farid luthfi
farid luthfi

Mahasiswa ilmu politik Universitas Negeri Semarang. Alumni Ponpes Al Amin Purwokerto

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

PSIS Menuju Juara 1998/1999

14 Maret 2015   23:47 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:39 1870 0 2

Selepas dihentikannya LI IV bulan Mei 1998 dan krisis moneter yang melanda Indonesia membuat para petinggi PSIS saat itu menyatakan tidak sanggup membiayai tim untuk LI V 1998/1999. Namun pada akhirnya disepakati bahwa tim PSIS dengan ketua umum Soetrisno Soeharto yang juga walikota Semarang akan mengikuti Liga Indonesia edisi kelima tahun 1998/1999. Yang menarik dalam pembentukan manajemen PSIS musim ini adalah dengan dibentuknya tim eksekutif PSIS dengan tiga orang manajer yaitu Sudarmanto, ali purwo, dan Sutji Astoto sebagai sekum. Kemudian Edy Paryono terpilih sebagai pelatih dan Budiawan Hendratno sebagai asisten pelatih.

Dana yang pas-pasan untuk mengarungi kompetisi membuat seleksi terhadap pemain yang akan memperkuat PSIS tidak dilakukan dengan benar-benar terbuka. Meski begitu masuk nama-nama yang direkrut. Mereka diantaranya adalah I Komang Putra, Bonggo Pribadi, Agung Setyabudi, Wasis Purwoko, M Sholeh, Nugroho Adianto, Hadi Surento, Deftendi Yunianto, Imran Amirullah, Nova Arianto, Tugiyo, Supriono, Ari Sadewo, Susanto, dan sebagainya. Sedangkan dari pemain asing muncul tiga nama yaitu simon Atangana, Ally Shaha Ally, dan Ebanda Timothee. Namun ketiganya pun bukan merupakan pilihan Edy Paryono, ketiga pemain asing ini direkrut karena gaji yang ditawarkan lebih murah.

Liga Indonesia 1998/1999 diikuti 28 klub yang dibagi menjadi lima grup dimana masing-masing grup terdiri dari lima sampai enam tim. Tim “Mahesa Jenar” sendiri berada di grup IV bersama dengan Persebaya, Persema Malang, Barito Putera, dan Gelora Dewata (sekarang Deltras). Liga yang dibagi menjadi banyak grup dimungkinkan untuk menghemat biaya lantaran liga kali ini diadakan dalam suasana krisis dan tidak adanya sponsor yang masuk pasca tumbangnya Orde Baru.

PSIS Semarang mengarungi babak grup LI V dengan sederet persoalan. Diantaranya PSIS beberapa kali dirugikan wasit seperti dalam pertandingan melawan Barito Putera, kala itu PSIS kalah 1-0 melalui gol penalti kontroversial di menit akhir babak kedua. Namun pada akhirnya PSIS berhasil lolos ke babak 10 besar liga Indonesia (awalnya akan diadakan play off)sebelum PSIS memainkan laga kedelapan melawan Persema Malang.

Lolosnya PSIS ke babak 10 besar rupanya malah menambah persolan di kubu PSIS. Pada laga terakhir grup D melawan Persema Malang di stadion Lebak Bulus Jakarta, PSIS kalah 3-2 dari Persema yang hanya diperkuat 9 pemain. Saat itu bahkan berkembang rumor bahwa manajemen PSIS sendiri yang menginginkan PSIS kalah agar mereka tidak perlu memberi bonus kepada para pemain. Masalah lain adalah pendanaan, tim PSIS mengalami krisis keuangan menjelang bergulirnya babak 10 besar. Hal ini bahkan membuat beberapa pemain termasuk pemain asing PSIS mogok latihan. Pada drawing pembagian grup di Jakarta pun PSIS tidak hadir dan hanya diwakili seorang wartawan. PSIS sendiri tergabung dalam grup P bersama Persebaya, Persikota Tangerang, Semen Padang, dan Petrokimia Gresik.

