Mohon tunggu...
Fardhie Hantary
Fardhie Hantary Mohon Tunggu... Neo Sufism

Aqal tanpa ilmu bisa liar, Ilmu tanpa Furqon menjadi nakal, Balutlah dirimu dengan Taqwa, Landasi hidup hanya dengan hidayah dari Robbmu. © Fardhie.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kebohongan Terbalut Penampilan

21 Maret 2014   20:55 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:39 49 0 0 Mohon Tunggu...

Budaya menjadi penutupnya, pengakuan dunia menjadi sandarannya, tradisi yang semu penuh basa-basi menjadi suguhan disetiap kehidupan yang dilaluinya. membodohi diri sendiri dan orang yang melihatnya seakan berjalan tanpa rasa malu dan kesadaran akan setiap perkataan dan tindakannya. Matanya sudah tertutup dari pandangan nilai-nilai fitrah sebagai makhluk ciptaan, Pendengarannya tersamarkan dari penglihatan dan pengamatan Rakib dan Atit/Yamin dan Syimal (QS Qaaf ayat 16-19=إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ-مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ=ketika dua sosok malaikat Yamin dan Syimal mencatat segala amalnya, apapun yang diucapkannya akan ada yang selalu mengawasinya) Pikirannya sudah terancui budaya dan tradisi dunia fana yang dibuatnya sendiri bersama orang-orang yang melupakan asal-usulnya sebagai manusia(QS Al Mu'minuun ayat 115=أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ=apakah kamu mengira Allah menciptakanmu utk bermain-main? dan takkan kembali pada-Nya?) bukan Adam dan Hawa yang dia jadikan panutannya sebagai manusia pertama/khalifah yang membawa ajaran samawat, dan mengenalkan budaya samawat(Islam) yang bersumber dari Sang Maha Aku yang memiliki kekuasaan mutlak diatas segalanya(Allah). Hai bani Adam sadarlah, kemana rasa malumu, dan balutlah dirimu dengan pakaian Takwamu(QS Al A'raaf ayat 26=لِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ=pakaian takwa itulah sebaik-baiknya pakaian), Imanmu, dan Ilmu yang kau pelajari dari petunjuk hidup dan kehidupan manusia(Kitabullah). Cerminkanlah dalam setiap gerak kehidupanmu Sunnah para Rosul-Rosul Allah bukan menusia yang memecah belahkan(QS Ar Ruum ayat 31-32) dari satu Nabi ke Nabi lain, bukan manusia yang menutupi dan membelokan ajaran dan agama menjadi berbeda-beda, bukan pula al kitab(merubah Taurat, Zabur dan Injil) yang dibuat oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Berhentilah dari permainanmu, sadarlah dari kebodohanmu, jangan kau jadikan agamamu itu mainan(QS Al An'aam ayat 70), bermainlah diduniamu ditempat yang semestinya, bukan dalam dakwah, bukan dalam menyampaikan ayat, bukan juga di Tuhanmu, sebab yang tersebut diatas bukan tempat bermain, bukan ajang permainan(QS At Taubah ayat 65), ketika semua manusia menganggap perkataan dan gurauannya hanya sekedar, maka ketika itulah dia sudah terbawa kedalam zhulumat(kegelapan) yang kegelapan tersebut tak disadarinya, disaat semua kita memaklumi gurauan yang terus menerus, disaat perkataan ataupun ucapan yang tanpa ilmu bisa dimaklumi, itulah ciri dari ke Jahiliyahan yang sudah mendarah daging dan menjadi budaya, menganggap semua perbuatan yang sebenarnya tak disadarinya, bahwa dia telah membohongi dan membodohi diri sendiri. Inilah kondisi dunia saat ini, memperlihatkan kesuksesan dalam penilaian yang kerdil dan salah, sebab ditentukan dan disandarkan berdasarkan material, fisik dan jabatan semata(QS Asy Syu'araa' ayat 128-135). Tradisi budaya moderenisasi dijadikan ajang tanding keberhasilan, tekhnologi cangih yang selalu dianggarkan, kekejaman dan penyiksaan sudah dianggap konsekwensi hidup, "Maka inilah ciri manusia yang sudah sesat dan menyesatkan, inilah ciri penghuni nereka, inilah akibat ilmu sudah digantikan, ini gambaran manusia yang mencoba mengendalikan dan mengantikan hukum alam/sunnatullah. Betapa sudah kelirunya manusia saat ini, ilmu yang merupakan wibawa/kharisma/nama besar manusia sudah terlupakan dan tergantikan, ilmu yang semula menjadi penilaian