Analisis

Generasi Millenial Indonesia, Pancasila Pedoman untuk Globalisasi

13 Mei 2018   21:59 Diperbarui: 13 Mei 2018   22:52 303 0 0

Istilah generasi millenial yang saat ini banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan didunia dan diberbagai bidang ini menimbulkan banyak pertanyaan, sebenernya apasih generasi millennial itu? Millineal dikenal sebagai generasi Y yang identik dengan peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media sosial, dan teknologi digital, yang saat ini subjek utamanya adalah generasi muda yang berusia kisaran 15-34 tahun. Disebagian besar dunia pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi. 

Pengaruh generasi millennial memang sangat berdampak besar pada era globalisasi zaman sekarang. Karna pengaruhnya yang besar maka dibutuhkan suatu pedoman atau acuan bagi generasi millennial untuk berglobalisasi yang baik, benar dan tepat. Agar dalam menyikapinya mereka tidak menyimpang atau tidak sesuai dengan ajaran budaya Indonesia. Ajaran budaya Indonesia yang dikenal lemah lembut, sopan santun, menjujung tinggi etika, bermoral dan beradab.

Di Indonesia sendiri generasi millennial sudah mulai tanggap terhadap isu-isu yang berkembang di negara Indonesia. Seperti isu politik, sosial, keagamaan, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Ketanggapan itu tentunya perlu adanya sebuah pedoman, yakni pedoman Pancasila yang hakikatnya adalah dasar negara kita. Pancasila adalah sebuah alat multifungsi untuk generasi millennial dalam berkembang dan belajar dalam menghadapi ketatnya era globalisasi ini. 

Fakta yang menunjukkan bahwa keidentikan millennial dalam penggunaan teknologi internet usia 10 sampai 34 tahun. Pengguna internet yang berusia di atas 55 tahun hanya 2 persen. Di kalangan mahasiswa, pengguna internet mencapai 89,7 persen, di kalangan kelompok pelajar mencapai 69,8 persen, dan di kalangan kelompok pekerja mencapai 58,4 persen.

Dari data tersebut bisa kita tangkap bahwa arus globalisasi terbesar bagi millennial yaitu dengan internet dengan pengguna terbanyak kaum muda yang diantaranya masih berusia produktif. Globalisasi sebagai media merupakan ajang pertukaran informasi dari segala aspek diseluruh penjuru dunia, yang artinya globalisasi itu mencakup ranah luas yang bisa dipersempit atau dipermudah dengan adanya internet. 

Maka dari itu pedoman Pancasila inilah yang harus dipegang prinsipnya bagi generasi millennial. Agar generasi millennial tidak gampang terpengaruh oleh radikalisme dan tindakan intoleran ditengah derasnya arus informasi yang beredar di media sosial dan internet.

Contoh mudahnya adalah arus informasi di instagram atau youtube yang sekarang sedang buming. Tua muda bahkan anak-anak sekarang sudah menggunakannya. Informasi yang diberikan pun beragam, tidak memandang status kepantasan dari informasi yang dipublishkan. Sehingga kita harus pintar untuk memilah dan menjaga diri dari informasi-informasi yang beredar tersebut. Apalagi informasi yang tidak pantas, hoax, bersifat provokatif, dan menyimpang itu adalah hal yang harus bisa kita kaji ulang untuk hasil yag terbaik. Karna bagaimana pun kita tidak bisa menghindari arus informasi, kita pasti menerimanya, tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengahadapinya.

Hal lain yang harus dipikirkan adalah adanya permasalahan yang timbul dari hal ini yang tak lain adalah dampak, yakni dampak baik dan buruk. Karna biasanya suatu hal yang sudah dipublish dan menurut pengguna itu keren atau bagus ia akan menjadikan itu sebagai suatu model yang ia tirukan. Tidak peduli apakah itu baik atau buruk. Terlebih pengguna yang masih berusia anak-anak, mereka mudah sekali terprovokasi akan hal-hal yang viral kemudian menirukannya. Mereka hanya memedulikan bagaimana untuk menirukan hal itu agar hasil yang didapat bisa semirip mungkin dengan role modelnya, tanpa memikirkan dampak baik dan buruk.

Mengapa harus Pancasila yang digunakan sebagai tameng kita dalam berglobalisasi? Karena lima poin Pancasila sangat sempurna kita gunakan untuk melindungi diri kita dari pengaruh provokasi, informasi yang tidak akurat, dan adanya penyimpangan komunikasi sosial. Buktinya adalah lima poin itu bisa membawa kita lebih taat terhadap indikasi yang dilarang oleh agama kita, kita bisa memanusiakan manusia dengan mengamalkan norma-norma yang berlaku, menjaga keberanekaragaman dari banyaknya perbedaan, menghargai dan bertoleran pendapat untuk mendapatkan kata mufakat yang baik dan tepat, serta selalu menjujung keadilan ditengah banyaknya tekanan dan tuntutan guna hidup lebih sejahtera.

Selain itu kita sebagai manusia, kita bisa merasa menjadi manusia karna adanya Pancasila, bagaimana tidak? Dalam berglobalisasi hal dasar yang kita pakai pasti adalah kemampuan interaksi dalam diri kita, hal yang membutuhkan hati dan pikiran agar menyatu. Agar keduanya bisa saling mengontrol dan saling bekerjasama untuk diterapkan dalam kajian Pancasila guna diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari

Maka dari itu kawan, kita sebagai generasi millennial, generasi pundak penerus bangsa harus bisa membawa diri dengan baik dan benar. Menjadi generasi millennial yang tanggap, cerdas, dan pintar dalam tantangan berglobalisasi. Ingat, celah kita untuk salah atau terjerumus sangatlah besar maka selalu berhati-hatilah dalam menggunakan media digital untuk kepentingan-kepentingan kita semua. Kepentingan meng-upgrade kualitas dan kemampuan diri, berkelompok atau dalam sebuah forum, atau hanya sebagai media hiburan semata. Peluang ini seharusnya bisa dijadikan manfaat untuk berkembang da belajar mengenai banyak hal yag positif.

Inilah tugas kita sebagai generasi millennial, harus tetap menjaga dan melestarikan Pancasila agar tidak punah fungsi dan perannya. Pedoman yang sempurna untuk berorientasi dan bersinergis. Kita hanya perlu berkembang dan belajar dalam aspek atau bidang yang kita minati dengan jalan yang benar dengan batasan diri masing-masing, tetapi bukan berarti kita harus membatasi diri. Karna sikap kritis, nasionalis, dan spiritualis harus tetap dipupuk dan dijaga keberadaannya dalam setiap diri generasi millennial guna membangun dan memajukan bangasa Indonesia.

Fara Nadya P.D 

Mahasiswi S1 Kebidanan FKUB.

faranadyaputri14@yahoo.com