Mohon tunggu...
Fajar
Fajar Mohon Tunggu... PEZIARAH DI BUMI PINJAMAN

menulis jika ada waktu luang

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Apa Batasan Seni dan Pornografi?

3 Oktober 2012   17:22 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:18 2108 29 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apa Batasan Seni dan Pornografi?
134928801465352157

[caption id="attachment_202436" align="aligncenter" width="612" caption="Salah Satu Lukisan Michelangelo di Kapel Sistina-Vatikan (Sumber Ilustrasi: oilpainting-frame.com)"][/caption]

Bagi yang sempat jalan-jalan ke Roma dan sempat mampir di Kapel Sistina-Vatikan anda akan terkejut menyaksikan bahwa di tempat Kudus/tempat berdoa justru terpampang gambar-gambar manusia telanjang. Di langit-langit kapel penuh dengan lukisan tubuh manusia telanjang. Ada tubuh pria telanjang dengan gambar palus tanpa tutup, wanita-wanita bertelanjang dada dengan panyudara terpampang jelas, ada juga yang menampilkan pantat yang terbuka. Apa kira-kira reaksi yang akan muncul di dalam pikiran anda? Bagaimana mungkin tempat kudus, tempat berdoa dihiasi oleh lukisan-lukisan telanjang? Reaksi masing-masing kita sangat menentukan seberapa jauh kita memahami tubuh kita dan tubuh sesama.

Siapakah pelukisnya? Dia tiada lain adalah Sang Maestro Seni rupa dunia, Michelangelo. Lukisan pada langit-langit kapel itu dikerjakannya selama empat tahun (1508-1512) atas perintah PausYulius II.  Berdasarkan mandat dari Paus Yulius III ia melukis tembok latar altar utama selama tujuh tahun (1534-1541) hingga menghasilkan lukisan Pengadilan Terakhir.  Beberapa tahun kemudian, terlebih setelah Konsili Trento (1545-1563), muncul larangan bagi penggambaran tubuh telanjang manusia dalam karya seni rohani apa pun. Demikianlah bagian-bagian tertentu dalam tubuh telanjang manusia pada lukisan di Kapel Sistina itu mulai ditutupi dengan lukisan-lukisan kain penutup atau sengaja ditutup.

Setelah lebih dari empat abad berlalu muncullah Paus Yohanes Paulus II yang dalam proyek restorasi Kapel Sistina meminta agar lukisan-lukisan kain penutup yang ditambahkan kemudian itu dikerok lepas. Dalam upacara pendedikasian kembali Kapel Sistina pada 8 April 1994 ia menegaskan, bahwa kapel itu secara istimewa menjadi “tempat kudus bagi teologi tubuh manusia.” Tubuh telanjang manusia adalah pintu masuk bagi manusia berdosa untuk bersentuhan dengan kekudusan Allah. Dengan melihat tubuh telanjang itu tiap manusia diundang untuk dibebaskan dari kebingungannya akan arti tubuhnya.

Yohanes Paulus II melihat, bahwa untuk menciptakan tatadunia yang lebih baik, hal penting yang perlu dikerjakan adalah membawa kembali tiap manusia pada pemahaman yang benar tentang tubuhnya sebagai perempuan, dan tubuhnya sebagai laki-laki. Untuk tujuan ini, ia menyampaikan serangkaian ceramah pada kesempatan-kesempatan audiensi umum selama lima tahun pertama masa kepausannya (1979-1984). Kumpulan 135 ceramah yang disiapkannya ini kemudian dikenal sebagai Teologi Tubuh yang oleh banyak pihak dilihat sebagai "bom waktu" yang akan menghancurkan industri seks dunia. Karena perpektif yang keliru atas tubuh manusialah yang menyebabkan industri seks kian menjamur!

