Mohon tunggu...
Muhammad FachrulHudallah
Muhammad FachrulHudallah Mohon Tunggu... Mahasiswa

"Jika Aku bukan anak Raja, Penguasa, Bangsawan, dan dari kalangan Priyayi, Aku hanya dapat mengenalkan diriku melalui gagasan karyaku"

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Panasnya Matahari Membakar Kertas Bertuliskan Kenangan

17 Januari 2020   01:02 Diperbarui: 17 Januari 2020   01:12 24 0 0 Mohon Tunggu...
Cerpen | Panasnya Matahari Membakar Kertas Bertuliskan Kenangan
ilustrasi: Mojfaks.com

Oleh: Muhammad Fachrul Hudallah

"Pertemuan dating untuk mengenalkan kepada perpisahan dan kebahagiaan dating untuk mengenalkan kekecewaan"

Terik matahari yang terbit dari barat seakan-akan mencekam tubuh manusia yang meninggalkan perasaan trauma untuk meninggalkan rumah karena mengandung banyak efek samping yang dapat merugikan tubuh, misalnya adalah mengelupasnya kulit dan kenaikan kadar emosi. Menurut bobo.grid.id, mengatakan bahwa panas matahari jika dirasakan pada permukaannya saja telah mencapai 55 derajat celcius dan memiliki jarak dengan bumi sejauh 149 juta kilometer.

Panasnya matahari ketika di siang hari tidak mengendorkan semangat  laki-laki yang berasal dari dataran tinggi untuk menjemput cintanya terhadap perempuan dambaannya yang beralamat asli di sekitar pesisir pantai. Tetapi, pada saat pertengahan tahun, wanita dambaannya sedang berdomisili di daerah yang berpolusi dengan dikelilingi oleh jalan tol.

Dengan semangat juangnya untuk wanita dambaannya, laki-laki yang bernama Arian tetap nekat menjemput kekasihnya dengan motor klasiknya. Arian tidak memikirkan tentang berapa derajat panasnya matahari, tetapi hanya memikirkan kesehatan kekasihnya.

 Wanita dambaan Arian dulu bernama Nina ysng sekarang keadaanya sedang merasakan panas dingin tubuh sembari susah untuk menggerakkan tubuhnya. Arian menjemput Nina di daerah berpolusi dengan mengantarkannya ke sebuah klinik kecil yang dapat menanganinnya. Setelah mendapatkan segelintir obat, Arian berkata "Nin, Kamu mau pergi nggak sama Aku ke daerah pegunungan?"

Nina menjawab dengan penasaran berkata "Kamu mau ngapain ke daerah pegunungan, Arian?", laki-laki yang bernama Arian menjawab dengan lantang "Nin, Aku mau mencarikan Kamu Jahe deplok. Jika di fikir-fikir jahe mayoritas berada di daerah pegunungan karena disanalah te,patnya untuk meminimalisir kedinginan setiap hari". Dikarenakan cerdasnya laki-laki yang bernama Arian, Nina mengikutinya dengan membonceng motor klasik yang tua.

Panas semakin mencekam dan Arian memutari pegunungan itu dengan sembari bertanya kepada kedai-kedai tentang keberadaan jahe. Setelah memutarinya dengan motor klasik, terdapat salah satu kedai kecil yang memiliki jahe sebagai menu dan kedua pasangan muda berhenti untuk meneduh kehangatan jahe deplok tersebut.

Jahe telah ditemukan tetapi mereka belum pula menemukan tempat ibadah untuk melaksanakan sholat ashar dan hingga akhirnya menemukan masjid di daerah pegunungan. Arian menungguinya sholat dengan menuliskan beberapa target orientasi ke depan dan dengan sengaja Nina memotretnya dari belakang.

Hasil jepretan hp Nina, diberikan ke Arian melalui akun media sosialnya berupa WhatsApp. Tetapi, mungkin hal itu merupakan pertemuan terakhir untuk menuangkan perasaan sedih dan tawa. Tak lama berganti hari, Arian ingin pergi ke salah satu kampung di Kediri yang bernama kampung Inggris dengan niat semula addalah singgah dua pekan.

Laki-laki itu berkata kepada Nina dengan perasaan keberatannya meninggalkannya, "Nin, Aku ingin pergi ke Pare. Disana mau belajar untuk mempersiapkan cita-citaku kedepan". Nina menanyakan waktu yang akan dihabiskan Arian di Pare dan laki-laki  itu menjawab bahwasanya akan pergi selama dua pekan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x