Mohon tunggu...
Fareh Hariyanto
Fareh Hariyanto Mohon Tunggu... Mahasiswa Klasik

Sedang menempa kanuragan di Jurusan Ahwalusasyhiah IAI Ibrahimy Genteng Bumi Blambangan Banyuwangi

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Artikel Utama

Berebut Lahan di Jalur Pedestrian

14 November 2019   01:11 Diperbarui: 15 November 2019   03:45 0 2 1 Mohon Tunggu...
Berebut Lahan di Jalur Pedestrian
ilustrasi pedestrian. (sumber: kompas)

Baru-baru ini Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di jalur pejalan kaki kawasan Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi akan dipindah akhir bulan ini. Namun pemindahan tersebut banyak menuai protes dari para PKL meski secara aturan tindakan pedagan itu melanggar.

Tak puas dengan upaya penertiban PKL tersebut, para pedagang yang mengatasnamakan Forum Pedagang Kaki Lima Rogojampi (FPKLR) juga kembali mendatangi Kantor Kecamatan untuk menanyakan kejelasan relokasi pedagang.

Mengutip Radar Banyuwangi edisi Jum'at 1 November 2019, Camat Rogojampi, Nanik Machrufi menegaskan, aturan tersebut diberlakukan untuk para pedagang agar mematuhi Peraturan Daerah (Perda) yang telah disahkan oleh Bupati Banyuwangi.

Perda Kabupaten Banyuwangi Nomor 11 tahun 2014 tentang Ketertiban Umum dan Ketertiban Masyarakat memang mangatur ihwal larangan tersebut. Sacara tersirat hal itu termaktub dalam pasal 16 poin b, dimana pedagang dilarang memanfaatkan trotoar, bagian jalan atau halte untuk tempat berdagang.

Tak hanya larangan berdagang saja, Pasal 16 poin b juga mengatur tentang larangan memanfaatkan trotoar untuk meletakan barang dagangan sehingga mengganggu pedestrian. Nah poin ini yang justru kadang luput dari pemangku kepentingan untuk melakukan tindakan.

Mengingat tak sedikit aturan pelarangan yang berlaku hanya berfokus pada PKL saja. Sedangkan pemilik toko-toko besar yang lokasinya bersinggungan langsung dengan jalur pedestrian seperti luput dari tindakan. Sebut saja kawasan disepanjang Jalan Gajahmada Genteng Banyuwangi.

Berdasarkan pengamatan penulis, jalur yang seharusnya digunakan untuk pedestrian malah beralih fungsi jadi lapak dagangan dan tempat menaruh barang pemilik toko.

Dampak yang ditimbulkan, meski jalur yang disediakan cukup ramah bagi disabilitas. Namun realitasnya hal tersebut justru tak bisa dimanfaatkan semestinya.

Pedagang Kaki Lima (PKL) menggeser lapak dagangannya agar tak mengganggu pedestrian. (Foto. Radar Banyuwangi)
Pedagang Kaki Lima (PKL) menggeser lapak dagangannya agar tak mengganggu pedestrian. (Foto. Radar Banyuwangi)
Alih Fungsi Jalur

Tidak hanya itu saja, tidak sedikit pula penulis menemukan alih fungsi jalur pedestrian dengan merubah bentuk yang digunakan untuk mengambil manfaat.

Seperti yang terjadi di Jalan Letkol Istiqlah Banyuwangi, dimana gerai ritail berjaringan merubah bentuk trotoar untuk memudahkan pengunjungnya meletakan kendaraan.

Padahal pada aturan yang sama diatas pasal 16 poin c merubah atau membongkar trotoar untuk keperluan pribadi juga memiliki landasan hukum untuk tidak ditindak. Nahasnya fokus pada PKL saja menjadikan pelanggaran yang pada dasarnya melawan aturan justru malah seperti didiamkan.

Hasilnya, di pusat-pusat keramaian tiap kecamatan sebut saja Rogojampi, Genteng, Gambiran dan wilayah lainnya, mafhum dijumpai adanya pelanggaran tersebut. Hal ini terlihat dari masifnya upaya pemanfaatan jalur tersebut untuk dikelola yang ironisnya malah justru merugikam pejalan kaki.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN