Mohon tunggu...
Faishal Yazid Hibatullah
Faishal Yazid Hibatullah Mohon Tunggu... Penulis - Sosiolog Pemula

Penulis adalah lulusan dari Pendidikan Sosiologi UPI yang mencoba menuangkan buah pikiran, pandangan serta pendapat melalui karya tulis.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Fenomena Panic Buying Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19

10 Juli 2021   14:45 Diperbarui: 14 Juli 2021   13:31 220 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Fenomena Panic Buying Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19
Penulis kehabisan stok produk

Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah berlangsung sekitar 1,5 tahun. Data menyebutkan hingga hari ini lonjakan kasus konfirmasi terpapar Covid-19 di Indonesia per 8 Juli 2021 mencapai 2,42 juta jiwa (covid19.go.id). Berbagai cara sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk menekan jumlah lonjakan kasus Pandemi Covid-19 yang sangat tinggi. Dimulai dari  gerakan 5M (Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan pakai sabun atau handsanitizer, Menjauhi kerumunan dan Membatasi mobilitas) yang selalu dihimbau dan diingatkan terus menerus kepada masyarakat luas.

Upaya Pemerintah Indonesia dalam mengatasi adanya Pandemi Covid-19 cukup serius, selain gerakan 5M (Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan pakai sabun atau handsanitizer, Menjauhi kerumunan dan Membatasi mobilitas) tadi. Pemerintah juga menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga saat ini ada sebutan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Upaya Pemerintah Indonesia terakhir yaitu adanya program vaksinasi massal bagi masyarakatnya.

Masyarakat yang baik adalah taat pada aturan berlaku. Hal tersebut dilakukan demi kebaikan bersama, kendati demikian masih ada sebagian masyarakat menganggap bahwa Pandemi Covid-19 adalah suatu konspirasi elite global. Belajar tertib sosial adalah kunci untuk menghadapi wabah Pandemi Covid-19 ini. Lanskap persoalan dalam ranah tertib sosial memaparkan mozaik potensi ancaman, problem konkret, sekaligus harapan-harapan dalam menghadapi situasi baru (Sulistyo, H., 2015).  Sinergi antara kepercayaan dan ketaatan masyarakat akan aturan pemerintah harus dibangun demi mewujudkan tertib sosial dalam menghadapi ancaman Pandemi Covid-19 agar tidak terjadi lonjakan terus menerus dan wabah cepat menghilang.

            Tertib sosial mulai diterapkan oleh masyarakat sedikit demi sedikit seperti menaati aturan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Masyarakat mulai aktif berolahraga di rumahnya sendiri, menjaga pola istirahat serta mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuhnya sendiri. Disisi lain muncul fenomena panic buying atau pembelian panik karena takut kehabisan stok. Perilaku panic buying ini disebabkan karena adanya ketakutan, kecemasan, perasaan tidak aman, konflik psikologis, stres, persepsi ketidakpastian dan paparan media (Shadiqi, et al., 2020). Menarik bagi penulis untuk mengangkat salah satu contoh fenomena dari panic buying itu sendiri yaitu dimana masyarakat terpengaruh oleh suatu kabar bahwa membeli susu bermerek dapat meningkatkan imun bahkan melawan Covid-19 yang ada di dalam tubuh.

            Fenomena panic buying dengan membeli susu bermerek untuk mencegah bahkan mengobati Pandemi Covid-19 sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut dinilai bahwa susu bermerek memiliki sejumlah kandungan gizi kompleks. Selain susu bermerek merupakan susu sapi yang telah disterilkan mengandung kalori lengkap dan aman dikonsumsi segala usia, susu bermerek tersebut diyakini diminati oleh masyarakat karena kemasannya yang tidak mudah robek, pecah, rusak, ataupun penyok sehingga menumbuhkan kepercayaan masyarakat untuk membelinya (Nababan, N. S., 2019). Namun benarkah susu bermerek tersebut dapat mengatasi Covid-19? Salah satu ahli saat diwawancara oleh tim CNN Indonesia yaitu Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengatakan bahwa minum susu bermerek tidak bisa mengobati Covid-19. Zubairi juga menghimbau agar masyarakat tidak pilih-pilih konsumsi produk susu di masa pandemi Covid-19. Meminum susu saja tidak cukup, perlu konsumsi makanan sehat bergizi lainnya yang terdiri dari buah, sayur, karbohidrat, kalsium, protein, vitamin dan mineral. Berdasarkan paparan ahli diatas membuktikan bahwa minum salah satu produk susu bermerek saja tidak cukup untuk melawan Covid-19.

       Fenomena panic buying dalam perspektif Sosiologi, penulis ingin menyoroti kepada beberapa oknum yang sengaja membeli produk susu bermerek tersebut dalam jumlah banyak kemudian dijual kembali kepada masyarakat dengan harga yang lebih tinggi. Berdasarkan paparan tokoh Sosiologi yaitu Karl Marx. Menilai konsep kapitalisme Marx tidaklah menekankan pada aspek politik semata tetapi juga pada aspek ilmu ekonomi yang pernah ditempuhnya beberapa tahun. Artinya sebelum menilai lebih jauh tentang kapitalisme, Marx terlebih dahulu mendalami konsep yang dipakai oleh sistem kapitalisme itu, sehingga apa yang diutarakan oleh Marx dalam berbagai konsep, kritiknya merupakan sesuatu yang terjadi dalam diri mereka. Marx dengan kemampuan ilmu ekonominya menilai bahwa konsep kapitalisme adalah sistem sosio ekonomi yang dibangun untuk mencari keuntungan yang didapat dari proses produksi. Marx membongkar habis kapitalisme lewat revolusi kelas proletariat dari perspektif sejarah materialis, maka pada Das Kapital, ia mengurai kapitalisme dari analisis ekonomi kapitalis. Menurut Karl Marx, sistem kapitalisme akan menemui kesulitan-kesulitan yang timbul karena adanya kontradiksi internal yang muncul dalam sistem itu sendiri. Persaingan yang sengit dalam pasar memaksa produsen untuk mencari cara baru untuk meningkatkan tingkat produksi (Deliarnov, 2003).

Situasi Pandemi Covid-19 yang mengubah seluruh lini aspek kehidupan khususnya sosial-ekonomi masyarakat. Penulis hanya ingin menyampaikan untuk lebih peduli lagi kepada lingkungan sekitar kita. Kita harus bisa menjaga kesehatan diri sendiri, kesehatan orang lain, kebersihan lingkungan dan patuh terhadap aturan pemerintah demi kebaikan bersama. Selain hal yang disebutkan sebelumnya, penulis ingin menekankan kepada semuanya agar senantiasa untuk peduli dan membantu orang-orang di sekitar kita, masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Peduli dan membantu sesama adalah tugas mulia yang harus dijalankan pada masa-masa sulit seperti ini, bukan malah ingin memperkaya dan memuaskan diri sendiri saja.

DAFTAR PUSTAKA

1. covid19.go.id

2. Sulistyo, H. (2015). Stabilitas dan Tertib Sosial. Jurnal Keamanan Nasional, 1(3), 321-340.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan