Tekno Artikel Utama

Mengapa Teknologi Indonesia Kurang Maju?

16 April 2018   22:21 Diperbarui: 17 April 2018   21:39 4690 4 6
Mengapa Teknologi Indonesia Kurang Maju?
sumber gambar: youthincmag.com

Indonesia merupakan negara dengan potensi yang sangat besar, namun pengembangan teknologi di Indonesia dapat dikatakan lambat. Pemerintah kurang memberikan perhatian terhadap pengembangan teknologi. Akhirnya lebih banyak teknologi dari luar negeri yang masuk ke Indonesia.

Saat ini saja banyak teknologi dari luar negeri yang menjadi raja di pasar Indonesia. Sebut saja teknologi seperti telepon pintar (smartphone),  prosesor, software, hingga teknologi transportasi.

Untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu memperhatikan aspek pengembangan teknologi. Kita banyak mengenal negara-negara maju karena teknologi yang dikembangkan oleh mereka.

Misalnya saja Jepang yang menguasai teknologi otomotif, Amerika Serikat yang menguasai teknologi informasi, serta Tiongkok yang menguasai teknologi elektronik. Pengembangan teknologi, khususnya teknologi tinggi seharusnya menjadi prioritas utama setelah pendidikan dasar.

Bahkan dengan menguasai teknologi, bidang lainnya juga dapat merasakan dampak positifnya. Pengembangan teknologi merupakan tulang punggung pembangunan ekonomi, menjadi kekuatan utama dalam persaingan global dan sarana mencapai kemakmuran bangsa.

Jika Indonesia ingin memodernisasi pertanian, logistik, industri, hingga pertahanan, maka yang harus dimodernisasi terlebih dahulu adalah sains dan teknologi, serta menjadikannya kekuatan produktif. Prinsip tersebut digunakan oleh Tiongkok untuk menguasai teknologi di berbagai bidang dengan waktu yang ralatif singkat.

Jika kita perhatikan bersama ada dua faktor yang menjadikan teknologi di Indonesia cenderung stagnan.

Kurangnya Inovasi dan Riset Teknologi

Faktor pertama yang perlu diperhatikan adalah kurangnya inovasi dan riset yang dilakukan.

Smartphone dan internet yang kita gunakan tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Terdapat riset yang panjang sebelum teknologi-teknologi itu dapat kita nikmati bersama-sama. Awal kemunculan kereta uap hingga pesawat terbang juga dimulai dari percobaan riset, hingga akhirnya memicu revolusi industri yang tak terelakkan.

Indonesia cenderung menjadi konsumen saja hanya menikmati hasil riset dari negara-negara lain. Anak-anak muda atau mahasiswa di Amerika Serikat, Jerman, Jepang, serta Tiongkok saling berlomba lomba untuk menciptakan inovasi baru dan mengenalkannya kepada dunia melalui berbagai macam publikasi.

Mengapa riset di Indonesia masih kurang? salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya dana yang tersedia. Riset dan inovasi membutuhkan dana yang tidak sedikit, terlebih lagi riset terkait teknologi tinggi. Pemerintah cenderung enggan untuk mengeluarkan banyak dana untuk riset. 

Pada tahun 2013 saja pemerintah hanya  0,085% dari PDB untuk riset, sedangkan negara tetangga Singapura menganggarkan 2% dari PDB. Dampaknya terlihat sangat mencolok jika kita melihat data perbandingan jumlah paten, jumlah publikasi internasional, 

(sumber: tirto.id)
(sumber: tirto.id)
Hal tersebut karena outputdari berbagai riset yang dihasilkan masih kurang berdampak.  Untuk mengatasi hal ini, sebenarnya pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak swasta. Metode tersebut digunakan pada banyak penelitian di Amerika Serikat, perusahaan teknologi seperti Google, IBM, Microsoft menganggarkan sebagian dana untuk melakukan penelitian teknologi terbaru.

(sumber: tirto.id)
(sumber: tirto.id)
Selain minimnya riset di Indonesia, sebenarnya ada faktor lain yang menjadi menjadikan perkembangan teknologi di Indonesia cenderung stagnan. Faktor tersebut adalah minimnya alih teknologi di Indonesia.
(sumber: tirto.id)
(sumber: tirto.id)
Alih Teknologi sebagai Jalur Pintas

Jika kita perhatikan secara seksama, Tiongkok merupakan negara yang lebih muda dari Indonesia. Namun, negara yang merdeka pada tahun 1949 tersebut sudah menjadi pusat manufaktur teknologi dunia.

Bahkan saat ini teknologi mereka mulai masuk ke Indonesia, sebut saja merek-merek seperti Oppo, Vivo, Xiaomi yang sudah tidak asing.  Tidak hanya itu, Tiongkok bahkan sudah berhasil mengirimkan manusia ke luar angkasa pada tahun 2013

Perkembangan teknologi di Tiongkok dapat dikatakan cukup cepat, pada tahun 1980-an negara tersebut bukanlah siapa-siapa di Asia. Namun Tiongkok berhasil bangkit setelah membuka negaranya untuk perusahaan asing. Mereka mengharuskan perusahaan asing tersebut untuk bekerjasama dengan perusahaan lokal.

Tak hanya itu, mereka juga harus mau melakukan transfer teknologi kepada para teknisi Tiongkok. Semua dokumen teknis hingga rancangan desain harus disimpan di Tiongkok.  Inilah spirit Tiongkok, tak cuma mau menjadi pasar bagi produk-produk asing, mereka hendak menciptakan segala-galanya secara mandiri.

Contoh konkretnya dapat dilihat pada pengembangan teknologi kereta cepat di Tiongkok. Pada tahun 2004 mereka mengundang 4 perusahaan asing untuk mengembangkan proyek kereta cepat. Keempat perusahaan tersebut (Alstom dari Perancis, Siemens dan Bombardier Transportation dari Jerman, serta Kawasaki dari Jepang) membentuk perusahaan patungan dengan Sifang Locomotive & Rolling Stock, sebuah perusahaan lokal.

Sebagian besar kereta dibuat di luar namun dirakit di Tiongkok. Pada akhirnya, saat ini Tiongkok memiliki jaringan rel kereta cepat terpanjang di dunia dan sudah mulai membangun kereta cepat dengan teknologinya sendiri ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hanya dalam kurang dari 20 tahun Tiongkok berhasil mempelajari dan menguasai teknologi kereta cepat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2