Mohon tunggu...
Jamalludin Rahmat
Jamalludin Rahmat Mohon Tunggu... HA HU HUM

JuNu_Just Nulis_

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menyigi Arah Kehidupan Orang Minang Modern

2 April 2019   14:25 Diperbarui: 2 April 2019   14:50 0 12 4 Mohon Tunggu...
Menyigi Arah Kehidupan Orang Minang Modern
(Illustrated by Arsitag.com)

Kala itu Majelis Sinergi Islam dan Tradisi (Magistra) Indonesia Padang mengadakan diskusi terbuka berjudul "Menyigi Arah Perjuangan Hidup Orang Minang Modern." Dua orang narasumber yaitu; Abel Tasman (Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Komisi IV) dan Rusli Marzuki Saria-yang biasa dipanggil dengan Papa, maestro sastra Sumatera Barat.

Diskusi terbuka ini dihadiri oleh beberapa kalangan baik dari sastrawan, akademisi dan mahasiswa dari IAIN (baca: UIN) Imam Bonjol Padang, Universitas Andalas, seperti; Nofel Nofiadri, Romi Zarman, Deddy Arsya, Esha Tegar Putra, Abdullah Khusairi, M. Nasir, Riki Saputra, Zelfeni Wimra

Islam dan Tradisi

Lebih lanjut, bagaimana Islam sebagai salah satu agama terbesar di dunia yang mengisi ruang spiritual lebih dari sepertiga manusia yang menghuni bumi ini. Keberadaanya telah menjadi kenyataan yang mengisi dinamika kehidupan manusia. Dalam dinamika ini terjadi berbagai peristiwa yang mengubah keyakinan dan jalan hidup manusia. Ketika terjadi perubahan inilah berbagai konflik dalam menyelesaikan masalah kehidupan dari berbagai dimensi. Islam yang otentik (al ashlah) paling tidak diakui sebagai nilai dan ajaran yang dimuat dalam al-Qur'an.

Pengakuan ini merupakan sikap kesepahaman yang standar dari umat Islam. Tetapi selain itu ada juga Islam yang hidup dan dipratekkan (living Islam) dalam kehidupan. Ada banyak sebutan untuk hal ini, diantaranya; tradisi. Tradisi paling awal dalam Islam adalah Hadis yang mencakup totalitas kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa pesan Islam kepada manusia. Bahwa pesan al-Qur'an (Islam) itu hidup dalam prilaku Nabi Muhammad SAW.

Tetapi dalam perkembangannya tradisi awal itu bersentuhan dengan tradisi lainnya yang disuplai oleh pengalaman kehidupan manusia serta ajaran-ajaran yang hidup sebelumnya. Maka kedatangan Islam dinilai sebagai penyempurna tradisi sebelumnya, menghapuskan yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman (zaman baru itu: Islam) bahkan melanjutkan tradisi yang masih sesuai dengan jiwa zaman.

Hal ini menunjukkan betapa berterimanya Islam dengan tradisi kemanusiaan. Dalam bahasa yang memihak dapat dikatakan Islam datang untuk memperbagus tradisi manusia. Karena sesungguhnya "sangat jarang ketentuan Tuhan bertentangan dengan tatanan dunia".

Dialog dan sinergitas antara Islam sebagai pemasok nilai dengan tradisi sebagai praktek hidup akan terus berlanjut. Dengan lain kata, pemikiran ke-Islaman akan senantiasa menjadi dialog antara Islam dengan tradisi kemanusiaan.

(Illustrated by romadecade.org)
(Illustrated by romadecade.org)

 

(Illustrated by anakminang.com)
(Illustrated by anakminang.com)

Realitas Minangkabau Kekinian 

Latar gagasan sehingga mengadakan acara diskusi terbuka dengan judul "Menyigi Arah Kehidupan Orang Minang Modern" seperti tersebut di atas? Dan apa hasil yang ingin dituju? Membaca Minangkabau hari ini sangat berbeda dengan Minangkabau dahulu.

Keberbedaan ini disebabkan oleh waktu dan orang. Jika dahulu, kebudayaan Minangkabau sangat dijunjug tinggi sejalan dengan agama Islam sekarang yang terjadi justru kebalikannya. Orang Minang dahulu paham melaksanakan adat, sekarang sedikit sekali.

Orang Minang makin kian jauh dengan adatnya apalagi dengan agama Islam yang dianutnya. Adat yang dipetatah petitihkan dengan "indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh" tinggalah ia dalam alam ide bukan realitas.

Menarik apa yang diucapkan oleh Abel Tasman bahwa pemerintahan Provinsi Sumatera Barat belum memiliki Rencana Induk Kebudayaan Sumatera Barat atau Minangkabau. Sehingga ini berujung kepada pemerintahan tidak connect dengan kebudayaan, sastra tidak menjadi kepedulian di sekolah-sekolah.

Belum lagi pola hidup orang minang yang mengalami pergeseran nilai dari agamais menjadi hyper materialisme. Hyper materialisme adalah gaya hidup egolatri (memuja martabat secara berlebihan) yang selalu diarahkan untuk mendewakan harta benda, uang dan kekuasaan.

Apa sesungguhnya yang diperjuangkan oleh orang per orang sehingga merasa perlu membangun kelompok, menabur, menyiang, dan memanen buah dari sistem pedoman hidup seperti adat dan agama? Tidak terkecuali dalam hal negara. Apakah negara masih punya makna? Tidak gampang merumuskan jawaban terhadap pertanyaan ini. Kualitas kehidupan individu sedang buruk. Sistem pengatur hidup pun tersendat oleh hal-hal di luar dan di dalam dirinya.

Karakter dasar manusia yang berkelompok, berhimpun (homo socius; politicus, economicus) dalam pemenuhan kebutuhan hidup memang sudah terpatri dalam buku-buku studi sosial. Akan tetapi dampak atau maknanya masih berjarak dari kemanusiaan itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2