Mohon tunggu...
Farandiza Rosalia
Farandiza Rosalia Mohon Tunggu... Lainnya - Ummu Khansa

Guru, penulis, istri dan ibu bahagia

Selanjutnya

Tutup

Diary

Mengasah Mengasihi

12 Maret 2021   10:50 Diperbarui: 12 Maret 2021   11:21 58 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Mengasah Mengasihi
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Namaku Diza, ibu dari bayi perempuan yang kalau sedang pergi berdua kadang dikomentari "Dedenya pasti mirip ayahnya ya?". Ya karena memang they're like twins plek plek plek. Dari sisi mirip-miripan ini sudah terasa sekali ya kuasa Alloh. Inilah buah hati kita. Dari yang awalnya lihat di USG hanya berbentuk bulatan bulatan kecil, lalu berkembang sampai akhirnya lahir sempurna (karena sesungguhnya manusia adalah makhluk paling sempurna ciptaan Alloh terlepas bagaimana pun keadaannya ketika lahir) QS. At Tin ayat 4. Ya, anak adalah anugrah yang nyata di hidup kita setelah jodoh (jomblo dilarang nyinyir).

Bayiku bernama Khansa. Waktu kecil dia punya karakter cenderung tipe "difficult babies". Anaknya supersensitif, lebih sering nangis dibanding bayi lain, kalau tidur mudah terdistract, nangisnya kencang, energik (dari usia 2 bulan tidurnya miring), maunya digendong dan menyusu terus (bisa berjam-jam), moody pokoknya cukup menguras tenaga dan emosi.

Drama bayi sulit ini masih berlanjut hingga ada moment pemberian sufor oleh ibu mertua bahkan ibu kandung yang mulai geregetan. Merek bilang, "Khansa nangis terus apa ASI-nya kurang ya?" "Khansa lama nyusu tapi masih susah tidur nyenyak, pasti ASI-nya ga kekejar tuh", dan masih banyak lagi komentar  yang bikin telinga panas. Memang selama masa nifas & pemulihan pasca Caesar aku tinggal bergantian di rumah ibu dan mertua.

Sampai suatu waktu like baby blues, aku setiap lihat Khansa mau nangis kejer, merasa tidak mampu jadi Ibu yang baik. Stres. Lelah. Serba salah.

Ada momen dimana Khansa level crankynya meningkat. ASIku berkurang. Seisi rumah kewalahan. Akhirnya beberapa malam Khansa diberi susu formula sampai bisa tidur dan anggota keluarga yang lain juga bisa tidur nyenyak sampai pagi. Sedih tak rela tapi tak berdaya. Idealis awal untuk full ASI luntur. Dilema ya kalau tinggal serumah dengan banyak kepala.

Akhirnya curhat dengan suami. Lalu kami jadi rajin Googling tanya sana-sini, sampai akhirnya paham itu yang namanya baby blues, apa yg mempengaruhi produksi ASI, tipe bayi, masa growth spurt & wonder week pada bayi dan akhirnya kamipun "tercerahkan". Bahwa semua kegaduhan ini bisa jadi karena poin-poin tadi dan susu formula bukanlah jalan keluar terbaik.

Setelah momen itu kami kompak mulai memberi pengertian kepada eyang-eyangnya Khansa, untuk tidak lagi memberi susu formula pada cucunya. Dengan bicara dari hati ke hati dan rajin share literasi relevan yang bisa memperkokoh argumen kita tentang pentingnya ASI eksklusif, insyaAlloh mereka juga akan turut mendukung. Benar memang istilah "sayang ke cucu lebih besar dari sayang ke anak". Para eyang pasti mau cucunya always happiness, hanya terkadang kurangnya wawasan buat mudah tergiur dengan cara-cara instan.

Alhamdulillah sekarang Khansa almost 1 tahun 5 bulan, semakin sehat, pintar dan jadi lebih "easy baby". Aku percaya kalau ibu bahagia dan pengertian anak juga pasti bawaannya bahagia dan pengertian. Tapi yang namanya hidup ya pasti penuh tantangan. Sekarang godaan pemberian sufor malah datang dari ibu-ibu di posyandu.

Begitu liat berat badan Khansa dibawah ideal dan grafiknya sempet stuck beberapa bulan, mulailah saran penambahan susu formula dan MPASI pabrikan kembali bermunculan. Tapi Alhamdulillah tak sampai kecolongan lagi, karena sudah punya ilmunya. Aku jelaskan ke mereka "Khansa mungil ya memang karena aku ibunya pun mungil, ada gen nya. Juga anak 1 tahun ke atas memang semakin pintar mengenal rasa, tau betul apa yang dia mau, makanya beberapa cenderung picky eater (pilih-pilih makan). Mereka juga semakin pintar ini-itu, sering mengeksplorasi, makin aktif dan kenaikan berat badannya juga tak sesignifikan under 1yo.

So aku tak terlalu khawatir waktu Khansa sempet GTM (susah makan), selama dia sehat tak mudah sakit, aktif dan semakin bertambah kebisaannya, insyaAllloh bukan stunting". Setelah itu respon mereka juga mulai positif. Tinggal PR aku lebih pintar meracik MPASI yang sehat, bergizi & menggugah selera makan Khansa, supaya bisa mengejar ketertinggalan berat badannya.

Alhamdulillah, memang jadi ibu itu harus melek informasi juga sering sharing dengan sesama ibu supaya nambah wawasan & pengalamannya. Semangat mengASIhi sampai 2 tahun ya Moms, karena itu juga bentuk pengajaran tauhid kepada anak. (QS. Al Baqarah ayat 233). Sekian pengalaman mengASIhiku, semoga bisa menginspirasi.

(Cerita pernah memenangkan giveaway WAG Supermom)

Mohon tunggu...
Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan