Adilla
Adilla karyawan swasta

Borneo-ers , yang sedang tinggal di Malang

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Lika-liku Mahasiswa Baru

12 Agustus 2017   19:01 Diperbarui: 13 Agustus 2017   13:41 245 0 0

Agustus datang. Artinya, musim mahasiswa baru (maba)  tiba. Musim dingin di Malang pun tiba. Musim yang jadi langganan sakit saya karena saya anak Borneo yang gak tahan dingin, brrr... 

Agustus ini maba dari kampus saya sudah mulai ospek. Riuh sekali di kampus dengan kedatangan maba. Senior-senior pun sampai turun gunung ikut menyambut. Memotong waktu liburan yang seharusnya masih sampai september. Demi maba loh, jadi panitia penyambutan maba tentunya

Melihat itu saya jadi ingat ketika saya jadi maba, di Malang. Januari 2016. 

Memang bukan maba yang pertama kali kuliah. Namun berkesan karena inilah saya pertama kali kuliah keluar pulau. Keluarga yang saya miliki di kota ini hanya 2 adik sepupu saya, 1 nya bahkan lagi liburan pulkam. Otomatis, ketika hari pertama sampai di Malang, saya melipir ke rumahnya untuk menginap disana. Adik sepupu saya masih SMA, tinggal sendirian di rumah. Otomatis saya jaga rumah - kalau tidak ada urusan di luar. 

Saya selalu penasaran ketika tiba di suatu tempat tertentu. Saya ga takut nyasar, toh ada google maps (generasi milenial banget ya, hehe). Jadilah saya melipir kesana kemari di Malang bermodal motor pinjaman dan peta digital. Dikit-dikit berhenti ngecek gugel, walaupun kadang saya pias juga karena kok ga nemu-nemu tempat tujuan. Google map kan kadang-kadang membingungkan! Belum lagi saya yang orang "hutan"  ini agak kagok liat lalinnya kota. Menurut pengamatan saya, lalin di Malang kebanyakan tidak mau ngalah kalau ada orang menyeberang atau belok, pengendaranya pun berani selip kesana kemari. Hal ini juga yang bikin saya agak agak pias. 

Puas menjelajah, saya mulai bergerilya mencari kos kosan. Ih, ternyata di sekitar kampus saya notabene harganya mahal. Belum lokasinya yang tidak ramah bagi mahasiswa (makanan mahal, dekat sama mal, haha). Maka saya pun mengambil kos-kos an di tempat adik saya yang satunya, karena masih ada kamar kosong. Padahal lokasinya jauh sekali dari kampus. Toh kuliah cuma seminggu 2x,gapapalah saya bolak balik. 

Singkat cerita, setelah kamar saya siap ditempati, saya mulai mencari-cari perlengkapan "hidup" di Malang. Lebih gampang karena saya punya keluarga yang bisa ditanya-tanya soal toko mana yang murah, dll. Tante saya menunjuk Sardo untuk cari barang-barang keperluan hidup yang harganya terjangkau. 

Mahasiswa baru di Malang pasti tau Sardo. Tempat belanja murah, lengkap, terjangkau, dan serba ada. Mau beli bantal? Plastik-plastikan? Isi dapur? Baju? Semua ada. Tapi ya sesuai dengan harganya. Ada harga ada kualitas. Pintar-pintarlah memilih. Yang jelas, saya borong banyak di Sardo (ketahuan hematnya ya) sampai-sampai saya ngiketin ember di jok motor untuk bawa barang-barang saya (yang masih separo, besok mau belanja lagi), dibantuin sama mas-mas parkir. 

Selain itu, saya juga belanja di Pasar Besar Malang. Kalau ini karena saya pengen cari barang elektronik dan sekalian jalan-jalan, katanya disini murah-murah. Alhasil saya membawa kipas angin dan setrikaan (plus seprai dan selimut!) dari Pasar Besar. 

