Mohon tunggu...
Fardhie Hantary
Fardhie Hantary Mohon Tunggu...

Aqal tanpa ilmu bisa liar, Ilmu tanpa Furqon menjadi nakal, Balutlah dirimu dengan Taqwa, Landasi hidup hanya dengan hidayah dari Robbmu. \r\n© http://www.fardhie.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Ideologi Ketuhanan

8 Juli 2015   09:26 Diperbarui: 17 Januari 2016   05:52 0 5 8 Mohon Tunggu...

IDEOLOGI KETUHANAN

Sebelum masuk pada tema atau pokok bahasan perlu penulis menggaris bawahi kata yang dipakai dalam judul atau topikalisasi: Ideologi yang menjadi Premis dasar pemikiran atau landasan untuk mengambil kesimpulan/pemahaman. Mengapa penulis lebih memilih kata Ideologi ketimbang Konsep?. Sebab hal yang dibicarakan menyangkut substansial/metafisik yaitu Tuhan. Tentu tidak relevan bila menggunakan kata konsep, sebab konsep yang tadinya hanya boleh atau milik sesuatu yang berhubungan dengan material/fisik.

Seperti lazimnya ketika kita ingin mendirikan atau membentuk sebuah bangunan maka kata konsep yang diperlukan ataupun yang tepat dalam pemakaian. Biasanya kata konsep dipakai ketika ada perencanaan atau kerjaan. Kita tidak sedang mengerjai Tuhan, kita tidak lagi merancang dan merencanakan Tuhan. Oleh sebab itu penulis lebih memilih kata Ideologi yang tepat untuk digunakan dalam bahasan ini.

Bila kita bicara atau membahas yang menyangkut dan berhubungan dengan Ketuhanan maka tidak bisa dilepas dari dasar pemikiran atau landasan awal dalam mengambil sebuah kesimpulan: Pertama yang perlu dijadikan acuan adalah manusia, keberadaannya atau law of nature, kemudian Tuhan sebagai objek bahasan yang wujud dan zat-Nya berbeda dengan apa dan siapapun, yang nantinya dasar pemikiran atau premis tersebut haruslah bisa dibuktikan setidaknya mendekati atau tidak melanggar aturan yang ada. Kata mendekati ini penulis menggunakannya sebab yang akan dibahas adalah sesuatu yang diluar jangkauan dan tak terbatas oleh pemikiran manusia, itulah sebabnya kata mendekati saya pakai, namun juga perlu untuk digaris bawahi dengan tidak keluar dari aturan maksudnya adalah keterkaitan atau relevansi manusia dengan keadaannya atau alam semesta.

Kita ambil sebuat plot untuk memulai: “Wujud, Esensi dan Keberadaan sesuatu, seperti contoh “Wujud manusia tidak berubah menjadi monyet, atau sebaliknya”. Langit berubah menjadi bumi. Wujud manusia atau kesempurnaan wujud tentu membutuhkan prosesnya masing-masing namun tidak lari dari aturan atau porsi seperti ulat berubah menjadi kepompong kesempurnaan wujudnya adalah kupu-kupu, bukan burung. Larva berubah menjadi Nyamuk bukan Ayam, sebab memang itulah proses kupu-kupu dan nyamuk tentu berbeda dengan proses manusia.

Inilah yang saya sebut tidak bertentangan dengan aturan, keberadaan atau law of nature. Maka semua aturan ini yang melandasi pemikiran awal seorang manusia ketika dia ingin mengenal dan memahami Tuhannya. Ketika kita tidak melandasi pemikiran kita tentu akan sangat-sangat berpotensi keluar dan lari dari aturan/porsi yang sedang dibahas. Seperti contoh kalimat yang keluar dari dasar pemikiran: “Tidak ada habis-habisnya” “Tidak akan pernah selesai”. Ini kalimat terpaksa dikeluarkan sebab sudah melebar atau meluas dan lari dari aturan atau sudah melanggar empiris dan logika berfikir. Sementara kehidupan punya ruang demi membatasi segala sesuatu yang berada didalam ruangan tersebut. Maka tidak perlu dan memang tidak berguna mengeluarkan kalimat “Tidak ada habis-habisnya” “Tidak akan pernah selesai” sementara kita mau dan sepakat harus menyelesaikan setidaknya menuntaskan sesuatu yang menjadi ganjalan, pertanyaan dan persoalan dalam setiap kehidupan yang kita lalui apapun itu.

