Mohon tunggu...
Fadly Bahari
Fadly Bahari Mohon Tunggu... Penulis - Pejalan Sepi

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Temuan Jejak Migrasi Nabi Ibrahim 4200-an Tahun Lalu

21 April 2020   17:01 Diperbarui: 31 Agustus 2023   17:06 6963
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(sumber: www.britannica.com)

Menelusuri jejak hijrah atau migrasi Nabi Ibrahim pada masa lalu adalah hal yang penting, karena terkait erat dengan sebuah hadist Nabi Muhammad yang menyebutkan: "ada hijrah setelah hijrah... Orang-orang akan menuju ketempat Nabi Ibrahim pernah hijrah..."

Pertanyaannya, dimanakah sesungguhnya letak tempat hijrah Nabi Ibrahim tersebut?

Dalam tulisan sebelumnya (Sungai Brahmaputra Bukti Jika Kaum Madyan Memang Berasal dari Kawasan Benggala), telah saya ulas mengenai kemungkinan nama Madyan (putra Nabi Ibrahim dari Istrinya yang bernama Keturah) berasal dari nama wilayah di mana ia lahir, yaitu 'Madhyanagar' yang artinya 'Negeri tengah' dalam bahasa Sanskrit ataupun bahasa India dan Bengali.

Telah pula saya jelaskan dalam tulisan (Temuan Jejak Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran) bahwa sebutan nama Madhyanagar yang meliputi wilayah Bangladesh dan sekitarnya pada hari ini (termasuk negara bagian india; Meghalaya dan Assam), berasal dari konsep pembagian wilayah di muka bumi di masa kuno, yang menempatkan wilayah tersebut tepat di tengah-tengah antara wilayah timur dan wilayah barat bumi.

Hal tersebut, bahkan hingga hari ini dapat kita saksikan kebenarannya, dengan mencermati bahwa wilayah tersebut berada di garis bujur 90 derajat, dengan merujuk pada konsep modern bahwa titik meridian (0 derajat) berada di Greenwich, dan Anti meridian (titik garis bujur 180 derajat) berada di ujung timur, yakni di wilayah Tuvalu (sebuah negara di samudera pasifik). 

Adanya bukti kuat bahwa Madyan putra Nabi Ibrahim terlahir di wilayah Benggala, membuka dugaan lain jika Nabi Ibrahim pun pernah pula hadir di wilayah ini. Mengenai dugaan ini, telah pula saya ulas dalam tulisan lainnya (Meghalaya, Sisi Paling Bersejarah di Bumi yang Jarang Diketahui).

Dalam tulisan tersebut, saya menunjukkan bahwa mencermati tahun masa hidup Nabi Ibrahim yakni sekitar 2166 SM membuka ruang hipotesis lain bahwa bencana kekeringan yang menyebabkan Nabi Ibrahim melakukan hijrah atau migrasi (diisyaratkan dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 26, dan banyak diriwayatkan dalam tradisi agama samawi), memiliki korelasi dengan bencana kekeringan panjang (Megadrought) yang terdeteksi oleh ilmuwan geologi memang pernah terjadi dikisaran 4200 tahun yang lalu, atau di masa hidup Nabi Ibrahim. 

Dalam tulisan itu juga (Meghalaya, Sisi Paling Bersejarah di Bumi yang Jarang Diketahui), saya memaparkan beberapa bukti jika tujuan dari Migrasi Nabi Ibrahim adalah kawasan Teluk Benggala. 

Dan untuk lebih mendukung hipotesis saya dalam subyek ini, dalam tulisan kali ini saya akan kembali memaparkan beberapa hal, yang bisa dikatakan sebagai "jejak migrasi Nabi Ibrahim" di wilayah Benggala,  yang kali ini sumber informasinya berasal dari kepercayaan kuno komunitas 'Dimasa', penduduk asli di wilayah Assam dan sekitarnya.

Sekilas tentang Orang Dimasa

Orang Dimasa (juga disebut Dimasa-Kachari) adalah komunitas etnis asli dan dianggap sebagai penghuni tertua yang mendiami negara bagian Assam dan Naga land di India timur laut. 

Mitologi Dimasa mengatakan mereka adalah anak-anak 'Bangla Raja' (Dewa Gempa Bumi), dan burung ilahi 'Arikhidima yang agung'. Ada enam putra Bangla Raja, yaitu: Sibarai, Alu Raja, Naikhu Raja, Waa Raja, Gunyung Braiyung and Hamiadao.  

Orang Dimasa membentuk komunitas masyarakat "tertutup". Karakteristik yang sangat mencolok dari komunitas Dimasa adalah bahwa mereka memiliki keturunan ganda: mereka melacak klan mereka dengan dua garis, yaitu, patriclan (klan dari garis keturunan bapak) dan matriclan (klan dari garis keturunan ibu). (sumber di sini)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun