Mohon tunggu...
Farhan Abdul Majiid
Farhan Abdul Majiid Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia | Alumnus SMA Pesantren Unggul Al Bayan | Penikmat Isu Ekonomi Politik Internasional, Lingkungan Hidup, dan Kajian Islam

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Cempaka, Dahlia, Lalu Apa?

1 Desember 2017   09:42 Diperbarui: 1 Desember 2017   09:57 2401
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Siklon Tropis Dahlia, sumber: bmkg.go.id

Tersimpannya panas hasil pemanasan global di lautan membuat berbagai dampak lingkungan. Mulai dari memutihnya terumbu karang sampai punahnya beberapa spesies yang tidak mampu beradaptasi. Tidak hanya itu, bagi iklim, meningkatnya panas lautan berarti akan terganggunya iklim.

Mengapa demikian?

Lautan merupakan penjaga suhu bumi, dengan keberadaan Sirkulasi Termohaline, yakni sirkulasi yang dipengaruhi oleh temperatur dan kadar garam dari air laut. Ketika suhu air laut meningkat drastis, akibatnya adalah terganggunya sirkulasi ini. Cuaca pun menjadi semakin tidak menentu, dan dalam jangka waktu tertentu akan mengubah siklus dalam iklim.

Pada saat suhu permukaan laut meningkat, maka akan menjadi pusat tekanan udara rendah. Jika suhu itu terjaga dalam kondisi yang cukup lama dan di lautan dalam pun ikut menghangat, pusat tekanan udara rendah akan menjadi daerah tujuan angin. Ketika angin sudah banyak yang mengarah ke tempat tersebut, maka akan memungkinkan terbentuknya bibit siklon. Oleh karena itu, ketika suhu bumi terus meningkat, potensi terjadinya siklon tropis pun akan semakin meningkat. Sebuah studi menyebut, sekalipun misalnya jumlah hurikan (siklon tropis yang ada di wilayah Atlantik) tidak bertambah, akan tetapi siklon tropis yang berskala besar semakin meningkat.[vii]

Risiko dari perubahan iklim bagi kita bukan hanya pada semakin meningkatnya intensitas siklon tropis seperti yang sedang kita alami saat ini. Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya El Nino dan La Nina yang semakin sering. Di Indonesia, fenomena El Nino akan berdampak pada kebakaran hutan. Memang, kebakaran hutan di Indonesia banyak yang disebabkan oleh kalangan industri yang membakar lahan. Namun, dengan adanya El Nino, kebakaran itu akan menjadi semakin parah karena suhu yang panas dan udara yang kering.

Lalu, Apa yang bisa kita lakukan?

Inilah inti daripada tulisan ini. Jika kita sudah merasakan cuaca yang tidak menentu dalam siklon tropis Cempaka dan Dahlia, lalu apa? Apakah kita lantas mengutuk hujan? Atau kita menyalahkan keadaan? Tentu tidak!

Solusi atas masalah iklim ini bisa kita lihat dari dua sisi, yakni secara makro dan mikro. Secara makro, solusi atas masalah iklim merupakan tanggung jawab seluruh dunia. Sebab, bumi yang hanya satu ini dihuni oleh seluruh manusia. Oleh karena itu, diperlukan solusi bersama dari negara-negara di dunia.

Kesadaran akan perubahan iklim di dunia ini sudah mulai terbentuk di tahun 1972 ketika disepakatinya Deklarasi Stockholm tahun 1972. Berikutnya, muncullah berbagai organisasi dunia yang menangani masalah iklim. UNEP, UNFCCC, IPCC, Konferensi Rio 1992, Protokol Kyoto 1997, hingga yang terbaru adalah COP 23 di Bonn, Jerman.

Sayangnya, upaya penyelamatan iklim secara global ini melalui banyak rintangan. Negara besar seperti Amerika Serikat (yang juga penyumbang gas rumah kaca terbesar) justru mundur dari kesepakatan COP 21 dua tahun silam di masa pemerintahan Donald Trump. Padahal, di COP 21 itu sudah ada komitmen bersama untuk menahan laju kenaikan suhu agar tidak melebihi 20C terhitung sejak masa Revolusi Industri.[viii]

Tidak hanya di tingkat internasional, di tingkat nasional pun harus ada upaya dalam penyelamatan iklim. Di Indonesia misalnya, perlu adanya peralihan penggunaan pembangkit listrik ke energi terbarukan seperti sel surya. Masalahnya, dalam proyek listrik pemerintah saat ini, penggunaan energi batu bara masih menjadi tumpuan utama. Selain itu, perlu juga penegakan regulasi untuk kalangan industri agar tidak mengeluarkan limbah yang mencemari. Jangan sampai, seperti pernah dikatakan seorang aktivis lingkungan, bahwa aspek legalitas justru hanya menjadi legalisasi praktik pencemaran, bukan mencegah pencemaran itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun