Mohon tunggu...
Fadly Bahari
Fadly Bahari Mohon Tunggu... Pejalan Sepi

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hidup adalah "Proses Komunikasi" di Semua Tingkatan

31 Oktober 2019   01:19 Diperbarui: 31 Oktober 2019   01:26 120 1 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hidup adalah "Proses Komunikasi" di Semua Tingkatan
(sumber : caroltorgan.com)

Di abad 21 ini, biosemiotik bisa jadi merupakan studi ilmu pengetahuan yang paling ambisius.

Dalam kamus Oxford Biokimia dan Biologi Molekuler (1997), dijelaskan bahwa Biosemiotik adalah "Studi tentang tanda-tanda, komunikasi, dan informasi dalam organisme hidup".

Sementara itu, kalevi Kull (1999) dalam tulisannya Biosemiotics in the twentieth century: A view from biology, mengatakan: "Biosemiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu tanda-tanda dalam sistem kehidupan. [dimana] Karakteristik utama dan khas biologi semiotik terletak pada pemahaman bahwa dalam kehidupan, entitas tidak berinteraksi seperti benda mekanis, melainkan sebagai pesan, atau potongan teks."

Seorang anak bayi yang menangis, oleh ibunya akan dimaknai sebagai pesan bahwa bayinya lapar dan ingin makan. Interaksi bayi dan ibunya ini bisa dikatakan wujud interkasi semiotik antar dua entitas. Sementara itu, keinginan Makan ketika merasa lapar, merupakan interaksi semiotik biologis dalam satu entitas. Kedua contoh sederhana ini menunjukkan bagaimana kehidupan kita berlangsung secara alami karena terdiri dari 'tanda', 'pesan', atau pun 'informasi'.

Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam situs www.biosemiotics.org, bahwa Biosemiotik merupakan suatu agenda penelitian interdisipliner yang menyelidiki berbagai bentuk komunikasi dan makna yang ditemukan di dalam dan di antara sistem kehidupan.

Penjabaran lebih luas untuk pemaknaan "sistem kehidupan" yang dimaksud, dengan sendirinya menghadapkan kita pada pemahaman bahwa Biosemiotik adalah studi tentang representasi, makna, indera, dan signifikansi biologis dari proses kode dan tanda - sekuens kode genetik - proses pensinyalan antar sel - perilaku tampilan hewan - artefak semiotik manusia seperti bahasa dan pemikiran simbolik abstrak.

Para ahli Biosemiotik optimis jika "pesan" "sinyal" "kode" dan "tanda" yang muncul di mana-mana dalam sistem biologis, pada akhirnya suatu saat akan lebih bersifat metaforis. Bahwa istilah semacam itu suatu hari nanti dapat secara efektif direduksi menjadi sekadar bahan kimia dan interaksi fisik yang mendasari proses tersebut.

Sebagai contoh, pengalaman mental seperti rasa marah, suatu saat nanti akan lebih dimaknai sebagai sebuah proses reaksi biokimiawi dalam sebuah neuron yang menimbulkan lonjakan sinyal aliran-aliran elektrik dalam otak.

Akibat dari memahami bagaimana mekanisme proses marah terjadi, seperti yang dijelaskan di atas, maka, bisa jadi suatu hari nanti situasi "marah" pada seseorang, akan dimaknai dan direspon sebagai situasi tengah menghadapi badai elektrik di otak.

Ilmuwan menyebutkan bahwa ada lebih 80 miliar neuron yang terhubung menjadi sistem jaringan super rumit di otak manusia. Sinyal elektrik yang bergerak ke sana ke mari pada miliaran jaringan inilah yang menimbulkan pengalaman-pengalaman subjektif pada manusia (marah, cinta, dan lain sebagainya).

Untuk mengontrol situasi super rumit pada lalu lintas sinyal elektrik di otak, berlaku sistem biologi (sistem kehidupan) yang mengatur dinamika "pesan" "sinyal" "kode" dan "tanda" yang berlangsung pada fungsi sel, yang tentunya juga super rumit. Analogi sederhana untuk hal ini, bisa kita cermati pada lalu lintas kendaraan di jalan raya. Di mana untuk dapat menjaga kondusifitas dan kelancaran arus lalu lintas, dibutuhkan penerapan sistem lalu lintas yang mesti dipatuhi pengguna jalan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN