Fana Insanu
Fana Insanu

Fana Mustika Insanu adalah seorang mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro. Saat ini, ia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edents FEB Undip.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan featured

Hakekat Bela Negara dan Pandangan Prinsipil

27 Agustus 2018   20:44 Diperbarui: 19 Desember 2018   13:06 1382 4 0
Hakekat Bela Negara dan Pandangan Prinsipil
liputan6.com


Berdasarkan pengertian harafiahnya, Bela Negara dapat diartikan sebagai upaya atau sikap yang dilakukan oleh warga negara dalam mempertahankan kesatuan, kedaulatan, dan kesejahteraan atas dasar rasa cinta terhadap negaranya.

Dalam konteks ini, negara yang bersangkutan adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sejatinya kita berperan sebagai warga negaranya.     

Pada dasarnya terdapat berbagai kerangka konseptual mengenai hakekat bela negara itu sendiri, dan tentunya setiap individu memiliki persepsi yang beragam.

Setiap individu tentunya memiliki gambaran perihal bela negara menurut versinya masing-masing, memiliki pemikiran fundamental yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Perbedaan kerangka pemikiran bela negara ini dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan juga sudut pandang individu tersebut terhadap negaranya.

Sebagai contoh, hakekat bela negara dari pemikiran seorang tentara akan berbeda dengan hakekat bela negara yang dimiliki oleh seorang seniman.\

Hakekat bela negara dari kacamata seorang tentara adalah tentang  'bagaimana cara mempertahankan kedaulatan negaranya dari serangan fisik layaknya agresi'.

Sedangkan seorang seniman, ketika dilontarkan pertanyaan perihal 'apa makna bela negara bagi anda', dia kan menjawab 'saya akan terus berkarya demi negara'.

Perbedaan kerangka pemikiran itulah yang membuat hakekat dan makna bela negara menjadi sangat luas dan beragam.

Pemuda dan Bela Negara

Perihal hakekat bela negara yang dapat diinterpretasikan secara luas, itulah yang membuat membela negara tidak hanya semata-mata menjadi kewajiban aparat penegak hukum.

Pada Pasal 30 ayat 1 UUD 1945 tertuang bahwa kewajiban untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara merupakan kewajiban setiap warga negara, yang secara gamblang menyatakan bahwa setiap unsur warga negara memiliki andil tersendiri dalam pelaksanaan bela negara itu sendiri.     

Pemuda, salah satu hal yang krusial dan menjadi bagian dari warga negara. Pepatah 'Bangsa Indonesia selamanya tidak akan pernah merdeka tanpa adanya pemuda' merupakan pernyataan yang paling lumrah untuk menggambarkan bahwa keberadaan pemuda adalah hal yang esensial dan prinsipil dalam penentuan kemajuan suatu negara.

Dalam konteks kependudukan misalnya, terdapat istilah Bonus Demografi dimana kondisi suatu negara yang memiliki jumlah usia produktif dan pemuda yang melimpah dapat dipastikan menjadi keuntungan yang tidak ternilai apabila keadaan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.     

Selaras dengan konsep Bonus Demografi, peran pemuda dalam upaya bela negara merupakan determinan yang tidak boleh luput dari perhatian.

Pemahaman bela negara, hasrat cinta tanah air, dan penanaman rasa nasionalisme  kepada para pemuda akan memberikan timbal balik yang baik pada negara.

Bicara tentang penanaman rasa nasionalisme dan cinta tanah air, proses 'transfer' pemahaman bela negara kepada para pemuda tidak dapat dipaksakan.

Seperti yang telah dijelaskan bahwa setiap individu memiliki kerangka pemikiran dan caranya tersendiri dalam menginterpretasikan upaya bela negara, begitupun dengan pemuda.

Pemahaman bela negara untuk pemuda sudah semestinya dapat diwujudkan secara bebas namun terarah, sesuai dengan kerangka pemikirannya masing masing.

Dengan begitu, pemahaman bela negara tidak terkesan dicekok dan dipaksakan, melainkan murni dari pemikiran, kesadaran, dan keahliannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2