Mohon tunggu...
Farhan Abdul Majiid
Farhan Abdul Majiid Mohon Tunggu... Penulis

Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia | Alumnus SMA Pesantren Unggul Al Bayan | Penikmat Isu Ekonomi Politik Internasional, Lingkungan Hidup, dan Kajian Islam

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Refleksi Banjir Jakarta, Ubah Cara Pandang Kita Hidup di Tengah Kota

2 Januari 2020   12:44 Diperbarui: 2 Januari 2020   19:23 2372 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Refleksi Banjir Jakarta, Ubah Cara Pandang Kita Hidup di Tengah Kota
Tampilan banjir Jakarta di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, dari helikopter yang mengangkut Kepala BNPB Doni Monardo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, saat mereka meninjau kondisi banjir terkini pada Rabu (1/1/2020).(DOKUMENTASI BNPB)

Tahun baru 2020 kali ini, Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan lebat nan awet. Akibatnya sudah diduga, banjir di seantero kota.

Di media sosial, fans club para politisi masih saja mengulang kaset rusak yang sama. Pokoknya ini salah Presiden. Pokoknya ini salah Gubernur. Pokoknya, pokoknya, dan pokoknya.

Namun kita mau hindari debat kusir yang tidak jelas itu. Sambil coba memahami dari sudut pandang yang lebih luas dan dalam. Mari kita mulai argumen ini dengan nada provokatif. Ini adalah bagian kecil dari Bencana Iklim!

Curah hujan di Jakarta dan sekitarnya pada malam tahun baru memecah rekor tertinggi selama lebih dari dua dekade. Tercatat yang tertinggi ada di sekitar bandara Halim Perdanakusuma, dengan 377 mm dalam sehari. Ini jauh lebih tinggi dari rata-rata bulanan yang berkisar 300 mm per bulan.

Sementara di Jakarta kita merasakan hujan yang tidak habis-habis, di Yogyakarta sedang terjadi kelangkaan air bersih, khususnya daerah Sleman. Bahkan di Australia, kemarau berkepanjangan juga mencatatkan rekor, yang memicu kebakaran hutan yang dahsyat di pantai timur Australia.

Ini baru di Indonesia dan Australia. Belum lagi musim dingin yang justru hangat di Rusia, musim dingin ekstrem di India, dan di berbagai belahan dunia lainnya. Kita pun bertanya-tanya. Kalau ini hanya bagian kecil saja, bagaimana yang besarnya? Apa yang sesungguhnya terjadi?

Bila kita perhatikan fenomena itu semua, akan bertemu benang merahnya pada anomali iklim. Tapi mungkin sebutan "anomali" itu terlalu lunak. Media massa internasional banyak yang telah mengganti "anomali iklim" atau "perubahan iklim" dengan "bencana iklim". Climate catastrophe.

Ini bukan isapan jempol politisi partai hijau di Eropa atau bualan SJW di Jakarta saja. Tapi memang benar-benar menjadi konsensus para ahli klimatologi, bahwa perubahan yang terjadi di atmosfer telah benar-benar ekstrem, hingga hampir bisa dikatakan tidak akan kembali kepada kondisi normal.

Temperatur rata-rata global, yang menjadi faktor pengontrol iklim utama, telah naik hingga 1,2-1,3 derajat Celcius, sejak masa Revolusi Industri. Berdasarkan penelitian, apabila kenaikan itu telah mencapai 1,5 derajat Celcius sebelum tahun 2100, maka wassalam. Apa yang terjadi, terjadilah. Kita tak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala.

Apa kaitannya kenaikan temperatur itu dengan kondisi hujan ekstrem di Jabodetabekpunjur? 

Begini.

Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, khususnya CO2 dan CH4, menyebabkan panas yang diterima oleh bumi, semakin tinggi yang diperangkap oleh atmosfer. Panas yang besar itu kemudian disimpan, paling banyak, di lautan dan samudera. Suhu air laut kemudian akan ikut naik. Di kutub, gunung es banyak yang mencair.

Di tempat lainnya, fluktuasi suhu menyebabkan fluktuasi tekanan udara, sehingga angin menjadi abnormal. Penguapan pun semakin cepat, membentuk sistem perawanan yang terus membesar. Ia pun dibawa angin dan tiba di Jakarta, juga di seluruh dunia.

Maka, dampak dari naiknya suhu 0,1C saja bisa mengubah keseimbangan iklim. Apalah lagi sudah naik 1,2-1,3C. Bisa dibayangkan akibatnya.

Iklim yang berubah, otomatis cuaca juga semakin tak menentu. Kita akan semakin sering dihadapkan pada kondisi ekstrem. Entah kemarau ekstrem dua bulan yang lalu, atau hujan ekstrem seperti dalam sepekan terakhir. Kalau sudah begitu, bakal semakin sering terjadinya bencana seperti banjir ini. Juga kekeringan saat kemarau.

Itu baru di tingkatan global. Sekarang kita masuk ke level nasional. Pembangunan kita masih saja tidak berkelanjutan.

Banjir yang ada di Jakarta setidaknya mengisyaratkan pada kita, bahwa betapa pun rumitnya birokrasi yang dibuat manusia, mekanisme alam tidak akan peduli hal itu.

Alam tidak mengenal batas administrasi. Alam tidak peduli partai apa yang berkuasa. Alam tidak memikirkan siapa yang jadi Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, hingga pak RW dan RT.

Kalau sudah begini, yang mesti dibenahi ialah cara berpikir mengenai pembangunan. Kita masih saja terjebak dengan doktrin pembangunan menuju lepas landas yang ditulis tahun 1960an, dalam konteks perang dingin, dan faktor lingkungan hanya dijadikan ceteris paribus.

Negara bisa dikatakan maju jika pertumbuhan ekonominya double digit. GDP per kapitanya belasan ribu dollar. Industrialisasi di segala lini. Maka, membabat habis hutan tidak menjadi masalah, yang penting ekonomi tumbuh.

Pabrik tidak pakai AMDAL tidak mengapa, yang penting lapangan kerja banyak. Membuat gedung kalau perlu tidak pakai IMB, karena akan menghambat investasi.

Ya, memang, ekonomi akan tumbuh, tapi sampai berapa lama? 5 tahun? 10? 20? 50? Sudah itu? Bencana akan terjadi. 

Inilah yang disebut oleh Meadows dkk. sebagai "Limits To Growth" di dalam bukunya yang terbit tahun 1973 silam. Betapa pun canggihnya teknologi, selama eksploitasi alam tidak dipedulikan, maka pertumbuhan itu akan mencapai titik batas kritisnya.

Sudahlah begitu, institusi pemerintahan masih koruptif. Karena sudah keburu diberi modal Pilkada, izin tambang diberi cuma-cuma. Karena sudah kadung disponsori jadi caleg, jadilah pengawasan DPRD tertutup matanya.

Ini dia yang menjadi penyebab negara gagal, seperti yang disebut oleh Acemoglu dan Robinson. Institusi yang ekstraktif, yang memburu sumber daya alam secara eksploitatif, dan dilindungi pemerintahan yang koruptif.

Akhirnya pertumbuhan ekonomi itu hanya cantik di atas kertas. Sementara kebakaran hutan dan banjir bandang menjadi santapan bergilir, seiring musim berganti berselang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN