Mohon tunggu...
Farida NovitaRahmah
Farida NovitaRahmah Mohon Tunggu... Mahasiswa

Hi, salam, aku Farida Novita Rahmah. Orang memanggilku Farida atau Vita. Aku lahir di Gresik, kota dengan segala sejarah Islamnya. Tahun ini, aku menempuh semester lima di UIN Surabaya jurusan Sejarah Peradaban Islam. Sambil kuliah, aku mondok di PPP. Annuriyah. Temukan aku di FB dengan nama akun Farida Novita Syam.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Refleksi Sejarah Hijrah Nabi: Merawat Toleransi

1 September 2019   16:52 Diperbarui: 1 September 2019   16:56 281 2 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Refleksi Sejarah Hijrah Nabi: Merawat Toleransi
Sumber gambar: @moroccan_travel

Hijrah---kata yang populer itu dapat ditarik dari sejarah peristiwa migrasi Nabi Muhammad dari Mekkah menuju Madinah untuk tetap menghidupkan dakwah beliau. 

Hijrah ke Madinah, yang sebelumnya beberapa muslimin telah behijrah ke Habasyah, dilakukan setelah kaum muslimin mendapat berbagai tindakan kriminal, ketidak-adilan, hingga pemboikotan laju ekonomi dari beberapa penguasa Mekkah

Kini, makna hijrah telah akrab bergeser menjadi perubahan diri menuju lebih baik, dari yang sebelumnya jauh dari agama menjadi semangat beragama, atau bahkan hanya dimaknai sekedar perubahan pakaian dan penampilan.

Kembali ke 1400an tahun yang lalu, dalam kitab sejarah Nabi yang fenomenal, Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum yang ditulis oleh Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, ketika lelaki mulia itu hendak menuju Madinah dengan segala rintangannya, terbitlah sosok-sosok penting yang menyokong kesuksesan hijrah beliau.

Mereka adalah Abu Bakr Ash-Shidiq yang berperan menemani Nabi, Ali bin Abi Thalib berperan sebagai 'duplikat' Nabi yang berkemul di ranjang beliau guna mengelabui musuh.

Asma' binti Abu Bakar sebagai pemasok pangan saat Nabi Muhammad dan Abu Bakr Ash-Shidiq bersembunyi di gua, Abdullah bin Abu Bakar bertugas sebagai pemberi kabar tentang pergerakan musuh, Amir bin Fuhairah bertugas menghilangkan jejak-jejak Nabi Muhammad dan Abu Bakr, dan Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan.

Abdullah bin Uraiqith, siapa beliau? Saya agak kaget ketika dosen Studi Teks Arab saya mengatakan bahwa Abdullah bin Uraiqith adalah seorang nonmuslim. Kita mungkin jarang mengingatnya, atau bahkan tak mengenalnya. 

Saya sendiri, saat ujian lisan, ketika ditanya tentang sosok Abdullah bin Uraiqith, tak bisa menjawab karena luput saya pelajari sebelumnya---untuk tidak mengatakan, melupakan karena menganggap tak penting.

Adalah Abdullah bin Uraiqith, bertugas menunjukkan jalan yang tidak biasa dilewati orang ketika hendak menuju Madinah. Strategi itu dilakukan agar aman dari intaian musuh. Nabi Muhammad mengupah Abdullah bin Uraiqith untuk memanfaatkan jasanya melihat pada potensi yang dimilikinya.

Bayangkan, ketika itu, pembesar Mekkah yang amat memusuhi Nabi shallahu 'alaihi wa sallam telah menawarkan 1000 unta sebagai hadiah bagi yang berhasil menangkap Muhammad baik hidup atau mati! 

Bisa saja Abdullah bin Uraiqith yang notabene nonmuslim berkhianat pada Nabi Muhammad karena tergiur dengan hadiah tersebut walau telah diupah oleh beliau. Namun antara Nabi Muhammad dan Abdullah bin Uraiqith telah tumbuh rasa saling percaya tanpa menyoalkan kepercayaan agama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN