Fajrul Affi Zaidan Al Kannur
Fajrul Affi Zaidan Al Kannur Pengamat Dunia Fana

Lidah akan terus berkata jujur, selagi hatinya ikhlas dan luhur

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kegagalan Komunikasi Politik "Tampang Boyolali"

9 November 2018   23:08 Diperbarui: 9 November 2018   23:34 189 0 0

Terhitung kurang dari enam bulan lagi kontentasi Pemilihan Presiden (Pilpres) akan mencapai ujungnya. Kampanye dan safari politik semakin gencar dilakukan oleh masing-masing pasangan calon yang bertanding dalam Pilpres 2019. Strategi kampanye sudah dispersiapkan secara matang guna menaikkan efek elektoral pasangan calon dan tujuan akhirnya meraih sebanyak mungkin suara di Pilpres tanggal 17 April 2019 nanti. Beberapa hari lalu calon presiden nomer urut 2 Prabowo Subianto melakuakn safari politik dengan menghadiri acara di kabupaten Boyolali. Acara tersebut banyak dihadiri relawan dan kader partai pendukung Prabowo-Sandiaga karena acara tersebut merupakan konsolidasi internal untuk menguatkan tim pemenangan Prabowo-Sandiaga, sekaligus kampanye politik Prabowo di daerah Boyolali. Setelah acara itu usai munculah kehebohan terkait pidato Prabowo Subianto dalam acara tersebut yang menyebutkan diksi "Tampang Boyolali". Tak ayal hal ini mematik kemarahan warga Boyolali hingga berujung adanya demonstrasi dan melaporkan Prabowo ke pihak kepolisian karena dianggap menghina dan merendahkan martabart warga Boyolali. Untuk menelisik lebih jauh, mari kita lihat konteks dan unsur apa saja yang ada dalam perkara yang menghebohkan ini.

Dalam video yang viral beredar di dunia maya adalah sepenggal potongan video yang memuat diksi "Tampang Boyolali" dan bukanlah bagian video yang seutuhnya. Jika dilihat dari video yang seutuhnya memang tidak ada masalah yang terjadi ketika Prabowo menyebut diksi "Tampang Boyolali" karena audiens di tempat itu (saat kejadian) terlihat santai dan justru tertawa bersama-sama. Namun, jika didengar oleh orang lain yang saat kejadian tidak berad di tempat tersebut memnag akan memunculkan sebuah masalah. Dalam konteks komunikasi politik, pesan yang disampaikan Prabowo dalam acara tersebut mengandung blunder yang berakibat adanya gangguan (noise) kepada audiensnya sebagai penerima pesan untuk memaknai pesan yang mereka terima. Sesaat sebelum menyebut diksi "Tampang Boyolali" Prabowo membangun sebuah narasi dimana ia mengkritik pemerintahan sekarang yang gagal dalam menjalankan fundamental perekonomian yang menyebabkan ekonomi Indonesia jatuh seperti sekarang. Lalu, ia menjelaskan tentang banyaknya ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia dengan menganalogikan dimana banyak gedung-gedung bertingkat yang merupakan hotel mewah milik asing yang ada di Jakarta. Hal memiliki makna bahwa Prabowo ingin membangun narasi bahwa keberadaan asing mengancam kehidupan rakyat Indonesia dan dirinya adalah salah satu orang yang anti terhadap asing serta berpihak kepada rakyat Indonesia. Namun, narasi bagus yang telah dibangun dengan sedemikian rupa dengan sekejap lenyap karena adanya hambatan (noise) tadi yang diakibatkan munculnya kata "Tampang Boyolali" yang dianggap sebagai kata-kata sensitif bagi sebagian orang.

Dalam elemen komunikasi politik, kasus ini sebetulnya menunjukkan bahwa Prabowo ingin mendapatkan respon positif yang dapat memperkuat keyakinan masyarakat untuk memilih dirinya. Namun, blunder yang terjadi mengakibatkan adanya gangguan (noise), sehingga pesan yang sebetulnya ingin disampaikan justru lenyap dan membuat audiensnya gagal paham. Hal inilah yang dijadikan lawan politiknya sebagai senjata serangan balik untuk dirinya. Dengan membangun narasi bahwa "Tampang Boyolali" yang disampaikan Prabowo adalah bentuk penghinaan yang merendahkan martabat orang Boyolali, sehingga memunculkan demostrasi besar di wilayah Boyolali. Fenomena ini muncul terkait adanya opini publik yang muncul. Opini publik merupakan bagian dari komunikasi politik. Menurut Bernard Hennesy opini publik adalah kompleks preferensi terhadap suatu isu yang berkaitan dengan umum yang dilakukan oleh sekelompok orang. Preferensi bisa berbetuk dukungan atau penolakan. Opini merupakan sebuah ekspresi dari sekelompok orang mengenai suatu isu. Dalam kasus "Tampang Boyolali" ini memang memiliki elemen-elemen untuk melahirkan suatu opini publik yaitu

  • Isu
  • Masyarakat yang memiliki keterkaitan dan kepentingan
  • Kompleksitas preferensi
  • Ekspresi
  • Sejumlah orang yang membahasnya

Elemen- elemen yang sudah ada ini juga didukung dengan suasana politik yang memanas menyongsong Pilpres 2019, sehingga efek yang ditimbulkan lebih dahsyat dari biasanya karena sudah dibumbui dengan aroma politik dari masing-masing pihak yang berkepentingan. Efek yang ditimbulkan, berupa kegaduhan di masyarakat yang sudah tentu bukanlah hal yang baik untuk kehidupan bangsa kedepannya. Maka dari itu, perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik kepada masyarakat. Serta para elite mulailah untuk mengganti budaya politik seperti sekarang, yang lebih menonjolkan sisi sensasional dibandingkan dengan adu program atau visi misi yang dibutuhkan sebagai penyegaran gagasan dan juga digunakan untuk penilaian dalam memilih calaon pemimpin idaman yang mampu membawa kehidupan bangsa Indonesia menjadi lebih baik dimasa depan.

Sumber gambar : http://cdn2.tstatic.net/makassar/foto/bank/images/survei-terbaru-pilpres-2019-lsi-denny-ja_20180821_191912.jpg