Mohon tunggu...
Muhammad Fakhriansyah
Muhammad Fakhriansyah Mohon Tunggu... Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta

Muhammad Fakhriansyah adalah mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta. Saat ini ia menjadi pemimpin redaksi komunitas History Agent Indonesia. Tulisannya berfokus pada sejarah kesehatan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Membedah Makna Stereotip Ras.

25 September 2020   18:28 Diperbarui: 12 Oktober 2020   19:36 42 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membedah Makna Stereotip Ras.
Sumber: Goodreads.com

Judul Asli        : Mitos Pribumi Malas: Citra Orang Jawa, Melayu, dan Filipina Dalam Kapitalisme Kolonial.

Penulis             : S.H Alatas

Tahun terbit   : 1988

Penerbit           : LP3ES

Malaysia, Filipina, dan Indonesia merupakan negara yang pernah mengalami pahitnya hidup di bawah kuasa kolonialisme dari abad ke-16 hingga abad ke-20. Dinamika perjalanan negara-negara tersebut dalam kuasa negeri barat menimbulkan berbagai dampak yang cukup signifikan terhadap masyarakat negeri koloni. 

Salah satu yang timbul akibat kolonialisme adalah munculnya stereotip ras terhadap pribumi oleh penjajah, yakni stereotip pemalas. Melalui buku ini, S.H Alatas berupaya menguraikan dan membuktikan kebenaran pandangan tersebut terhadap masyarakat pribumi---yang dalam buku ini dimaksudkan bangsa-bangsa Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Meski S.H Alatas mengambil contoh tiga bangsa di kawasan Asia Tenggara ---Malaysia, Filipina, Indonesia---yang memiliki perbedaan penjajah pula, tetapi ketiganya memiliki kesamaan, yakni penduduknya sama-sama dipandang pemalas oleh penjajah. Melalui 12 bab paparannya dalam buku ini, S.H Alatas mencoba menganalisa dan membantah asal-usul dan fungsi stereotip pribumi malas dengan menelusuri catatan-catatan pemerintah kolonial dan sumber-sumber dari sudut pandang pribumi. 

Pada permulaannya Alatas menguraikan pandangan-pandangan penjajah terhadap pribumi pada tiga negara tersebut, dengan pandangan bodoh, licik, lambat, pemalas, dan lain sebagainya. Pandangan yang diutarakan oleh kolonial tersebut didasarkan atas faktor iklim dan lingkungan tropis yang dikatakannya mendukung kemalasan bangsa pribumi, ketika dalam iklim tropis yang panas dan basah membuat penduduknya hanya tinggal diam tanpa harus bekerja (hlm 60).

Namun, S.H Alatas mematahkan pandangan tersebut. Menurutnya, pandangan tersebut sesungguhnya terjadi sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme. Mitos tentang masyarakat Melayu dan Jawa yang malas didasarkan pada penolakan mereka untuk bekerja di perkebunan dan ketidakterlibatan mereka dalam kegiatan ekonomi kapitalisme perkotaan yang dikuasai kolonial (hlm 113). 

Perubahan ini sebetulnya dipengaruhi pula oleh kebijakan-kebijakan negeri koloni. Sebagai contoh di Hindia-Belanda, S.H Alatas tidak menemukan adanya pandangan pribumi malas sebelum tahun 1830. Namun, setelah tahun 1830, muncul tuduhan pemalas terhadap pribumi. Hal ini didasari karena dimulainya sistem tanam paksa dan banyak dari pribumi yang menolak untuk ikut serta

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x