Ini sering terjadi dalam kehidupan manusia disebabkan sesuatu hal tersebut sudah tak lagi bisa dicerna dan dimengerti oleh setiap individu. Keterpaksaan dan Dogmalah yang akhirnya bicara ketika segala sesuatu keluar dari aturan dan empiris. Lagi-lagi tidak porsional dan proporsional, konon kita sebagai manusia mengatakan lebih baik dari “animal”. Maka dimana lagi bedanya manusia dengan binatang ketika semuanya menjadikan cara dan jalan an’aam sebagai landasan kehidupan manusia, apalagi sampai tak berfikir selayaknya manusia yang memiliki daya nalar dan pemikiran bahkan kesadaran (shudur) diatas rata-rata makhluk lainnya. Bebas adalah kodrat binatang (an’aam) bukan manusia (naas), bebas tidak mungkin andaipun kita memaksa untuk digunakan kedalam kehidupan (banyak contoh akibat saking bebasnya). Freedom hanyalah milik Bangsa yang manusianya adalah makhluk bermoral. Freedom bila dikatakan kebebasan harus ada lanjutannya tidak bisa berhenti, bebas dari kemiskinan, bebas dari keterjajahan, bebas dari keterpaksaan, bukan bebas sebebas-bebasnya tanpa aturan.

Jangan dilepaskan teks dan konteks dalam setiap kalimat dan perkataan maupun pokok pembahasan. Ketika kita keluar dan lari dari aturan maka, batal dan tak layak dikatakan manusia apalagi untuk membicarakan dan membahas Tuhan.

Kita sering melihat dan mendengar forum diskusi digelar mulai dari pembahasan seputar Keagamaan sampai Ketuhanan, namun semuanya tidak mengarah pada satu titik karena’ memang bukan untuk bermaksud menyatukan titik-titik tersebut, apalagi sampai menyamakan ideologi, walaupun diskusi sebenarnya bisa menemukan titik bahkan bisa menyatukan ideologi andai kita semua berani menerima dengan lapang dada jujur tanpa meronta. Setiap kita pasti merasa memiliki prinsip dan cara berfikir, namun bukan berarti sesuka dan semau kita untuk berfikir, ada syarat dan ketentuan yang harus terpenuhi, ada step dan proses yang mesti dilewati untuk fikiran tersebut bisa menjadi prinsip dan pemahaman.

Tidak guna adu argument atau berdebat dengan bermain kata-kata menutupi kesalahan dan membutakan hati hingga melupakan empiris berperan penting dalam diskusi tersebut. Selayaknya setiap individu bertanya pada dirinya apa hal yang akan dibahas dan yang akan menjadi topikalisasi, sebelum mengambil dan memutuskan, sebelum menjadi prinsip dan keyakinan agar tidak ada keragu-raguan yang membuat bingung dan tersesat. Saya akan ambil sebuah contoh sebelum Tuhan dijadikan pembahasan/topikalisasi.

Saya mulai dari: “Siapakah Tuhan” “Mengapa dikatakan Tuhan” “Apa dan bagaimana Tuhan”.  Jawabanya jangan pernah keluar atau melebar dari aturan pembahasan. Ideologi Ketuhanan bukanlah Ideologi kemakhlukan dan bukan jawaban yang menimbulkan pertanyaan. Jawaban tegas, jelas, lugas bahkan tuntas sesuai subjectnya, tidak menambah dan mengurangi. Tuhan adalah.....(versi penulis subject Yang Me…) bukan yang di…. Titik-titik tersebut saya contohkan dengan cipta, kuasa, awal akhir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x