Fadhilah Muslim
Fadhilah Muslim Dosen dan Peneliti

Dilahirkan pada tanggal 23 September 1990 dan berasal dari Sumatera Barat. Saat ini sedang menjalani program doktoral/S3 di Departemen Teknik Sipil, Imperial College London, UK. \r\n\r\nhttp://fadhilah23.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Suasana Ujian Semester di Kampus Top Dunia, Mencontek = Gagal

28 Mei 2015   05:48 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:31 731 5 5
Suasana Ujian Semester di Kampus Top Dunia, Mencontek = Gagal
14328139531105172986


[caption id="attachment_421001" align="aligncenter" width="624" caption="Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)"][/caption]

Singkat cerita, dua minggu terakhir ini saya mencoba hal baru, yakni berperan sebagai invigilator atau pengawas ujian di perguruan tinggi di mana saya sedang menempuh studi S3 saat ini, tepatnya di Imperial College London, UK yang tahun ini merupakan perguruan tinggi terbaik nomor dua di dunia berdasarkan www.topuniversities.com. Yap, bulan May hingga awal Juni 2015 adalah periode pelaksanaan ujian untuk mahasiswa S1 dan S2 di kampus ini. Sementara mahasiswa PhD/S3 akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi invigilators.


Lantas bagaimana suasana dan peraturan selama ujian berlansung di kampus ini?

Jika boleh jujur, saya pun harus mengatakan bahwa ada banyak hal perbedaan yang saya temukan antara pelaksanaan ujian di sini dan di perguruan tinggi di Indonesia tempat di mana saya pernah studi selama 4 tahun dan juga menjadi asisten dosen bahkan sudah berstatus dosen ketika itu. Yap. Integritas atau kejujuran merupakan salah satu parameter penting sebagai penentu kelulusan dan kesuksesan mahasiswa di kampus ini. Tak tanggung-tanggung, penalty atau sanksi yang diberikan kepada mahasiswa yang ketahuan mencontek kepada mahasiswa lainnya, membawa contekan kecil, berdiskusi, bahkan berusaha untuk mencontek saja sudah dianggap melakukan kesalahan dan diberi sanksi.

Lantas apa sanksinya? Sangat tegas yakni lansung didiskualifikasi dari ujian tersebut untuk diinvestigasi lebih lanjut di ruangan khusus dan kemudian jika terbukti bersalah mereka tidak diperkenankan mengikuti semua ujian berikutnya. Singkat kata, sekali berbuat curang, sudah bisa hampir dipastikan mahasiswa tersebut gagal di semester tersebut. Maka tak heran selama saya mengawas ujian, saya pun tidak menemukan satu orang pun mahasiswa yang terlihat berbuat curang. Kejujuran, sungguh luar biasa ditegakkan di kampus ini.

Tidak hanya berbeda dalam hal sanksi, kepada semua calon pengawas ujian yang minimal merupakan mahasiswa PhD dan semua dosen mata kuliah pada semester ini diwajibkan untuk mengikuti training atau workshop terkait panduan dalam mengawas ujian beberapa hari sebelum ujian dimulai. Sungguh luar biasa. Training yang tidak pernah saya ikuti selama di Indonesia. Training yang bertujuan untuk memberikan panduan bagaimana seharusnya yang dilakukan invigilator selama mengawas ujian.

Perbedaan lainnya terlihat dari bagaimana kampus ini memberikan perlakuan khusus kepada mereka yang membutuhkan. Contohnya saja mereka yang rabun dekat yang memerlukan alat penerangan lebih untuk mengerjakan ujian, mereka yang memiliki permasalahan dengan kesehatan pernapasannya misalnya, yang harus ke kamar mandi setiap 15 menit dan lainnya, mereka semua akan melaksanakan ujian di ruangan khusus dan akan diawasi oleh satu orang invigilator. Untuk mereka yang seperti ini, satu ruangan kecil disediakan khusus untuk mereka seorang diri melaksanakan ujian. Luar biasa menurut saya.

Kemudian terkait alat tulis dan kalkulator yang digunakan selama ujian. Untuk alat tulis, mereka hanya diperbolehkan membawa tempat alat tulis yang transparan. Terkait alat hitung, di sini dari departemen menyediakan kalkulator untuk setiap mahasiswa dengan tipe yang sama. Ide yang sangat patut dicontoh dan diterapkan di Indonesia. Yap, dengan kemajuan teknologi saat ini, jenis kalkulator pun berkembang dengan sangat pesat di mana saat ini sudah banyak sekali beredar kalkulator-kalkulator yang layaknya PC yang bisa menyimpan rumus dan soal. Sehingga tahukah Anda bahwa jika tidak disediakan kalkulator dengan tipe yang sama, maka kemungkinan untuk berbuat curang itu pasti ada untuk mereka yang memiliki kalkulator yang mahal dalam artian memiliki banyak kelebihan.
Sebagai kesimpulan, peraturan pelaksanaan ujian di kampus top dunia ini memang patut dicontoh dan diterapkan di Indonesia. Tak heran jika pada saat pelaksanaan ujian maka perpustakaan akan dipenuhi oleh mahasiswa yang belajar mempersiapkan ujian, bahkan hingga mereka harus tidur di perpustakaan yang memang buka 24 jam demi hasil yang memuaskan dari hasil jerih payah mereka masing-masing tanpa sedikitpun berbuat curang.
Yap saya yakin, semua dosen di Indonesia juga menginginkan agar mahasiswa berbuat jujur selama ujian. Memang nilai bukanlah segala-galanya dan bukan juga sebagai parameter kesuksesan seseorang, namun ini tentang kejujuran, satu hal penting yang harus dijunjung tinggi oleh generasi muda Indonesia agar menjadikan Indonesia lebih bersih dan lebih baik ke depannya.

Semoga beberapa kampus di Indonesia bisa menerapkan sistem ujian semester seperti di sini. Dengan demikian setidaknya kualitas dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia akan semakin meningkat.

-London, 27 May 2015-