Fadly bahari
Fadly bahari Penulis dan Desainer Grafis

penikmat detail sejarah - penjelajah & pengumpul esensi - sekedar menyampaikan berbagai hal yg saya ketahui, karena pada hakikatnya, semua itu hanya titipan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tekstil Mesir Abad 3-4 M, Bernuansa Motif Toraja/ Bugis

13 Maret 2019   08:54 Diperbarui: 13 Maret 2019   14:30 223 2 0
Tekstil Mesir Abad 3-4 M, Bernuansa Motif Toraja/ Bugis
Sumber: collection.cooperhewitt.org

Jika dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya telah banyak menulis mengenai jejak unsur Nusantara pada masa kuno di wilayah barat (Timur tengah, Afrika, hingga Mediterania) yang umumnya dalam bentuk jejak bahasa ataupun toponim, maka kali ini, saya ingin menunjukkan jejak unsur Nusantara pada Mesir kuno dalam bentuk corak ragam hias dalam media tekstil yang saya temukan dalam koleksi Cooper Hewitt Smithsonian Design Museum. 

Baca juga:

Koleksi tekstil dari Mesir abad ke 3-4 Masehi itu, disebutkan merupakan sumbangan dari Pemodal dan industrialis New York terkemuka John Pierpont Morgan. Kontribusi Morgan itu dilakukannya pada tahun 1902, setelah saat bepergian di Eropa, ia membeli koleksi-koleksi tekstil yang luar biasa dari koleksi Badia di Barcelona, koleksi Vives di Madrid, dan koleksi Baron di Paris. Dia menyumbangkan secara keseluruhan, yang terdiri dari lebih 1.000 item.

Sungguh sangat menarik, dikarenakan corak yang terdapat pada tekstil Mesir kuno tersebut, secara jelas memiliki keidentikan dengan motif Toraja dan Bugis. Seperti motif pa'erong, pa'sekong sala dan pa'sepu' to Rongkong yakni konsep motif banji, pa're'po' sangbua (dalam sebutan Toraja) yang dalam tradisi Bugis lebih dikenal dengan konsep Sulapa' appa'.

Keidentikan tersebut dapat pembaca cermati dalam gambar berikut ini:

Dokpri
Dokpri
Dokpri
Dokpri
Dokpri
Dokpri
Unsur Motif Toraja/ Bugis dalam teksil Mesir kuno ini, saya perkirakan ada kaitannya dengan suku Tuareg yang saya identifikasi memiliki keterkaitan erat dengan sebutan to Ware' di Luwu.

Dalam buku Ethnic Groups of Africa and the Middle East: An Encyclopedia, dibahas mengenai suku Tuareg yang merupakan penutur bahasa Berber yang tinggal di Aljazair selatan, Mali, Niger, Burkina Faso, dan jauh di barat daya Libya. 

Beberapa ahli berpendapat bahwa nama Tuareg, atau lebih tepatnya Tuwariq, adalah berasal dari bahasa Arab jamak (tunggal: Tariqi) yang kemudian diberikan orang lain kepada mereka. Tuareg sendiri menyebut diri mereka Kel Tamasheq, yang berarti penutur Tamasheq atau Kel Tagulmust atau orang terselubung, untuk sorban besar atau talgumust yang dikenakan oleh para pria. 

Tamasheq adalah salah satu dialek Berber, yang termasuk dalam kelompok bahasa Afro-Asia. Dalam buku Ethnic Groups of Africa and the Middle East: An Encyclopedia, dikatakan bahwa Berber tampaknya telah berpisah dari keluarga utama sekitar 9.000 tahun yang lalu ketika bangsa Berber bermigrasi ke barat ke Afrika Utara dari Lembah Nil.

Hal yang menarik dari info ini adalah kenyataan bahwa nama Tuareg atau Tuwariq sangat mirip dengan nama to ware' di Luwu.  Wara adalah pusat kedatuan Luwu, dan pada umumnya orang-orang Luwu yang paham hal ini akan menyebut dirinya sebagai To Ware bisa dimaknai sebagai "orang asli Luwu".

Adapun Ta-masheq atau Ta-mazight sebagai sebutan orang Tuwariq untuk diri mereka, bentuk aslinya adalah i-Mazigh-en, yang artinya "orang bebas" atau "orang mulia. (Peter Prengaman: 2001)

Dari bentuk penamaan  i-Mazigh-en dan Ta-mazight, sangat terlihat bentuk tradisi Bugis di dalam penamaan tersebut. 

Bentuk I didepan i-Mazigh-en kemungkinan adalah bentuk predikat yang umum digunakan di Luwu/Bugis ketika menyebut nama -- menempatkan I di depan nama, contoh: I La Galigo. Di Bali-pun aksen ini terlihat umum digunakan, contoh: I made, I wayan, dan lain-lain.

Bentuk ta di depan Ta-mazight, saya duga pada dasarnya berasal dari bentuk to atau tau yang berarti "orang". Term ini banyak digunakan dalam bahasa-bahasa rumpun Austronesia. (Andrew Pawley: 2007)

Sementara, Mazigh pada i-Mazigh-en ataupun Ta-mazight, yang artinya adalah "orang bebas" atau "orang mulia" -- saya perkirakan berasal dari kata "Masiak" yang dalam bahasa tae' artinya "liar" tapi dapat juga dimaknai "bebas". 

Hal ini sangat sejalan dengan pemaknaan i-Mazigh-en sebagai "orang bebas". Mengenai pemaknaan lainnya yakni "orang mulia" atau "orang terhormat", saya menduga pemaknaan ini muncul dari prinsip filosofis yang terkandung pada nama tersebut, bahwa orang bebas adalah orang yang memiliki kehormatan. Prinsip orang Bugis semacam ini digambarkan Thomas Stamford Raffles dalam "The History of Java.":

...Mereka memperbantukan diri mereka kepada pimpinan mereka terutama untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi dalam beberapa kasus mereka memperlihatkan dengan jelas bukti kesetiaannya. 

Mereka sering mengganti pimpinan yang mereka tinggalkan, tetapi hampir tidak ada apa pun yang dapat membujuk mereka untuk mengkhianati pimpinan yang mereka tinggalkan tersebut. 

Tidak ada kejadian bahwa perahu milik seorang Belanda atau Cina telah dibawah pergi ketika dikemudikan oleh orang-orang Bugis. 

Perjanjian-perjanjian yang pernah dilakukan akan selalu ditaati, dan seorang Bugis tidak pernah diketahui menyimpang dari yang telah disepakatinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2