Mohon tunggu...
Faiz Romzi Ahmad
Faiz Romzi Ahmad Mohon Tunggu... Mahasiswa di Perguruan Tinggi Islam di Banten

Menulis adalah tanda bahwa kau pernah hidup

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Obrolanku dengan Mama Ono

3 Mei 2019   14:54 Diperbarui: 3 Mei 2019   15:15 0 1 0 Mohon Tunggu...
Obrolanku dengan Mama Ono
Mama Ono

Hari itu, aku bertamu ke rumah seorang Kyai kampung, saat ku temui Ia sedang asyik dengan kitabnya, membaca dan mengingat kembali daya pahamnya. Masyarakat sekitar menyapa akrab dengan sapaan Mama Ono. 

Beliau seorang petani yang juga Kyai, legitimasi Kyai dalam tradisi masyarakat adalah murni pemberian dari mayoritas masyarakat, diberikan untuk seorang yang tingkat kepahaman agamanya tinggi.

Ya, beliau adalah petani tulen. Dalam pertemuan singkat itu dengan santai sambil menghisap rokok minak djinggo kesukaannya Ia bercerita banyak kepadaku, bagaimana mengelola, merawat atau memelihara, lalu menjual hasil taninya. 

Ada yang membuatku kagum, heran, takjub dan apapun itu yang menggambarkan kehebatan Mama Ono. Yang kudengar dan kulihat putera/i beliau adalah orang-orang terpelajar.

Kami lanjut dalam obrolan, Mama bercerita tentang masa mudanya. Mama adalah sosok pejuang bagiku, lewat institusi keagamaan Mathlaul Anwar Ia berdakwah, menyebarkan visi Islam yang rahmatan lil alamin, Ia pernah menjadi guru ngaji/tenaga pendidik di Mathlaul Anwar dipelosok Lampung, Jawa Tengah, dan beberapa daerah lainnya. 

Ia hadir ditengah masyarakat kampung, membentuk karakter manusia desa lewat pendidikan. Sampai sekarang pun di usianya yang senja Ia masih jagjag waringkas, turut berkontribusi aktif dan mengelola Perguruan MA Sukalangu-Langensari yang menaungi beberapa madrasah dari tingkat MI, MDA, MTs, sampai MA, dan turut mengisi ta'lim ibu-ibu atau bapak-bapak dikampung.

Di tengah perbincangan aku sempat memotong sedikit percakapan diantara kami, aku bertanya kok bisa putera/i Mama jadi seperti sekarang, apa rahasianya?" Beliau menyeruput kopi hitam sebelum menyahut pertanyaan ku tadi. "Mama mah tani, ya begini tani mah, pergi ke kebun, ke sawah, ke ladang, mengelola, merawat, tumbuh, lalu panen." Rotasinya demikian. Lebih lanjut Mama bercerita "Alhamdulillah bisa menyekolahkan anak sampai tingkat tertinggi".

Yang aku tahu putera/i beliau adalah orang-orang terpelajar, ada yang dosen di perguruan tinggi negeri, dosen di perguruan tinggi swasta, pengusaha, guru, bahkan rektor universitas. Ini yang membuat keherananku mencapai titik kulminasinya. 

Mama bercerita bahwa hasil tani yang Ia jual dengan segala keterbatasannya bisa menyekolahkan putera/i nya, aku sudah tau Mama adalah sosok yang iklas dan istiqomah menjadi guru ngaji/tenaga pendidik, dengan bekal itulah hematku menyimpulkan bahwa rahasianya ada disana.

Ilmu Allah dan nikmat Allah memang jika ditinjau dari segi apapun tidak bisa dikomentari dan memanglah luas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x