Mohon tunggu...
Fadly Bahari
Fadly Bahari Mohon Tunggu... Penulis - Pejalan Sepi

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Shalat 5 Waktu Dianalogikan Allah dalam Al Quran Sama dengan Jumlah Jari Tangan

6 November 2021   14:29 Diperbarui: 6 November 2021   17:09 1089
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pekan ini, beredar isu hangat di jagad maya mengenai pernyataan kontroversi AA yang mengatakan perintah shalat 5 waktu tidak ada dalam Al Quran.

Sebelum memasuki pembahasan lebih jauh, terlebih dahulu saya ingin memperjelas etimologi kata 'shalat'. Ini penting. Karena salah satu masalah klasik kita di era ini adalah kebingungan memahami suatu hal, lalu salah kaprah, hanya karena disebabkan minimnya pengetahuan bahasa.

Kata 'shalat' dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab 'salaa' yang artinya: Berdoa. Dalam tradisi Yahudi dan Kristiani, Shalat atau salaa disebut 'pray' yang juga berarti: berdoa.

Jika 'shalat' artinya sama dengan"berdoa" lalu, mengapa ada lagi istilah 'doa' digunakan dalam tradisi Islam untuk makna yang berbeda? 

Ini karena dalam Islam selama ini berkembang pemahaman bahwa shalat 5 waktu (shalat wajib dilaksanakan) atau pun shalat sunat (shalat yang tidak wajib dilaksanakan) adalah kegiatan ibadah menyembah kepada Allah. Sementara 'doa' yang secara harfiah berarti: seruan / permohonan, adalah hal yang sifatnya lebih spesifik.

Terkait makna doa ini, diriwayatkan oleh Sunan Tirmidzi bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda: Doa adalah inti dari ibadah (menyembah Allah). Kenyataannya, semua bacaan dalam shalat mulai dari Al Fatehah ketika berdiri, bacaan ketika ruku, sujud, dan duduk di antara dua sujud, semua bunyi bacaan tersebut adalah permohonan "doa".

Persamaan waktu ibadah dalam Islam, Kristiani dan Yahudi

Pembagian waktu menurut posisi matahari di langit sebagai petunjuk waktu ibadah yang pada masa sekarang umum terlihat pada pengikut Nabi Muhammad, pada dasarnya telah terdapat pula dalam tradisi keagamaan umat nabi-nabi terdahulu.

Telah banyak penelitian yang dilakukan para ahli untuk mengetahui pola siklus ibadah harian umat Yahudi dan Kristiani di masa-masa awal millennium pertama.

Seperti yang dilakukan oleh Paul F. Bradshaw misalnya. Ia adalah profesor Liturgi di Universitas Notre Dame di Amerika Serikat, dari tahun 1985 hingga 2013, dan telah banyak mendapatkan penghargaan. Salah satunya adalah dianugerahi berakah Award  oleh Akademi Luturgi Amerika Utara -- suatu penghargaan yang diberikan setiap tahun kepada seorang liturgis terkemuka "sebagai pengakuan atas kontribusi terhormat untuk pekerjaan liturgi profesional."

Dalam buku The Book of Acts in Its First Ceuntury Setting vol. 4, diungkap pendapat Bradshaw yang mengusulkan bahwa umat Kristiani paling awal mewarisi siklus doa harian Yahudi; pagi, siang dan malam, ditambah tengah malam, (...) Awalnya dipengaruhi oleh gerakan matahari, kemudian dihubungkan dengan pengorbanan bait suci.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun