Mohon tunggu...
Farid Maruf
Farid Maruf Mohon Tunggu... Full-time Learner

Penikmat film. Tenaga kependidikan di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Tujuan Pendidikan, Budaya Kritis, dan Kemampuan Menemukan Pertanyaan

9 Oktober 2019   06:00 Diperbarui: 9 Oktober 2019   13:39 0 11 3 Mohon Tunggu...
Tujuan Pendidikan, Budaya Kritis, dan Kemampuan Menemukan Pertanyaan
Ilustrasi berpikir kritis (Sumber: www.techinasia.com)

Menjadi kritis, salah satunya adalah menjadi tahu pertanyaan apa yang seharusnya diajukan. Dalam konteks pendidikan tinggi, sifat kritis sudah seharusnya menjadi ciri khas. 

Dari sudut pandang seorang mahasiswa---saya, misalnya---meyakini bahwa salah satu kunci dari pemahaman terhadap keilmuan yang sedang saya tekuni adalah dengan menjadi kritis, yang berarti menjadi terbuka terhadap setiap kemungkinan pertanyaan yang berpotensi membawa saya kepada pemahaman yang utuh terhadap sebuah subjek kuliah.

Frasa "pertanyaan yang tepat" mungkin terkesan sebagai sesuatu yang subjektif, bahwa setiap orang memiliki minat, latar belakang, dan kondisi realitas yang berbeda, yang pada akhirnya menuntun mereka untuk mengajukan pertanyaan yang berbeda pula antara satu dan lainnya. 

Namun, jika kita bersedia untuk sepakat bahwa semua bidang ilmu sejatinya tidak datang dalam kotak-kotak, yang masing-masing dari kotak tersebut terlahir dari rahim pengalaman empiris yang secara dikotomi ditemukan satu-persatu; melainkan merupakan akibat dari kumpulan pengalaman hidup manusia di masa lalu, yang kemudian dibuat kotak-kotaknya (baca: disiplin ilmu) untuk kebutuhan pembangunan peradaban---maka kita akan segera sadar bahwa apa pun yang melatarbelakangi motif kita untuk mengajukan sebuah pertanyaan, semangat yang kita usung semestinya adalah sama: for mastery.

Sal Khan---pendiri Khan Academy yang merupakan sebuah organisasi edukasi non-profit penyedia platform pembelajaran online---dalam sebuah sesi di TED Talk pernah berbicara tentang Teaching for Mastery

Menurutnya, sistem pendidikan kita sekarang berorientasi pada seberapa jauh pemahaman seorang pelajar tentang sebuah subjek dalam kurun masa pembelajaran tertentu. 

Ketika tiba waktunya untuk melakukan evaluasi (baca: ujian/ulangan), kita lantas membuat standar kelulusan. Nilai yang di atas standar menjadi tiket bagi peserta didik untuk lanjut ke tahap pembelajaran berikutnya (baca: naik kelas). 

Sistem ini, menurut Sal, berpotensi membuat seorang pelajar hanya berfokus pada standar kelulusan yang telah ditetapkan, bukan pada penguasaan (mastery) atas semua subjek yang menjadi fondasi guna melanjutkan ke tahap selanjutnya. 

Jika standar kelulusan yang kita tetapkan adalah 75%, dan seorang peserta didik berhasil mencapai batas minimal tersebut, lantas dia lulus, maka 25% pelajaran yang tidak dikuasainya akan menjadi utang yang tidak akan pernah bisa dibayar, sebab di kelas berikutnya pembahasan yang dipelajari akan semakin kompleks dan menuntut penguasaan atas materi yang menjadi fondasi, yang 25%-nya belum dia kuasai. 

Sal mengajukan, bagaimana kalau sistemnya di balik? Kita harus mulai berorientasi pada berapa lama waktu yang diperlukan seorang pelajar untuk menguasai sebuah subjek pembelajaran. Jadi, fokusnya beralih kepada "penguasaan" ketimbang "kenaikan kelas".

Manakala kita sepakat bahwa sebagai makhluk pembelajar, kita memiliki kepentingan yang sama, yakni "penguasaan" terhadap subjek pembelajaran, niscaya kita akan sepakat pula bahwa pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan seharusnya dalam rangka memancing pemahaman yang kemudian menuntun kita kepada penguasaan, dan secara otomatis akan menafikan pertanyaan yang tidak menunjang tercapainya visi tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4