Mohon tunggu...
faisalnugraha sitorus08
faisalnugraha sitorus08 Mohon Tunggu... Saya Seorang Mahasiswa UIN Sumatera Utara

Saya seorang Mahasiswa Sejarah Uin Sumatera Utara

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bekas Rumah Kerajaan Siantar, Situs Sejarah Siantar

13 Agustus 2020   22:22 Diperbarui: 13 Agustus 2020   22:17 125 0 0 Mohon Tunggu...

Siantar Na Lihou adalah konsepsi yang berasal dari Bahasa Simalungun yang berarti 'wilayah datar diantara' yakni dua perairan luas yaitu Danau Toba dan Selat Malaka. Disebut bahwa kedua perairan ini sangat bersih (lihou) sehingga menambah panorama (keindahan) Siantar. Jadi konsepsi yang sering di sebut 'Matio' adalah kesalahan besar karena sesungguhnya adalah 'Na Lihou'. 

Namun, masuknya pengaruh bahasa lain mengakibatkan pergeseran konsep itu menjadi Matio yang juga berarti bersih. Pematangsiantar dewasa ini adalah wilayah kultural Simalungun. Penyebutan ini disebabkan pemisahan Siantar sejak tahun 1917 sebagai kota atau Gemeente. Kota Siantar yang disebut dengan Gemeente sejak 1917 itu adalah pamatang (ibukota) Kerajaan Siantar yang terdiri dari 6 partuanon (desa induk). Penguasa lokal di Siantar adalah klan Damanik yang berpusat di Pulau Holang, di Kota Pematangsiantar dewasa ini.

Siantar merupakan daerah terpenting pada masa lalu. Siantar dahulu merupakan salah satu dari 7 kerajaan yang berada dekat dengan kota pematang siantar. Munculnya Kerajaan Siantar adalah penghujung abad 15 (awal abad 16), tatkala Kerajaan Nagur yakni kerajaan tertua di Simalungun dan bahkan di Sumatera Utara mengalami denominasi. 

Sebagaimana diketahui bahwa, riwayat tertulis dan terakhir yang diketahui yang mengetengahkan tentang kerajaan Nagur adalah dari laporan perjalanan Zheng He dan Ma Huan yang mengunjungi Nagur pada pelayaran yang ketujuh yakni tahun 1433. Dengan demikian, dipastikan bahwa kerajaan Siantar berdiri pada awal abad ke-16. Kerajaan ini berdiri walaupun tidak dapat dikatakan demikian adalah pewaris kerajaan Nagur, yakni rajanya yang memiliki klan Damanik. 

Perjalanan kerajaan ini di Siantar ini mengalami puncaknya pada saat pemodal asing menanamkan modalnya di Siantar. Konsesi beserta segala hak yang melekat pada konsesi tersebut tidak membuat raja Siantar bersimpati kepada pengusaha dan pemerintah Belanda. Sikap yang diambil raja Sang Na Ualuh Damanik saat itu justru menjadikan kerajaan ini menjadi ditakuti walaupun pada akhirnya berujung pada pemakzulan dan penginterniran raja Sang Na Ualuh ke Medan dan Bengkalis. Lalu digantikan oleh Tuan Sawaddim sampai masa revolusi di tahun 1945. Lokasi kerajaan itu tepat berada di Pulau Holang, yakni di desa Pematang di dekat pabrik Es Pematang Siantar sekarang.

Siantar mempunyai raja yang cukup terkenal yaitu raja Sang Na Ualuh, nama kecik Sang Na Ualuh adalah Tuan Sangma Damanik, namun ada delapan sifatnya yang luhur dikenang oleh rakyatnya, maka nama kecil itu menjadi tergantikan dengan Sang Na Ualuh. Kedelapan sifatnya yaitu : pengasih, pelayan, jujur, berani, tanggung jawab, teguh pendirian, saling menghormati dan membangun. 

Sampai akhirnya Sang Na Ualuh di asingkan ke Bengkalis oleh pihak Belanda pada tahun 1906, di kerajaan Siantar terjadi kekosongan raja sampai akhirnya Belanda mengangkat Tuan Sawaddim Damanik yang sebelumnya raja di Bandar kemudian menjadikan raja di Kerajaan Siantar, dari tahun 1924 sampai revolusi sosial yang terjadi di kerajaan Siantar tahun 1946. Kerajaan Siantar merupakan kerajaan Islam. Raja Siantar yaitu, Sang Na Ualuh masuk islam dan giat menyebarkan agama itu kepada penduduk Siantar di bantu para mubaligh dan guru-guru agama Islam dari Melayu, Mandailing Bahkan arab.

Siantar memiliki begitu banyak peninggalan Bangunan yang masih terjaga dan digunakan hingga sekarang seperti, Museum Simalungun, Balai Pemerintahan, Gedung Juang, Pabrik Es, Siantar Hotel, Masjid Raya Siantar, dan Rumah Bekas peninggalan Kerajaan Siantar.

Bekas Rumah Kerajaan ini terletak di jalan Pematang, kelurahan Simalungun, Kecamatan Siantar Selatan, Pematang Siantar, Sumatera Utara, Indonesia. Kode Pos 21145. Berdekatan dengan kompleks makam keluarga Raja Siantar di sisi sebelah kiri rumah.

Pada era sebelum kedatangan Belanda, istana (palace) atau dalam bahasa Simalungun disebut Rumah Bolon kerajaan Siantar berdiri megah di Kampung Pamatang, Pulau Holang, Siantar. Rumah Bolon itu berbentuk persegi panjang berukuran 15 x 30 meter. Terdapat tiang-tiang utama sebagai sokoguru bangunan berbentuk tiang jongkong (penyangga berdiri) terutama bangunan bagian belakang. 

Di bagian depan, terdapat bangunan berupa teras (surambi) yang ditopang tiang galang (penyangga datar). Dingding istana ini terbuat dari tepas (bilah bambu yang dianyam) serta beratapkan ijuk. Bentuk atapnya menyerupai pelana (melengkung) dan dibagian puncak sebelah belakang dan muka terdapat replika kepala kerbau sebagai pembeda dengan rumah masyarakat. Bentuk atap terdiri dari dua terseh (tingkatan) yang membedakan atap rumah bagian belakang dan bagian depan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN