Mohon tunggu...
Achmad Fadel
Achmad Fadel Mohon Tunggu... Pengamat yang menyajikan pikirannya melalui kata.

Menulis sebagai reaksi realitas.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Ilmuwan (Sains) Tidak Boleh Berbicara Ketuhanan!

12 Juni 2019   08:34 Diperbarui: 12 Juni 2019   15:01 0 1 0 Mohon Tunggu...
Ilmuwan (Sains) Tidak  Boleh Berbicara Ketuhanan!
Pintu atau batas pemikiran ilmiah yang harus dibuka untuk melihat kriteria kebenaran rasional yang lebih luas

Ilmuwan atau saintis yang menggunakan metode eksperimentasi dan observasi tidak memiliki kapabilitas berbicara Ketuhanan. Bukan karena membatasi orang tertentu untuk berpikir lebih dari bidangnya, tapi Epistemologi Ilmiahnya yang menuntut Ilmuwan untuk tidak berbicara yang berbau Metafisik.

Kalau anda ditanya, "Apakah Alam Semesta ini memiliki ujung? Darimana asal seluruh alam ini?" Maka tidak mungkin anda mencarinya dalam buku-buku fisika, kimia, biologi atau cabang ilmu alam lainnya.

Karena objek kajian ilmu alam hanya berkisar pada apa yang dapat diindrai atau paling banter di rasakan. olehnya itu dia tidak boleh melakukan penyalahan (negasi) ataupun pembenaran (afirmasi) diluar objek kajiannya.

Ilmuwan Alam bukan dilarang atau membatasi geraknya. Tapi Ilmuwan harus menyadari kemampuannya dan batas pemikirannya. Tidak mungkin Ilmuwan membenarkan apa yang tidak mampu ia uji kebenarannya.

Dalam Epistemologi Empirisisme dan Postivisme yang digunakan oleh saintis. Neraca dalam menentukan kebenaran atau kesalahan adalah pengalaman dan eksperimentasi.

Sedangkan ketika berbicara ketuhanan dan hal-hal yang metafisik seperti ilmu dan jiwa --yang setiap hari dan tidak sedetikpun lepas dari diri kita ini-- sama sekali tidak dapat diindrai apalagi diuji di laboratorium.

Selain itu Saintis juga tidak dapat membedakan antar 'Kemungkinan' dan 'Kemustahilan'. Coba tanyakan pada saintis, bagaimana kebenaran antara tertabraknya bumi dan bulan atau Masuknya bumi kedalam telur atau keberadan asal dari alam semesta.

Pasti santis tidak bisa mengafirmasi bahwa proposisi ini adalah mungkin terjadi, dan yang ini mustahil terjadi. 

Oleh karena itu santis juga tidak bisa meniadakan apa-apa yang tidak mampu ia uji.

Instrumen, Objek kajian Santis hanya berada ditengah-tengah alam semesta, ia tak sampai di pangkal ataupun diujung alam semesta ini. 

Teori-teori tentang asal-usul alam semesta yang dikemukakan fisikawan modern, tentulah sudah lari dari metode ilmiah kepada metode filosofis. Karena melakukan ia telah melakukan penyimpulan di luar batas pengujian ilmiah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2