Mohon tunggu...
Fadly bahari
Fadly bahari Mohon Tunggu... Founder AlangIde

Penjelajah & Pengumpul Esensi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Sejarah Berhala Uzza, Sang Dewi Fajar

2 Desember 2019   06:30 Diperbarui: 8 Desember 2019   11:00 0 11 3 Mohon Tunggu...
Sejarah Berhala Uzza, Sang Dewi Fajar
Ushas disembah secara regional selama festival Chhath Puja di mumbai, India. (sumber : voanews.com )

Jika kita membandingkan etimologi kata "sejarah" dalam bahasa indonesia yang berasal dari bahasa Arab "sajaratun" yang artinya: pohon, dengan kata sejarah dalam bahasa Arab, "tarikh" yang artinya: penentuan tanggal, atau kronologi. Lalu juga dengan kata sejarah dalam bahasa Yunani, "historia" yang artinya: pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian.

Maka pada dasarnya pemilihan kata sejarah dalam bahasa Indonesialah yang paling menggambarkan situasi sifat sejarah yang sesungguhnya. Karena pada kenyataannya, sejarah manusia memang tumbuh dan terus berkembang dari waktu ke waktu layaknya sebuah pohon.

Hari ini, kita menjumpai "pohon sejarah manusia" dengan kondisi telah tumbuh begitu sangat besar dan sangat lebat. Banyak bagian dahannya yang subur ditumbuhi benalu, seakan telah menyatu dengan pohon itu sendiri. Nyaris sulit membedakan mana pohon yang asli, mana yang hanya merupakan tumbuhan menumpang.

Agar memahami kondisi ini, kita harus melihat kenyataan bahwa dalam perjalanannya dari waktu ke waktu, manusia dan sejarahnya terus berkelindan. Beberapa diantara manusia itu ada yang berhasil merintis berdirinya sebuah peradaban besar. Kesuksesan ini akan tumbuh menjadi sebuah dahan besar yang dari sana akan tumbuh ranting-ranting kecil yang memiliki potensi untuk tumbuh menjadi dahan yang besar pula di masa mendatang. Situasi seperti ini banyak berlangsung di berbagai wilayah di dunia dan telah berlangsung dalam kurun waktu ribuan tahun.

Ada banyak bangsa besar yang silih berganti muncul di masa lalu. Masing-masing melalui tahap perkembangan yang dapat dimungkinkan oleh kondisi zaman dan potensi yang dimilikinya.

Peradaban baru biasanya akan tetap melanjutkan tatanan sosial budaya yang diwariskan generasi sebelumnya, dengan memberi pengembangan di beberapa bagian dengan tujuan dapat sesuai dengan kondisi zamannya.

Di sisi lain, pengaruh budaya dari bangsa lain adalah hal yang tidak terelakkan. Karena suatu bangsa akan tumbuh menjadi besar hanya jika ia membuka diri untuk berinteraksi dengan bangsa lainnya.

Di titik inilah dinamika "difusi inovasi" (teori difusi inovasi dipopulerkan oleh Everett Rogers dalam bukunya "diffusion of innovations", 1962) berkembang meramaikan aspek intelektual para pemikir dari setiap bangsa tersebut. Mereka akan bekerja mengadopsi konsep budaya bangsa lain yang dianggapnya menarik, dengan meraciknya sedemikian rupa hingga dapat selaras dengan karakteristik budaya yang dimiliki bangsanya.

Praktek inilah yang menyebabkan para peneliti di masa kini kesulitan untuk menggali sejarah dan budaya dari peradaban bangsa-bangsa di masa kuno. Ada banyak aspek yang mesti diamati. Seperti asal usul konsep, variasi yang diberikan, dan sejauh mana hasil "difusi inovasi" itu berkembang.

Contoh kasus yang dapat dilihat untuk hal ini adalah sebagai berikut: Dalam tradisi Hindu, pada mitologi veda dewa Surya (dewa matahari dalam agama Hindu) digambarkan setiap hari bergerak bersama kereta kudanya melintasi langit ke arah barat. Jalur matahari disiapkan untuknya oleh varuna. 

Dalam mitologi Mesir kuno Dewa Ra (Dewa Matahari Mesir) diilustrasikan setiap hari berlayar dengan "perahu siang" melintasi perairan langit, dan pada malam hari berpindah ke "perahu malam" untuk berlayar melewati Duat (wilayah misterius yang terkait dengan kematian dan kelahiran kembali). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN