Humaniora

Saat "Gadget" Menjadi Raja

14 Februari 2018   21:17 Diperbarui: 14 Februari 2018   22:15 871 1 1

Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Yah, gadget. Teknologi komunikasi kini telah berkembang pesat sehingga banyak mempengaruhi dan mengubah pola pikir perilaku masyarakat. Banyak dampak positif yang didapatkan dari teknologi ini, tapi tak jarang juga menimbulkan persoalan dan masalah dari tingkat yang rendah sampai kepada tingkat persoalan yang besar dan rumit. Salah satu contohnya adalah renggangnya dan ketidak harmonisannya hubungan, entah itu hubungan pertemanan, persahabatan, bahkan sampai pada hubungan keluarga.

            Seperti yang dapat kita lihat dan kita rasakan dewasa ini, tanpa kita sadari gadget telah menjajah dunia kita. Pribadi yang saya rasakan sendiri sebagai seorang remaja, gadget telah merampas waktu kebersamaan saya dengan rekan saya. Bagaimana tidak, anda pasti tahu kan bagaimana susahnya mengumpulkan teman-teman yang dulu pernah bermain bersama dan yang kini sudah jauh entah kemana dan apa kabarnya ?. Teman yang dulu dekat dan kini jauh entah karena mengejar cita-cita, bekerja, ataupun sudah menikah dan berumah tangga ?. Susah bukan ?. 

Dan ketika sudah berusaha dengan susah paya untuk mengumpulkan mereka semua, yah you know lah apa yang terjadi ? generasi merunduk. Bukannya senang saling bertegur sapa, ngobrol, melepas rindu, mereka malah asyik dengan benda yang bernama gadget ditangan mereka masing-masing. Apa kabar hati ? yang katanya rindu dan ingin bertemu, yang katanya igin bertatap muka dan bercerita, namun pertemuanpun jadi sia-sia. Tanpa kita sadari dari hal tersebut etika dan moral kita telah terjajah, kita mulai asyik sendiri tanpa menghargai dan menghormati orang yang ada disekeliling kita.

            Dan lebih parahnya lagi gadget juga dapat merusak hubungan dan keharmonisan dalam keluarga. Beberapa hari lalu telah beredar video anak kecil yang ketika ditannya ingin menjadi apa, tanpa disangka-sangka ia menjawab ingin menjadi gadget atau yang sering disebut dengan hp. Mengapa begitu ? karena dia merasa tidak dihiraukan dan tidak diperhatikan oleh orang tuannya. Ayah dan ibunya lebih sering bermain hp ketimbang bermain dengannya. 

Dia ingin menjadi hp karena ketika hpya berbunyi ibunya selalu cepat menjawabnya, dan ketika ia yang memanggil, ibunnya tidak pernah menjawabnya. Ayahnya selalu bermain dengan hp dan tidak pernah mau bermain dengannnya. Ketika ibunya bermain hp ibunya sering lupa kalau dia belum makan dan belum mandi. Dan ketika tidur ayahnya selalu membawa hp disampinnya dan dia tidak pernah ditemani tidur oleh ayahnya. Dan lebih parahnya lagi, ia ingin menjadi seperti hp karena ingin selalu dekat dengan ayah dan ibunya.

            Nah, dari situ dapat kita menarik kesimpulan bahwasannya kita telah dijajah oleh teknologi. Jangan biarkan teknologi menghancurkan hidup kita. Jadilah pengguna teknologi yang baik dan bijak. Sebenarnnya baik buruknya sesuatu tergantung bagaimana cara kita menggunakan dan menyikapinya. Be a smart user, don't be a loose.