyimpan banyak peninggalan senjata, terbukti dengan di temukannya bom seberat 500 kg di sungai Sumber Boto. Pasukan Wanara sendiri berusaha mencari senjata berupa bom, granat, dan peluru untuk diambil mesiunya kemudian di kumpulkan dan dirakit ulang menjadi sebuah senjata baru dengan alat seadanya. Ketika para pasukan Wanara mencoba merakit bom seberat 500 kg yang ditemukan di sungai tadi untuk diambil mesiunya dengan cara ditatah tiba-tiba bom itu meledak dan menggugurkan 5 pasukan Wanara yang antara lain ;

1. Alm. Soegondo, Komando Seksi 1. Dimakamkan di TMP Jombang

2. Alm. Kadjas, Komandan Regu Persenjataan. Dimakamkan di Desa Pinggir Kec, Lengkong Kab. Nganjuk

3. Alm. Djaudji, Anggota Regu Persenjataan. Dimakamkan di Desa Japanan Kec. Mojowarno Kab. Jombang

4. Alm. Soewadji, Anggota Regu Persenjataan. Dimakamkan di Desa Japanan Kec. Mojowarno Kab. Jombang

5. Alm. Tasdmidjan, Anggota Regu Persenjataan, Dimakamkan di Desa Brebek Kec. Brebek Kab. Nganjuk.

Alasan letak pemakaman dari ke 5 jenazah pasukan Wanara adalah karena permintaan keluarga, asal tempat, pejabat daerah setempat dan Pemerintah Kabupaten.

Beruntung bagi bapak Soejarwo selaku pimpinan batalyon III pasukan Wanara, karena letak beliau berjarak 15 meter dari posisi ledakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x