Mohon tunggu...
Faisol  rizal
Faisol rizal Mohon Tunggu... akademisi, penulis lepas

Berbahagia dengan Membaca, Berbagi dengan Menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mengubah "Insecure" Menjadi Bersyukur ala Kaum Stoa

24 Agustus 2020   18:33 Diperbarui: 25 Agustus 2020   16:29 741 18 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengubah "Insecure" Menjadi Bersyukur ala Kaum Stoa
ilustrasi Insecure. (sumber gambar: Nate Neelson on Unsplash)

Di zaman yang sudah serba modern dan semua informasi sangat mudah untuk diakses, kita dituntut untuk mampu mengikuti perubahan zaman dan mampu memilah serta memilih informasi dengan sangat bijak. 

Pada era informasi seperti sekarang, kita dimudahkan untuk mendapatkan informasi atau memberikan informasi dari dan kepada siapa saja. Hal tersebut tentunya memiliki sisi positif dalam segi kemampuan untuk mengelola informasi dengan lebih mudah dan murah. 

Sebagai contoh, kita dapat mengakses ke berbagai macam pengetahuan dengan modal googling atau mempelajari kemampuan-kemampuan baru dengan menonton Youtube. 

Tetapi, kemudahan-kemudahan akses terhadap informasi tersebut harus kita sikapi dengan bijak karena terdapat sisi negatif juga dibaliknya.

Tak jarang dengan banyaknya informasi tersebut kita mengalami Cognitive Overload, yaitu ketika otak kita dipenuhi dengan berbagai data dan informasi baik yang berkualitas maupun yang tidak berkualitas. 

Sehingga tak jarang kita kewalahan dan kebingungan untuk memilah-milah mana informasi yang penting dan mana informasi yang tidak penting. Belum lagi pada era banjir informasi ini tidak hanya membawa informasi yang berkualitas, tak sedikit informasi-informasi yang tak penting atau bahkan hoax pun ikut terbawa arus.

Tak dapat dipungkiri, banjir informasi juga muncul dari lingkup pertemanan kita sendiri di media sosial, seperti Instagram, Facebook, WhatsApp dan sebagainya.

Dari media-media sosial tersebut kita dapat mengetahuhi aktivitas apa yang sedang dilakukan, momen apa sedang terjadi, atau pencapaian apa yang sedang digapai oleh orang-orang di lingkup pertemanan kita. 

Hal yang sangat wajar sekali karena selain sebagai media komunikasi, media sosial tersebut juga bisa dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan eksistensi penggunanya.

Insecure

Sering sekali terjadi, berawal dari media-media sosial dengan melihat status atau cerita yang dibagikan teman yang sebenarnya hanya memuat kegiatan dan pencapaiannya, tak jarang muncul rasa "minder" dengan apa yang sedang dilakukan atau dicapai oleh orang-orang di lingkup pertemanan kita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN