Mohon tunggu...
Muhammad Fakhriansyah
Muhammad Fakhriansyah Mohon Tunggu... Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta

Muhammad Fakhriansyah adalah mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta. Saat ini ia menjadi pemimpin redaksi komunitas History Agent Indonesia. Tulisannya berfokus pada sejarah kesehatan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Pergi Haji di Usia Muda Tanpa Warisan, Mungkinkah?

9 Oktober 2020   13:26 Diperbarui: 9 Oktober 2020   13:34 19 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pergi Haji di Usia Muda Tanpa Warisan, Mungkinkah?
Sumber: google

Saya teringat ketika duduk di bangku Sekolah Dasar pada satu pembelajaran agama Islam di pagi hari pada tahun 2006, sang guru yang selalu tampil bersahaja, berkemeja putih lengan panjang dan memakai peci,  mengajak kami semua untuk mengikuti materi tentang rukun Islam. Sang guru berdiri di depan papan tulis dan meminta kami semua berdiri sembari menyuarakan dengan lantang 5 rukun Islam, tentu saja ketika bersuara para siswa berlomba-lomba untuk menyuarakan dengan suara paling keras. Tujuannya agar kami, para siswa, dapat hapal rukun Islam.

Sebagai murid yang polos tentu saja mengikuti apa yang diperintah oleh guru. "Lima rukun Islam: Satu, mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua, mendirikan Shalat. Tiga, berpuasa di bulan Ramadhan. Empat, menunaikan zakat. Lima, pergi haji bila mampu.", ucap puluhan murid di satu kelas dengan suara lantang. Tentu saja, akibat beberapa kali mengucapkannya dengan lantang, kami hapal tentang rukun Islam. Tujuan sang guru tercapai.

Hapalan mengenai rukun Islam dan ditambah dengan rukun Iman terus ada ketika saya menempuh jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Entah apa yang ada dipikiran guru tersebut ketika meminta kami menghapalnya; apakah sekedar untuk formalitas kegiatan pembelajaran atau untuk memenuhi tujuan pembelajaran? saya tidak mengetahuinya secara pasti. 

Selain itu, terdapat satu kesamaan lagi, yakni sang guru sama-sama menjelaskan mengenai rukun Islam kelima yang menuai tanda tanya, ketika ada murid yang bertanya. "Mengapa pergi haji diikuti kalimat 'bila mampu'?", ujar salah seorang murid bertanya kepada gurunya. Sang guru menjawab, "Anak-anak, haji adalah Ibadah yang dilakukan dengan membutuhkan biaya yang lumayan besar, seperti biaya transportasi, makan, dan penginapan. Itu semua membutuhkan uang dan hanya orang yang memiliki uang lebih yang mampu. Kalau tidak mampu, tidak masalah kalau tidak pergi haji. Itulah sebabnya ditambahkan kalimat 'pergi haji bila mampu'. Selain itu, haji membutuhkan kemampuan fisik maupun kesehatan yang cukup fit.". 

Namun, dari perjalanan panjang saya menghapal rukun Islam dan rukun Iman, pada usia 20 tahun saya menyadari sang guru memang benar menyebutkan bahwa pengertian mampu pada haji tidak hanya dalam finansial, melainkan fisik maupun kesehatan, tetapi saya berpikir lebih dari itu dan ada satu hal yang luput dari penjelasan sang guru.

Dalam pemikiran saya saat ini, sang guru harusnya mendorong para siswanya untuk menabung sejak dini untuk dapat pergi haji di usia muda. Alih-alih hanya menjelaskan alasan kalimat 'pergi haji bila mampu', sang guru harusnya dapat mendorong siswanya untuk menyisihkan uang jajannya sedari muda untuk bisa menjadi haji muda.  Dengan kata lain, untuk membuat siswanya mampu pergi haji, sang guru mendorong siswanya untuk menabung. 

Bayangkan, apabila sang guru SD tidak hanya meminta siswa menghapal tetapi juga menyuruh menabung untuk pergi haji di tahun 2006, sudah berapa banyak yang pergi haji di usia muda. Urusan apakah siswa sesungguhnya menabung atau tidak, itu urusan belakangan. Terpenting, guru mendorong untuk menabung sejak dini untuk pergi haji. 

Hal ini menjadi salah satu cara untuk menunaikan ibadah haji tanpa uang warisan. Mengapa warisan? dalam hemat saya, cara paling mudah untuk pergi haji atau mendaftar haji di usia muda adalah dengan uang warisan. Namun, tidak semua orang beruntung mendapatkan warisan. Salah satu cara yang mudah untuk daftar haji di usia muda adalah dengan menabung sedari diri seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Apalagi, di era sekarang kita dengan sangat mudahnya menabung untuk persiapan haji. Misalkan, dengan menabung di tabungan haji Danaman syariah. Tabungan ini berfungsi sebagai dana tabungan haji. Dengan menyetorkan uang setiap bulannya melalui tabungan haji Danamon syariah, kita akan sangat mudah mengontrolnya. Dengan begitu, impian kita untuk daftar haji di usia muda atau menjadi haji muda dapat terwujud.

Alasan menabung sedari muda, menjadi pilar penunjang untuk dapat memprioritaskan pergi haji sedari muda. Sebab, apabila kita sudah cukup dana untuk pergi haji, haji adalah hal yang mudah dicapai? Tentu hal yang memungkinkan. Selain itu, memprioritaskan pergi haji sedari muda turut menimbang faktor fisik dan kesehatan. Usia muda identik dengan fisik dan kesehatan yang masih fit, jadi akan sangat menunjang pergi haji di usia muda. Namun, alasan kita untuk daftar atau pergi haji di usia muda tentu didasari karena usia tunggu haji yang sangat lama. 

Bahagialah kita apabila sudah menunaikan rukun Islam, yaitu pergi haji bila mampu. 

Jazakallah.

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x