Mohon tunggu...
Fajar Nugroho
Fajar Nugroho Mohon Tunggu...

Bapak dengan dua orang anak, mengabdi untuk pendidikan\r\n\r\nwww.fajaralayyubi.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kelahiran – Kelahiran Sesar Negeri Ini

12 November 2012   11:40 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:33 307 0 0 Mohon Tunggu...

Setengah abad lebih negeri ini lepas dari cengkeraman kekuasaan negeri lain. Selama itu juga Indonesia lahir sebagai sebuah negara baru yang bebas tanpa campurtangan negara asing. Negara ini mencoba mencari bentuk yang ideal. Sehingga lahir masa-masa penting yang mewarnai perjalanan panjang sejarah. Setidaknya lahir tiga masa besar sepanjang berdirinya negara ini, orde lama, orde baru dan terakhir reformasi. Namun lahirnya tidak semulus yang diharapkan, jika diibaratkan dengan lahirnya seorang bayi, masa-masa itu lahir melalui sesar dengan banyak pendarahan bahkan ada juga yang prematur.

Orde lama terlahir sebagai konsekuensi dari sebuah negara yang berdaulat. Elit pemerintahan negeri ini berusaha untuk membentuk suatu pemerintahan yang bebas serta mampu mewujudkan cita-cita negara. Ideologi-ideologi yang dulu sempat mampat di masa penjajahan kini telah terbuka untuk disosialisasikan bahkan diaplikasikan ke dalam sistem kenegaraan. Maka munculah pertarungan ideologi diantara elit politik waktu itu agar negara ini dijalankan sesuai dengan ideologinya. Dari sini muncul masalah utama yang harus dihadapi bangsa Indonesia pada waktu itu yaitu persatuan dan kesatuan nasional.

Pada masa demokrasi liberal dan awal demokrasi terpimpin di dekade 1950an terjadi beberapa pemberontakan daerah yang signifikan sebagai akibat dari ketidakmampuan pamerintah untuk mengakomodasi ideologi-ideologi baru yang telah menjamur untuk dimasukkan ke dalam sistem kenegaraan. Mereka berusaha untuk membentuk negara sendiri sesuai dengan ideologi yang dianutnya. Selain itu munculnya pemberontakan-pemberontakan di daerah didorong oleh kekecewaan terhadap sistem pemerintahan yang sentralistis yang tidak memberikan ruang yang memadai terhadap daerah. Para politisi daerah di awal kemerdekaan yakin bahwa otonomi daerah merupakan syarat minimal yang memungkinkan daerah untuk menjaga kepentingannya. Namun, pemerintahan yang berjalan sampai menjelang 1957 cenderung bersifat sentralistis. Pembentukan Republik Indonesia Serikat di akhir 1940an dengan cepat dikembalikan lagi ke bentuk negara kesatuan. Para birokrat dan profesional cenderung untuk menghalangi proses desentralisasi. Kondisi ini menimbulkan kekecewaan yang tinggi di kalangan politisi daerah. Satu lagi sebab munculnya pemberontakan-pemberontakan di daerah adalah ketimpangan ekonomi antara Jawa dan luar Jawa. Penduduk luar Jawa merasa dikuras sumber daya alamnya untuk kepentingan masyarakat di Jawa.

Puncak ’penyakit’ orde lama terjadi saat keamanan dalam negeri tidak kodusif menyusul demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang menuntut Soekarno mundur. Kemudian PKI sebagai sebuah upaya untuk membentuk negara Komunis di Indonesia mencoba memanfaatkan keadaan demikian untuk mengkudeta kekuasaan yang ada. Maka terjadilah pemberontakan G/30/S/PKI. Banyak korban menjelang tansisi orde lama menuju orde baru. Terlepas dari kontroversinya, Soeharto dengan Supersemarnya mampu mengendalikan keadaan sekaligus ’merebut’ kekuasaan tertinggi Indonesia.

Orde baru lahir, ia mampu menjaga stabilitas negara dan mengeluarkan Indonesia dari beberapa masalah utama yang terjadi pada orde lama. Orde baru mampu menyelesaikan masalah terkait ideologi negara menjadi asas tunggal Pancasila. Ketidaksetujuan atas asas negara dibabat habis pada masa orde baru. Tidak ada kompromi terhadap Pancasila. Militer menjadi senjata utama penyelesaian masalah. Kekuasaan Soeharto mampu membuat mekanisme kontrol yang sedemikian rupa sehingga stabilitas negara terjaga walaupun sebenarnya ia rentan. Kekerasan militer maupun hukum memandulkan gerakan-gerakan yang mencoba merongrong kekuasaan. Politik diperankan oleh aktor tunggal yang otoriter dan represif. Di bidang ekonomi, tak jauh keadaannya dari orde lama. Sentralisasi ekonomi semakin memperluas jarak antara pusat dan daerah. Namun kekuasaan mampu penutupi borok itu dengan manis melalui kekuatan militer.

Penggunaan kekuatan militer menjadikan Indonesia sebagai negara yang stabil namun semu karena rakyat tidak memiliki kebebasan sebenarnya dalam bernegara. Suara tidak puas dari rakyat di daerah dan lawan politik Soeharto yang menderita dan tertindas berujung pada terjadinya demonstrasi besar-besaran menuntut Soeharto mundur pada tahun 1998. Lahirnya perubahan tentunya harus dibayar mahal. Sekalipun dengan darah. Sejumlah mahasiswa tertembak saat aksi besar-besaran 1998. Tapi semua terbalaskan setelah mundurnya Soeharto.

Reformasi bergulir membuka kesempatan kembali bagi ideologi-ideologi yang sempat mampat berkembang kembali. Semua serba transparan, era keterbukaan dimulai. Perilaku militer menjadi sorotan publik. Demonstrasi kini ditangani secara persuasif bukan represif. Perilaku elit pemerintah adalah tontonan sehari-hari. Media dan masyarakat memegang kontrol berjalannya negeri ini. Namun seakan gagap, masyarakat terlalu kebablasan mengahdapi reformasi sehingga tak ada lagi ruang pembatas antara publik dan pribadi. Sikap yang permisif mengijinkan masyarakat untuk berbuat seenaknya. Atas nama kebebasan dan HAM, mereka berbuat tanpa tanggung jawab. Kalau dulu mahasiswa ditangkap karena pemikirannya, kini mahasiswa ditangkap karena tindakan anarkisnya. Mungkin ini salah satu bentuk kegagapan itu. Centang perenang tak karuan karena kebebasan yang kebablasan. Inilah gambaran awal reformasi. Orde prematur yang gagap menghadapi kebebasan.

Berkembangnya pemikiran masyarakat, serta tumbuhnya kemapanan bernegara lambat laun membawa bangsa ini menjadi bangsa yang dewasa. Setidaknya walaupun sesar maupun prematur negara ini terlahir, harapannya ia akan menjadi negara yang semakin dewasa. Kalaupun orde yang lebih baru kembali terlahir, ia akan lahir secara normal. Waktu datang sebagai sebuah solusi.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x