Mohon tunggu...
Jamalludin Rahmat
Jamalludin Rahmat Mohon Tunggu... HA HU HUM

JuNu_Just Nulis_

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Beberapa Catatan dari Buku "Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang"

3 Juni 2019   15:13 Diperbarui: 7 Juni 2019   21:39 0 13 1 Mohon Tunggu...
Beberapa Catatan dari Buku "Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang"
Illustrated by toko-bukubekas.blogspot.com

Setiap orang memiliki kemampuan menulis dan itu belum di munculkan tetapi dibiarkan terpendam berkarat lama dalam diri_anymous_

Pengenalan Buku
Kali ini saya ini telah menyelesaikan membaca buku berjudul "Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang" terbitan PT. Gramedia Jakarta tahun 1983 dan Pamusuk Eneste sebagai editor.

Kenapa saya tuliskan 'telah menyelesaikan membaca buku' karena saya pernah disentil seorang abang jika saya adalah pengepul atau pengumpul buku bukan pembaca buku karena buku yang dimiliki jarang dibaca sampai selesai dan beberapa buku tersusun rapi di rak-rak buku belum tersentuh mata untuk dibaca. Hati saya tersayat pilu mendengarnya, luluh lantak kebanggaan diri... huihuihui.

Saya ucapkan terimakasih abang, atas sentilannya dan benarlah, buku yang kita miliki bukan dinding penghias rumah, bukan pula tempat bersarang kecoa serta laba-laba karena jarang dibaca tapi untuk dibaca dan membaca diiringi menulis bukanlah soal metode atau teknik, melainkan soal hidup dan keberanian ujar Sindhunata.

Buku "Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang" adalah kumpulan tulisan dari beberapa orang penulis sastrawan ternama di Indonesia seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Subagio Sastrowardoyo, A.A. Navis, Trisnoyuwono, Wildan Yatim, Bh. Dini, Budi Darma, Ajip Rosidi, Putu Wijaya, Julius R. Siyaranamual, Arswendo Atmowiloto.

Beberapa orang dari nama yang dituliskan diatas merupakan avant garde (garda terdepan) sekaligus pakarnya dalam dunia kepengarangan kesastraan di Indonesia dalam bentuk cerita pendek, novel dan puisi dan juga penulis opini, essai dan artikel di majalah-majalah dan koran-koran ternama.

Berbagi Pengalaman Menulis
Di buku "Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang" ini setiap nama-nama tersebut menceritakan dalam bentuk tulisan pengalaman dalam dunia tulis-menulis. Ada benang merah atau kesamaan yang dapat disimpulkan dari pengalaman para pengarang atau penulis tersebut yaitu.

imgrumweb.com
imgrumweb.com
Pertama. Mengarang/menulis mereka muncul dari banyak dan seringnya membaca. 
"Saya doyan sekali membaca. Mulai dari karangan-karangan Karl May sampai pada buku-buku sastra terjemahan seperti Komedi Manusia (William Saroyan) dan cerita-cerita picisan yang merangsang berahi yang meledak pada tahun 50-an." Tulis Putu Wijaya di halaman 145.

Atau pada A.A. Navis,
"Kebetulan di Padang Panjang ada kerabat saya yang mempunyai kios yang menyewakan cerita komik. Maka saya dapat meminjamnya dengan cuma-cuma. Buku saku itu saya baca di keretapi, berangkat ke sekolah atau pulang dari sekolah."

Kedua. Beberapa orang dari mereka, minat membaca ditumbuhkan dan dibentuk oleh keluarga atau lingkungan keluarga.
Wildan Yatim, "jadi, nampaknya sudah pembawaan keluarga ayah saya gemar membaca. Kegemaran itu memuncak pada ayah. Waktu muda ia selalu membuka buku dikala senggang, seperti waktu istirahat dari memacul di sawah atau di kebun, atau baru pulang dari langgar (musala) setelah waktu salat Isya." (halaman 95).

Ketiga. Perpustakaan berperan penting untuk tumbuh dan kembang minat baca. 
Dapatlah dikatakan perpustakaan menjadi rumah kedua bagi mereka. Perpustakaan yang mereka kunjungi bukanlah perpustakaan yang berisikan buku-buku serius saja tapi perpustakaan yang juga menyediakan cerita pendek, novel, majalah sastra, puisi. Dan buku sastra yang mereka baca itu menimbulkan minat untuk menulis.

"Pada masa awal kemerdekaan, di desa saya pun dibuka perpustakaan. Kebanyakan bukunya terbitan balai pustaka... ketika saya duduk di kelas tertinggi SD inilah saya menikmati buku-buku bacaan seperti: Sepanjang Jalan Raya, Dua Saudara di Padang Salju, Tanah Rusia, Si Samin dan lain-lain." (halaman 95).

deskgram.net
deskgram.net
Keempat. Sering berdiskusi maka lahirkan ide-ide untuk menulis. 
Di tempat mana saja dan bertemu siapa saja mereka berdiskusi/bercerita baik itu di kedai kopi, pinggiran jalan, di pasar dan beberapa cerita yang menarik dapat mereka jadikan untuk sumber menulis cerpen, novel, opini, artikel dan essai.

Tulis Nh. Dini, "Munculnya pikiran atau ide disebabkan biasanya disebabkan karena panca indera. Saya banyak sekali mengamati dan mendengarkan kejadian di lingkungan saya...semua yang saya tulis saya angkat dari kehidupan sebenarnya." (halaman 113).

Kelima. Imajinasi dan kepekaan tinggi. 
Setiap orang di dalam dirinya memiliki imajinasi tapi tingkatnya berbeda-beda. Ada yang rendah, sedang dan tinggi.

Budi Darma menuliskan, "Kepekaan saya tumbuh dengan sendirinya dan makin menjadi tajam pada saat-saat saya getol menulis. Pada saat-saat seperti ini imajinasi saya berkelejatan datang tanpa saya minta". (halaman 128).

twgram.me
twgram.me
Keenam. Mengalami dengan terlibat langsung.
Sebagaimana yang dituliskan oleh Arswendo Atmowiloto "Kata orang, saya subur menulis. Saya kira ini karena saya tidak mempunyai kegiatan lain kecuali menulis, membaca, mendengar dan mencari pengalaman. Ketika menulis novel The Circus (1977) misalnya, saya tidak sekedar mendengar saja. Tetapi saya ikut rombongan sirkus keliling" (halaman 183).

Tulisnya lagi dihalaman yang sama "Novel saya yang pertama Bayang-bayang Baur (1976), juga mengenai keadaan sekitar yang saya geluti waktu itu. Yakni sebagai wartawan yang melihat kebusukan dan pemalsuan berita.
Moga berkenan di hati dan bermanfaat. 

JR | Curup | 03.05.2019.
Taman Bacaan

  • Pamusuk Eneste, editor. Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. PT. Gramedia. Jakarta. 1983.
  • Hernowo Hasim. Main-main dengan Teks Sembari Mengasah Kecerdasan Emosi. Kaifa. Bandung. 2014.