Film

Film "Pria", Kostumnya Tanda Tanya

21 November 2018   20:53 Diperbarui: 21 November 2018   21:41 185 0 0
Film "Pria", Kostumnya Tanda Tanya
Grafis Pembuka Film

Sebuah film berjudul "Pria" menarik perhatian saya saat sedang  berselancar di youtube. Film arahan Yudho Aditya ini awalnya saya kira  akan bercerita mengenai kehidupan pria yang tidak dimengerti oleh  wanita. Namun ternyata judul yang hanya satu kata itu mempunyai cerita  yang sangat kompleks, pria yang menyukai sesama pria apakah masih tetap  pria? Sebuah pertanyaan besar dalam benak saya ketika melihat film ini.  Namun pembahasan dalam tulisan ini bukanlah mengenai pertanyaan saya,  melainkan identitas pria homoseksual lewat baju yang seharusnya dipakai  oleh tokoh homoseksual dalam film ini.

Film yang rilis tahun 2017 ini diawali dengan grafis kampanye mengenai LGBT. Kemudian disusul oleh adegan Aris (Chico Kurniawan) dan Ibunya yang membawa seserahan untuk melamar Gita. Sekilas tak ada yang aneh dari adegan ini. Mengacu pada ahli semiotika Roland Barthes dan Gillian Dyer, keahlian berpenampilan mampu diasosiasikan dengan pilihan warna-warna pakaian yang dikenakan laki-laki homoseksual yang cenderung berwarna terang seperti hijau, kuning, merah muda dan warna pastel lainnya. Bagi beberapa orang, warna-warna tersebut akan didekatkan dengan warna pakaian feminim, sehingga dalam hal ini, gender laki-laki homoseksual terbentuk. Namun, tokoh Aris dalam film "Pria" terlihat sama sekali tak pernah mengenakan pakaian dengan warna-warna cerah, selalu dengan pakaian dengan warna dingin nan kalem. Saat adegan melamar Gita, Aris menggunakan kemeja batik dengan warna biru dongker dan peci. Jika di awal film tidak ada tulisan mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender), maka adegan ini hanya akan terasa seperti seorang lelaki normal dalam perjalanan melamar wanita.

Cuplikan Adegan
Cuplikan Adegan
Pakaian Harian Aris
Pakaian Harian Aris
Penggunaan peci kepada tokoh Aris juga masih melekatkan citra pria sholeh. Aris dari film yang berdurasi 21 menit 49 detik ini juga ditampilkan sebagai seorang laki-laki yang taat beragama.  Semakin jauh dari kesan homoseksual. Tapi siapa yang menyangka, pria berpeci itu adalah seorang yang berorientasi seksual ke sesama jenis. Baju-baju harian Aris juga tak mencolok, hanya warna abu-abu, krem, dan putih yang dipakai Aris. Tak ada baju berbunga-bunga ataupun dengan warna terang untuk menandakan bahwa tokoh Aris adalah seorang homoseksual.

Sesuai dengan teori Barthes dan Dyer, film ini dari segi kostum kurang menonjolkan karakter Aris sebagai seorang homoseksual. Atau mungkin, film ini memang disengaja mamakai kostum lelaki pada umumnya yang suka warna-warna netral untuk menunjukkan sebuah ironi bagi pria homoseksual yang hidup dalam masyarakat timur?