Mohon tunggu...
Farhan Ali
Farhan Ali Mohon Tunggu... Mahasiswa - Berliterasi, Bersama.

Gelora berliterasi

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Mengenang Kembali Deretan Karya Terbaik Sastrawan Besar Budi Darma

20 September 2021   23:24 Diperbarui: 21 September 2021   01:06 49 1 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Mengenang Kembali Deretan Karya Terbaik Sastrawan Besar Budi Darma
Dok Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya

Tepat pada Sabtu,  21 Agustus 2021,  Sosok panutan Budi Darma yang kita kenal selama ini telah menghembuskan napas terakhir. Mendiang Budi Darma merupakan salah seorang Maestro Sastra Indonesia yang sangat berjasa pada Kehidupan Sastra. 

Sudah banyak karya sastra yang beliau terbitkan dimana karya-karya sastra tersebut menjadi sangat populer tidak hanya di Indonesia, melainkan hingga ke mancanegara.

Deretan karya novel yang ditulis oleh Budi Darma di antaranya ialah Olenka  (1983), Ny. Talis (1966) dan Rafilus (1988), Tidak ketinggalan juga kumpulan cerita pendekknya Orang-orang Bloomington (1980).  

Tidak hanya itu, beliau juga telah menerbitkan sejumlah karya esai, seperti Solilokui (1983), Harmonium (1996), dan Foto dan Senggring (2005).

Disamping sebagai sastrawan, Budi Darma juga ikut mengabdikan hidupnya sebagai akademisi. Beliau pernah menjabat sebagai rektor Institut Keguruan dan dan Ilmu Pendidikan IKIP Surabaya, yang telah berganti nama menjadi UNESA (Universitas Negeri Surabaya) pada tahun 1984. 

Sebelum berpulang, Beliau terakhir kali menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa). 

Tentu banyak yang merasa kehilangan setelah mendengar kabar duka almarhum Budi Darma yang telah tiada, Tak hanya dari keluarga besar dan segenap civitas akademika Unesa saja namun juga memberikan duka mendalam bagi dunia sastra Indonesia.

Dalam rangka mengenang sosok hebat mendiang Budi Darma dan hasil pemikiran beliau yang di tuangkan dalam berbagai karya sastra, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNESA berkesempatan untuk mengehelat Simposium Nasional dengan tajuk Menuju Teori Sastra ‘Dunia Jungkir Balik’ Budi Darma. 

Acara yang di selenggarakan pada Selasa, 14 September 2021 tersebut mengambil tempat secara daring melalui online conference yaitu Zoom meeting  dengan diikuti oleh sekitar 300 lebih peserta dari berbagai wilayah di Indonesia serta di tayangkan secara langsung melalui kanal youtube milik Unesa. 

Acara tersebut ikut menghadirkan 16 narasumber yang kompeten dalam bidang sastra dimana mereka turut saling bertukar pikiran dan gagasan dengan peserta yang hadir mengenai karya-karya sastra yang diterbitkan oleh mendiang Budi Darma khususnya yang berkaitan dengan teori jungkir balik itu sendiri.  

Sesi pertama pada acara tersebut disampaikan oleh Prof.Faruk HT, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Ia menjelaskan sebuah contoh kasus yang terdapat dalam novel ‘Olenka’ dan ‘Rafilus' dimana ia  menegaskan bahwa Budi Darma bicara tentang satelit-satelit yang membangun cerita sendiri.  

Sama halnya dengan tugas kita sebagai peserta yang hadir dalam acara tersebut. Kita semua diberi inspirasi untuk bergerak seperti Budi Darma,teladan yang baik itu. 

Serta kita juga di dorong untuk bertindak. Dalam hal ini, yang menjadi pertanyaan kita pada Prof. Faruk adalah:  Apa idealisme yang ditawarkan oleh Budi Darma dengan mencampurkan tragedi dan komedi melalui tokoh-tokoh yang konyol itu?


Menulis Sungguh-sunguh dan Menulis pura-pura

....tidak perlu mengkonsepkan dulu apa temanya, bagaimana alurnya, bagaimana penokohannya, dan tetek bengek lainnya (Darma, 1983: 87-8).

Materi kedua dilanjutkan Seno Gumira Ajidarma, penulis dan Ilmuwan sastra Indonesia.  Melalui pendekatan yang sangat baik dari Seno yaitu mengutamakan kedalaman - berpancar dari otak. Dapat diibaratkan sebagai "Kalau mau kaya saya jangan hanya demi kejutan."

Prof. Budi Darma merupakan penulis yang merdeka nan bertalenta. Karena inspirasi itu sejatinya munculnya kapan saja, dan tidak terikat oleh apapun. 

Beliau pernah mengatakan, kalau ingin menjadi penulis sukses, jangan menulis untuk atau karena uang. Pesan tersebutlah yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk para penulis di luar sana.


Sastra Sebagai Medan Intelektualitas

Kemampuan intelektual merupakan salah satu syarat yang penting untuk menjadi penulis yang baik.

Materi selanjutnya disambung oleh Okky madasari, seorang pengarang Indonesia. Menurut Oky terdapat 3 rumusan tentang krtitik yang ia buat, yaitu Budi Darma cenderung menempatkan makna intelektualisme sebatas kemampuan abstraksi dan berpikir, Intelektual bagi Budi Darma adalah mereka yang mampu berpikir dalam tataran abstraksi, dan Budi Darma tidak melihat keterlibatan dalam masalah mayarakat sebagai bagian dari kerja intelektual. 

Kesimpulan Okky sendiri ialah mengenang dengan mengkritisi, menginterprtasi ulang tidak dengan mengkultuskan Budi Darma.  Satu kata kunci penting dari Pak Budi sejak dulu adalah karya sastra atau karya seorang penulis "bukan medan narsisme diri sendiri".Lalu, pertanyaannya adalah apakah Pak Budi Darma memberikan tip-tip bagaimana kita bisa meningkatkan intelektualitas kita?

Pada akhir sesi pertama acara simposium tersebut, Dr. Suyatno, menyampaikan sebuah materi yang tidak kalah menarik dimana terdapat empat jenis karya mainstream, yaitu Menarik Benang Merah Karya Besar, Totalitas dan Maksimal Berproses Kreatif, Cara Lain dan Gagasan Lain sebagai Pembeda, Tidak Sekadar Deskriptif Melainkan Preskriptif. 

Sejatinya Budi Darma mengharap kita bisa memanfaatkan sastra secara optimal.  Jadi kreativitas dimainkan dengan sebaik-baiknya. 

Dalam dunia sastra Indonesia sendiri terdapat banyak jenis aliran sastra yang berbeda-beda sehingga dapat di simpulkan jasa terbesar Budi Darma adalah menghapus kotak-kotak sastra dan bukan sastra .

Terdapat sejumlah narasumber lain yang juga ikut hadir dalam simposium tersebut diantaranya Akmal Nasery Basral, M. Shoim Anwar, Triyanto Triwikromo, Tengsoe Tjahjono, Wahyudi Siswanto, Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, Eka Budianta, Much. Khoiri, Tommy F. Awuy, Hafiz Rancajale, I Wayan Kun Adnyana, Djuli Djatiprambudi. Prof. Budi Darma sebagai sastrawan besar telah selesai dengan sendirinya. 

Oleh karena itu, Beliau bisa dengan merdeka dan tajam (liar) menulis apa yang Beliau lihat, pikir, dan rasakan. Beliau menulis untuk menulis itu sendiri, bukan untuk atribut lainnya. Atribut, apresiasi yang Beliau terima adalah apresiasi atas karya-karyanya.

Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan