Mohon tunggu...
Fadhilsyah
Fadhilsyah Mohon Tunggu...

Mahasiswa Public Relations Universitas Al-Azhar Indonesia | Aktivist Mahasiswa | Analys Politic

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Seberapa Efektif Alumni Mendukung Kandidat?

12 Februari 2019   09:00 Diperbarui: 12 Februari 2019   21:34 0 1 0 Mohon Tunggu...
Seberapa Efektif Alumni Mendukung Kandidat?
Jokowi di depan ribuan alumni UI yang memberikan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019 (pojoksatu)

Dalam beberapa waktu terkahir banyak sekali pemberitaan mengenai beberapa alumni tingkat universitas hingga tingkat sekolah mendukung kepada salah satu paslon di dalam Pilpres 2019 ini. Hal ini menjadi fenomena yang unik di karenakan mungkin hanya di dalam Pilpres ini alumni dari berbagai universitas hingga tingkat sekolah menengah atas berbondong-bondong untuk mendukung salah satu paslon. 

Tidak tanggung-tanggung tingkat universitas nya pun juga memiliki tingkat ekstitensi yang tinggi seperti Unversitas Indonesia (UI) hingga Universitas Trisakti

Ini menjadi fenomena yang unik karena bukan hanya salah satu paslon saja yang memakai cara ini  kedua paslon pun tampak seperti berlomba-lomba untuk memperlihatkan banyak nya tingkat alumni untuk mendukung nya. Di dalam teori partisipasi pemilih pun tingkat alumni ini terbilang golongan yang abu-abu atau sebut saja tidak jelas.

 Menurut Cholisin (2007: 154) ada lima pendekatan dalam perilaku memilih yakni struktural, sosiologis, ekologis, psikologis sosial dan pilihan rasional. Jika kita lihat satu persatu dalam teori berikut dimanakah ketegori perkumpulan alumni.

  • Menurut pendekatan struktural adalah kegiatan memilih dilihat sebagai produk dari konteks struktur yang lebih luas, seperti struktur sosial, sistem partai, sistem pemilihan umum, permasalahan dan program yang ditonjolkan partai.
  • Sedangkan pendekatan sosiologis cenderung menempatkan kegiatan memilih dalam kaitan dengan konteks sosial. Maknanya pilihan seseorang dalam pemilihan umum dipengaruhi oleh latar belakang demografi dan sosial ekonomi, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan, kelas, pendapatan dan agama.
  • Pendekatan ekologis hanya relevan apabila dalam suatu daerah pemilihan terdapat perbedaan karekteristik pemilih berdasarkan unit teritorial, seperti desa, kelurahan, kecamatan, dan kabupaten.
  •  Pendekatan psikologi sosial, salah satu penjelasan dari sisi psokologi sosial untuk menjelaskan perilaku memilih dalam pemilihan umum adalah konsep identifikasi partai. Konsep ini merujuk pada persepsi pemilih atas partai yang ada atau keterikatan emosional pemilih terhadap partai tertentu.
  • Pendekatan pilihan rasional melihat kegiatan memilih sebagai produk kalkulasi untung rugi. Yang dipertimbangkan tidak hanya ongkos memilih dan kemungkinan suaranya dapat mempengaruhi hasil yang dihararapakan, tetapi juga perbedaan dari alternatif berupa pilihan yang ada. Pertimbangan ini digunakan pemilih dan kandidat yang hendak mencalonkan diri untuk terpilih sebagai wakil rakyat atau pejabat pemerintah.

Dari 5 penjelasan mengenai perilaku pemilih untuk memilih suatu pilihan politik bahwa kategori perkumpulan alumni ini seperti abu-abu atau tidak jelas dimana letak alumni ini di kategorikan. Karna di dalam alumni itu tidak seperti sistem organisasi atau partai yaitu memiliki sebuah tokoh yang berpengaruh. 

Maka efek alumni ini tidak akan berefek luas dalam lingkup external. Walaupun memiliki pengaruh mungkin hanya sedikit untuk di kalangan internal nya saja yaitu di dalam lingkup alumni itu sendiri, anggap saja seperti sebuah anak tingkat SD yang hanya ikut-ikutan tentang cita-citanya kedepan. 

Memang tampaknya fenomena alumni memilih paslon ini seakan-akan adalah gymik untuk memperlihatkan bahwa tingkat berpendidikan tinggi memilih paslon tersebut. Terlebih yaitu tingkat universitas yang sudah memiliki ekstitensi sendiri.

Gaya politik seperti ini lebih di tonjolkan kepada kandidat 01. Dimana memang elektabilitas 01 di kalangan rasional dan berpendidikan tinggi sangat rendah. Gymik ini dilakukan untuk memperlihatkan kesan bahwa alumni universitas sangat bergengsi pun memilih pasangan tersebut. Tetapi sekali lagi gerakan seperti ini tidak akan berbuahkan hasil yang banyak karna alumni itu tidak memiliki sebuah basis ketokohan yang kuat, basis massa di tingat bawah pun juga mereka tidak punya. seperti hanya sebuah komunitas geng motor saja berpengaruh di dalam tidak untuk diluar, terlebih lagi fenomana alumni ini seperti tiba baru muncul di buat seakan akan membuat gerakan ini semakin yakin hanya untuk gymik belaka. Gerakan alumni mendukung paslon hanyalah sensasi semata di media social tidak berlaku dalam tingkat akar dan ranting di bawah.

Muhammad Farras Fadhilsyah

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia

Analys Politic

KONTEN MENARIK LAINNYA
x