Mohon tunggu...
Faiz Yajri
Faiz Yajri Mohon Tunggu...

Pengagum alam Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

(Agar) Stunting (Tak) Bikin Pening

28 September 2018   06:39 Diperbarui: 28 September 2018   06:45 594 1 0 Mohon Tunggu...
(Agar) Stunting (Tak) Bikin Pening
Anak Indonesia

Bak musuh dalam selimut. Stunting ternyata diam-diam mengerogoti perekonomian Indonesia. Hasil riset Bank Dunia (2017) menggambarkan kerugian ekonomi akibat stunting mencapai 3% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Jika nilai PDB Indonesia 2017 sebesar Rp13.000 triliun, kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan mencapai Rp390-triliun.

Besarnya kerugian yang ditanggung akibat stunting lantaran naiknya pengeluaran pemerintah terutama jaminan kesehatan nasional yang berhubungan dengan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes, ataupun gagal ginjal. Harap mafhum, ketika dewasa anak yang menderita stunting mudah mengalami kegemukan sehingga rentan terhadap serangan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, ataupun diabetes.

Di sisi lain, stunting juga bisa menghambat potensi transisi demografis Indonesia dimana rasio penduduk usia tidak bekerja terhadap penduduk usia kerja menurun. Itu menggenapi ancaman lainnya berupa pengurangan tingkat intelejensi sebesar 5-11 poin.

Saat dewasa, anak yang terkena stunting pun pendapatannya rentan memperoleh 20% lebih rendah lantaran produkvitas mereka berkurang. Hal tersebut imbas pendidikan lebih rendah yang berujung pada pekerjaan dengan pemasukan lebih kecil.  Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, pernah mengibaratkan anak yang mengalami stunting itu sudah kalah bahkan sebelum bertanding.

Stunting sendiri merujuk pada kondisi tinggi balita lebih pendek dari tinggi badan seumurannya. Istilah lain, kekerdilan. Terjadinya stunting bukan sesuatu yang tiba-tiba. Stunting timbul lantaran kekurangan gizi dalam waktu yang lama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Yakni, sejak janin masih dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

Sejatinya, stunting bukan persoalan baru di Indonesia. Nukilan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2007 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan menunjukkan angka prevalensi stunting secara nasional sebesar 36,8%. Angka prevalensi stunting pada Riskedas 2010 menurun tipis menjadi 35,6%.

Selanjutnya pada Riskedas 2013, angka prevalensi stunting kembali beringsut naik tipis menjadi 37,2%. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2015, prevalensi  Balita Indonesia yang mengalami stunting berhasil kembali turun menjadi 29,1%. Angka stunting kembali turun menjadi 27,5% berdasarkan PSG 2016. Hasil PSG 2017, angka prevalensi stunting kembali merambat naik tipis menjadi 29,6%.

Prevalensi angka Balita stunting di Indonesia sendiri masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20%. Dari 34  provinsi yang ada di seantero Indonesia, berdasarkan PSG 2017, hanya ada 2 provinsi yang berada di bawah ambang batas yang ditetapkan WHO.

Dua provinsi Yogyakarta sebesar 19,8% serta Bali dengan angka 19,1%. Saat ini diperkirakan ada 9 juta anak Indonesia yang menderita stunting. Artinya, 1 dari 3 anak Indonesia didera stunting. Secara global sendiri menurut WHO, sebanyak 22,9% atau setara dengan 154,8-juta anak Balita mengalami stunting.

Stunting menjadi penghambat hadirnya generasi Indonesia Sehat di masa kini dan mendatang. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pun telah berkomitmen penuh untuk menurunkan angka stunting lewat kerjasama lintas sektor yang terintegrasi. Pun, penetapan 100 kabupaten/kota sebagai lokasi prioritas penanganan stunting nasional. Penanganan stunting memang tidak bisa bersifat sektoral.

Penanganan stunting bisa dilakukan melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik ditujukan pada sasaran kepada ibu hamil dan anak dalam 1.000 HPK.  Masa 1.000 HPK ini penting lantaran pada periode ini merupakan masa emas pertumbuhan anak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x