PSIS yang mengalami krisis keuangan nyaris gagal berangkat ke Senayan. Namun para pemain PSIS nekad berangkat ke Jakarta dengan ongkos sendiri-sendiri. Sedangkan eksekutif PSIS dan ketua umum Soetrisno soeharto berusaha untuki mencari dana talangan untuk menopang PSIS dalam mengarungi kompetisi, bahkan pada pertandingan pertama babak 10 besar lawan Persikota Tangerang PSIS belum didampingi eksekutif. Terlepas dari persoalan yang ada, tekad pemain, ofisial, dan manajemen PSIS itu membawa berkah. PSIS lolos ke semifinal setelah menang 2-1 atas Persikota, 2-0 atas Petrokimia, dan imbang 2-2 dengan Semen Padang, kekalahan 3-0 atas Persebaya tidak berpengaruh karena pada saat itu PSISsudah pasti lolos ke semifinal. Hasil ini sebenarnya sangat mengejutkan karena PSIS sebanarnya tidak diunggulkan untuk lolos ke semifinal.

Dalam babak semifinal PSIS bertemu dengan Persija Jakarta yang merupakan juara grup Q. PSIS lagi-lagi tidak diunggulkan. Namun lagi-lagi PSIS berhasil menjungkir balikkan prediksi pengamat dan bursa taruhan dengan berhasi mengalahkan Persija Jakarta yang ditanagani Herry Kiswanto deng askor 1-0 gol tunggal kemenangan PSIS dicetak Ebanda Timothe pada menit 16. Sayang kemenangan itu harus dibayar dengan tewasnya 11 suporter PSIS karena tertabrak kereta api listrik di Manggarai dan sebagaian lain karena tersengat listrik.

Menjelang babak final situasi di Jakarta semakin panas sehingga tidak mendapat izin dari kaplda DKI Jakarta. Ktua Umum PSSI saat itu Agum Gumelar akhirnya memindahkan laga final ke stadion Kalabat Manado. Kedua finalis LI V dibawa ke Manado dengan pesawat hercules dan kembali ke jawa juga denga pesawat Hercules. Jadilah final ini dinamakan final hercules.

Pada pertandingan final LI V 1998/1999 yang dilaksanakan 9 April 1999, PSIS lagi-lagi tidak diunggulkan dan lagi-lagi mereka menjungkirbalikkan prediksi dan bursa taruhan. Menghadapi Persebaya Surabaya tim bertabur bintang yang juga juara bertahan, PSIS tampil alot sepanjang pertandingan. Hingga menit 85 Persebaya yang terus mengurung pertahanan PSIS belum juga mampu mencetak gol. Namun pada masa injury time PSIS justru mamou menjebol gawang PSIS melalui gol yang dicetak “Maradona dari Purwodadi” Tugiyo. Gol tercipta melalui umpan crossing dari kapten tim Ali Sunan yang diteruskan dengan sentuhan ebanda timothe ke kotak penalti. Tugiyo yang berdiri di sana langsung mrnyontek bola dan mengecoh kiper Hendro Kartiko. Sekitar 2000 suporter PSIS di stadion Klabat dan jutaan lain yang menyaksikan pertandingan di televisi bersorak sorai. Semenit berselang wasit Jajat Sudrajat meniup peluit panjang dan PSIS dipastikan sebagai juara mengulang sukses tahun 1987. Kemenangan PSIS kian lengkap setelah Ali sunan terpilih sebagai pemain terbaik. Seluruh Jawa Tengah berpesta menyambut keberhasilan PSIS memboyong piala presiden ke Semarang.

Hasil Pertandingan PSIS LI V 1998/1999

Babak grup

Gelora Dewata 1-1 PSIS

PSIS 0-0 Persebaya

Barito Putera 1-0 PSIS

PSIS 3-0 Persema

PSIS 2-0 Gelora Dewata

Persebaya 2-0 PSIS

PSIS 2-0 Barito Putera

Persema 3-2 PSIS

Babak 10 besar

Persikota 1-2 PSIS

PSIS 2-0 Petrokimia Putra

PSIS 2-2 Semen Padang

Persebaya 3-0 PSIS

Semifinal

Persija 0-1 PSIS

Final

PSIS 1-0 Persebaya

Pencetak gol

7 gol: Tugiyo

3 gol: Ally Shaha Ally

2 gol: M Sholeh, Ebanda Timothe

1 gol: Imran Amirullah, Ali Sunan, Hadi Surento, Supriono