Masalah pernak pernik selesai, yang paling besar dan keluar banyak duit adalah : motor. Ga mungkin saya lama-lama pake motor pinjaman. Saya bingung nyarinya gimana ya? Lebih enak cari di dealer motor second atau online? Kalo saya ditipu gimana? 

Semingguan lebih saya kutak katik di google, cari alamat dealer motor bekas terpercaya ataupun di situs jual beli online. Dengan  budget yang terbatas saya mencari motor yang sesuai keinginan (motor bodinya bongsor tapi matic) tapi ga dapat-dapat. Jadinya saya menurunkan standar dan memilih sesuai budget saja, yang penting enak dipakai dan ga lama-lama amat tahunnya. Alhamdulillah dapat di situs jual beli online, walaupun habis itu keluar biaya agak banyak untuk servisnya (motornya sudah lama tidak dipakai). Namun saya senang-senang saja memakainya. 

Maka mulailah episode kehidupan baru saya di Malang, sebagai maba yang cuma kuliah 2x seminggu, sangaat jauh berubahnya dibanding rutinitas saya sebelumnya yang anak kantoran. 

Saya officesick (haha!). Saya merindukan rutinitas kantor yang pergi pagi pulang sore, kesibukannya, candaan dengan teman sekantor, makan-makannya, semuanya. Tiba-tiba saja berubah jadi kamar kos dengan sedikit sekali kegiatan yang saya bisa lakukan. Bosan sekali rasanya. 

Saya berusaha mencari kegiatan di luar, ikut komunitas, ngelamar kerja part time, dll. Tapiii.. Tidak ada yang bertahan lama, mungkin salahnya di saya. Singkat cerita, saya senang sekali saat kuliah karena hari itulah saya bisa sibuk,atau artinya, pergi pagi pulang malam. Saya rindu jadi anak kantoran. 

Pelan pelan saya terbiasa dengan rutinitas ini, atau lebih tepatnya, menerima. Ini kan pilihan saya sendiri. Saya maksimalkan waktu saya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang cukup banyak, membersihkan kamar, mencoba kuliner baru, dan berkeliling Malang, sendiri, sekali lagi. Adik saya dua-duanya sibuk sekolah, hiks, saya iri betul mereka sibuk. 

Hal ini terus berlangsung sampai akhirnya kuliah saya selesai. Agustus 2017,sekarang,saya gak menyangka dalam hati kecil saya akan merindukan kota ini. Membayangkan pindah dari sini, ternyata membuat saya sedih.  Officesick tadi sudah berubah menjadi keinginan kuliah, saya menikmati proses kuliah ternyata. Saya yang sebelumnya pingin cepat-cepat lulus dan jadi anak kantoran, sekarang terbersit keinginan untuk... Kuliah lagi! (hahaha ya ampun, but married first). 

Ga pernah terbetik dalam pikiran saya sebelumnya untuk kuliah lagi, menulis, ataupun itu. Saya lebih menyukai dunia kantor, terus travelling ke tempat-tempat yang saya kunjungi (ckck generasi milenial). Tapi siapa yang menyangka ternyata saya sekarang menyukai keduanya. Saya suka menulis, sambil kerja juga, jadi anak kantoran yang pergi pagi pulang sore namun tetap menulis.  Hehe. Apa ini bisa diwujudkan dua-duanya? 

Moral of the story : Suatu rencana bisa kita susun sebaik-baiknya. Sesuai minat, passion, atau apapun itu. Tapi terkadang perubahan, atau kejadian yang tak terduga sangat mungkin terjadi, kita cuma bisa ambil hal terbaik darinya. Dan mungkin itu lebih baik untuk kita yang sekarang. 


N. B : Seseorang yang sangat berpengaruh untuk saya pun saya temukan di Malang. Terimakasih untuk kesempatan mengenalmu. Salah satu bagian terbaik dalam kehidupan saya di episode kuliah ini. Saya ga pernah menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan tempatmu di kehidupan saya. Sekali lagi, terimakasih.