profesioanalisme seseorang berganti wujud menjadi materi dan pengakuan dunia(QS Al Hajj ayat 3 dan Surat Luqman ayat 6). Banyak diantara kita melupakan betapa pentingnya sebuah ilmu yang sudah jadi pengalaman atau sebaliknya pengalaman yang menjadikan ilmu(QS Yusuf ayat 3) yang ilmu itu bersumber dari petunjuk yang jelas, petunjuk yang membimbing Sang Hataman Nabiyin menjadi sosok yang berahklak mulia dan berilmu, tidak lain tidak bukan ialah Al Quran, Kitabullah yang sudah dia titipkan untuk umatnya agar selalu mempelajari,memperdalam dan mencari sumber ilmu lewat Kitab tersebut. Ketidak tahuan bukan menjadi alasan untuk mau mempelajari, keterbatasan jangan dijadikan kambing hitam. Bila para ulama/ahli tafsir saja bisa mempelajarinya, tentu kita juga bisa jika memang kita mengingininya apalagi saat ini sudah banyak buku panduan, system dan cara mempelajari Al Quran lafazh per lafazh ta'rif per ta'rif dan kalimat per kalimat(Ilmu Nahwu,Balagho dan Mantik). "Bayangkan kitika seseorang yang sedang sakit giginya harus berobat kepada dokter yang salah atau tidak berilmu didalam bidangnya" sakit gigi kok kedoktor kandungan". Selanjutnya akan datang hidayah/petunjuk/bimbingan yang memandu untuk beraktifitas, berkata, dan beramal, maka inilah manusia yang memilki tanggung jawab. Hal tersebut sudah wajib dimiliki seorang manusia apalagi dia adalah Pemimpin, Imam, Pendakwah dan Tokoh umat, sebab jika hal yang menjadi wajib tersebut tidak dimiliki oleh mereka pastilah akhirnya bisa mengarah pada sesuatu yang salah dan menyimpang dari yang semestinya/selayaknya dan sepantasnya. Inilah kondisi umat manusia saat ini, inilah kenyataan dunia yang konon katanya moderenisasi dan maju tapi melupakan asal-usulnya, menanggalkan nilai-nilai hassanah sebagai budaya kehidupan, melepaskan diri dari sejarah munculnya peradaban manusia dibumi, menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya kosong seakan berisi, sesuatu yang dibuat-buat dengan tatanan panggung seakan menjadi nyata. Mengatakan yang belum dibuktikan lewat hidupnya menjadi sebuah pengalaman kemudian mengkemasnya menjadi seakan-akan itulah kebanaran, itulah kenyatan dan itulah yang harus dicontoh semua orang. Tidak jadi ukuran orang yang bisa tampil/show time seakan dia seperti penampilannya, Tidak menjadi tolak ukur orang yang pintar bicara dan mampu mengkemas kata seolah dia benar dan itulah kebenaran(QS Al Maa'idah ayat 41). Sebab kebenaran hanya datang kepada orang yang berilmu, berjihad melawan ego/hawa, bersyukur dalam semua kondisi. Semua itu hanya bisa didapat dan diraih bagi mereka yang mau perduli dan mempelajarinya lewat sumber yang sudah ditetapkan Allah yaitu Kitabullah dan Sunnah para Rosul(QS Ar Ra'd ayat 1+Al Ahqaaf ayat 12 dan Ash Shaff ayat 6). Jika anda bertanya lantas apa hubungan judul/tema dengan isinya? Jahiliyah dari kata: خهل-يخهل-خهلا-خاهلة=Jahil, Tak berilmu, Bodoh. Ini arti secara bentukan katanya. Jahiliyah sesuatu yang semu tak berilmu dan kebodohan yang tak disadari. Tak ada kebaikan pada unsur Jahiliyah, tak bernilai apa-apa bila hidup dalam kejahiliyahan, sebagai ta'rif lihat Q.S Al Maa'idah ayat 50 dan Q.S Al Ahzab ayat 33. Dari kesemua Tandzil Surat dan Ayat yang ada kata/lafazh Jahiliyah semuanya dalam periode/episode atau sikon Madinah. Yang artinya masa kejahiliyahan bila ditelaah berdasarkan Sunnah Nabi tentu yang dimaksud Jahiliyah yaitu sikon/kehidupan yang gelap tanpa cahaya, kebodohan tanpa ilmu, ketidak jelasan dari satu sikon Mekkah ke Madinah dari Zhulumat illa Nuwr, tentu Kejahiliyahan akan hilang dan berganti ketika seseorang Hijrah dari satu kondisi menuju kondisi lain. Ini juga yang dimaksud berjihad melawan hawa nafsu, Keinginan yang berlebih, keakuan yang mengalahkan penilaian Allah. Ini yang harus disadari setiap insan dalam kedudukannya sebagai Abdi, Mu'min dan Muslim.

Author by Fardhie

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x