Teologi tubuh Yohanes Paulus II mau mengembalikan cara pandang manusia atas tubuhnya sendiri dan tubuh sesamanya. Intinya, tubuh manusia adalah Mahakarya unik dari Sang Seniman agung yang harus dilihat sebagai satu kesatuan. Ketika tubuh dimutilasi melalui persepsi yang terkotak-kotak, maka tubuh manusia akan dilihat sebagai "objek." Ketika panyudara wanita bertelanjang dada dilihat secara terpisah dari keseluruhan kebertubuhannya, maka yang terjadi adalah objektivasi yang mengantar orang pada kesimpulan porno. Ketika lukisan panyudara wanita atau palus pria dilihat sebagai sebuah keseluruhan, maka yang muncul adalah rasa kagum yang mendalam yang mengantar orang sampai kepada Sang Seniman Agung yang menciptakannya sedemikian apik dengan fungsi-fungsinya yang khas bagi kehidupan.

Sekedar share pengalaman kegelisahan ketika bersentuhan dengan kenyataan bagaimana saya harus memandang tubuh telanjang dengan perspektif yang benar. Pertama kali memasuki bumi Borneo di tahun 2009, saya mengalami sebuah pengalaman real bagaimana seharusnya mengapresiasi dan memandang tubuh telanjang sebagai sebuah keindahan. Ketika itu saya ditugaskan pedalaman sungai Kapuas. Saya harus hidup bersama beberapa kelompok sub suku Dayak pedalaman. Sebagaimana tuntutan pekerjaan, saya harus benar-benar membaur di dalam ritme kehidupan mereka. Salah satunya adalah harus mandi di sungai bersama masyarakat Dayak Punan dan Bukat di perhuluan Sungai Kapuas.

Di sana saya menyaksikan sebuah pemandangan yang mengubah cara pandang saya terhadap tubuh manusia. Umumnya setiap ibu yang telah melahirkan-berapa pun umurnya -ketika mandi, bertelanjang dada dan hanya bagian bawahnya ditutupi kain. Sebagai pria yang dibesarkan dalam tradisi yang harus membungkus rapat-rapat seluruh organ vital, awalnya saya terkejut menyaksikan pemandangan demikian. Namun, perlahan-lahan saya mulai membiasakan diri memandang panyudara para ibu yang terbuka ketika mandi bersama di Sungai Kapuas tersebut tidak jauh berbeda dengan daun telinga, tangan, dan anggota tubuh lainnya.

Awalnya saya sedikit kikuk untuk membalas guraun mereka: saling siram berhadap-hadapan, karena pikiran saya selalu ngeres ketika memandang panyudara mereka yang bentuknya masih bagus-bagus. Perlahan-lahan saya pun harus belajar untuk bertobat, untuk memandang tubuh mereka sebagai satu kesatuan. Ketika saya masih memandang panyudara mereka yang terbuka sebagai objek, maka yang muncul adalah pikiran ngeres dan akan menyimpulkan apa yang mereka lakukan adalah sebuah aksi pornografi. Namun ketika saya memandang mereka sebagai pribadi yang menubuh dalam satu kesatuan mulai dari rambut sampai telapak kaki, maka pikiran ngeres saya pun hilang.

Oleh karena itu, pornografi sebenarnya terjadi ketika saya memandang tubuh orang lain sebagai objek seks semata. Jika saya memandang setiap anggota tubuh orang lain sebagai satu kesatuan yang membentuk sebuah karya seni, maka saya tidak akan gegabah mengadilinya sebagai sebuah bentuk pornografi.

Pengalaman perjumpaan dengan ibu-ibu pedalaman Sungai Kapuas mengajarkan saya sebuah sudut pandang real dari teori filsafat dan teologi tubuh yang saya pelajari. Mereka mengajari saya dengan praktik bahwa marilah merayakan penghargaan atas tubuh manusia sebagai subjek yang mempribadi dalam kepriaan dan kewanitaan. Marilah membebaskan tubuh kita dan sesama dari cara pandang yang keliru dan sempit. Ketika panyudara dan alat kelamin hanya dilihat dalam fungsinya sebagai alat pemuas seksual, maka yang terjadi adalah pendangkalan besar-besaran dalam pemaknaan atas tubuh manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x