Mohon tunggu...
Fachrudin Alfian Liulinnuha
Fachrudin Alfian Liulinnuha Mohon Tunggu... Administrasi - Hanya sekedar freelance

Hanya ingin sekedar berbagi, bukan menggurui....

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Menyusuri Sungai Opak, Menikmati Serunya Geo Tubing Lava Bantal

26 Februari 2017   02:48 Diperbarui: 26 Februari 2017   12:00 843
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto by: Facebook Geo Tubing Lava Bantal

Sudah lama saya penasaran dengan yang namanya Lava Bantal, walaupun sudah pernah lihat seperti apa bentuknya, tapi rasa penasaran ini semakin besar karena keinginan untuk mengexplore lebih jauh tentang sisi lain dari Lava Bantal. Akhir pekan kemarin, rasa penasaran itu akhirnya terjawab dengan ajakan dari teman-teman Kompasianer Jogja untuk menjajal wahana wisata baru di sekitar Lava Bantal, yaitu "Geo Tubing Lava Bantal". Karena memang akhir-akhir saya kurang piknik, ajakan itu sepertinya akan sulit untuk ditolak,yah sekedar untuk merefresh otak dari segala hiruk pikuk rumitnya kehidupan, hehehe...Piknik gak usah jauh-jauh, asal bisa bikin bahagia dan tertawa, jadilah agenda saya pada weekend waktu itu (18/02/2017) #sabtublusuk.

Sebagai pengenalan untuk teman-teman yang belum tahu, Lava Bantal terletak di Jalan Berbah, Dusun Watuadeg, Desa Jogotirto, Berbah, Sleman. Wisata yang sudah diremikan oleh Sri Sultan Hamengkubowono X pada bulan Mei 2016 ini merupakan pijaran lava yang sudah jutaan tahun mengendap di wilayah tersebut dan memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Dinamakan Lava bantal karena bentuk strukturnya yang menyerupai bantal. Nah, tumpukan batu-batu ini adalah lava gunung berapi yang sudah membatu dan keberadaannya sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. Bahkan, Lava Bantal lebih tua dibandingkan dengan Gunung Api Purba Nglanggeran yang berada di kabupaten Gunung Kidul. Lava Bantal ini terbentuk dari lelehan lava akibat erupsi yang bersentuhan dengan air laut. Konon, daerah itu dulunya bekas gunung api purba yang berada di laut.

Sedangkan Geo Tubing Lava Bantal adalah sebuah wahana wisata baru yang digagas oleh Badan Promosi Pariwisata Kabupaten Sleman bersama masyarakat setempat sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata Lava Bantal. Setelah diresmikan oleh Bupati Sleman Sri Purnomo pada Tanggal 18 Desember 2016, Geo Tubing Lava Bantal ditetapkan sebagai  wisata yang bersifat fun dan edukatif karena menggabungkan antara olahraga tubing dan wisata geo heritage. Wisata ini memang sedikit menguji adrenalin, apalagi bagi saya yang baru pertama kali mencoba jenis wisata seperti ini. Mengarungi derasnya aliran Sungai Opak, sambil leyeh-leyeh diatas ban karet sendiri, ngeri-ngeri asyik. Untuk cerita bagaimana asyik dan serunya 10  Kompasianer Jogja menjajal Geo Tubing Lava Bantal, mari kita ikuti cerita dibawah ini.

Bupati Sleman Ketika meresmikan wisata Geo Tubing Lava Bantal (Foto by:Facebook Geo Tubing Lava Bantal)
Bupati Sleman Ketika meresmikan wisata Geo Tubing Lava Bantal (Foto by:Facebook Geo Tubing Lava Bantal)
Perjalanan dimulai dari depan gedung Grhatama Pustaka Yogyakarta, karena memang meeting pointnya sudah disepakati di tempat tersebut. Estimasi waktu perjalanan sekitar 35 menit dengan kendaraan bermotor. Rombongan sempat tersesat karena bingung untuk menemukan tempat startnya, sudah sampai di jembatan Lava bantal, setelah di konfirmasi, eh ternyata itu adalah titik finishnya. Dengan diantar oleh mbak Kiki, salah satu  pengelola Geo Tubing Lava Bantal, kita akhirnya pindah ke tempat yang seharusnya menjadi titik start dari Geo Tubing Lava Bantal yaitu di DusunTanjung Tirto, Desa Kalitirto,  Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Untuk menuju kesana sudah ada papan petunjuknya, tempatnya sangat dekat dengan KP4 (Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) UGM. Yang punya GPS, silahkan dicatat kordinat Geo Tubing Lava Bantal ini: -795727,110.465838. Yang punya smartphone, silahkan buka peta hp masing-masing

Sesampainya di sekretariat, kita sudah disambut hangat oleh teman-teman pengelola wisata.  Salah satunya adalah Bapak Sarwoto Dwi Atomojo yang bertugas menjelaskan kepada kita semua tentang informasi seputar wisata Lava Bantal, penjelasannya sangat bermanfaat untuk membuka wawasan kita tentang tempat ini yang ternyata memang mempunyai nilai historis yang sangat tinggi dan wajib untuk dijaga dan dilestarikan. Setelah informasi yang diberikan cukup, kini saatnya melakukan berbagai persiapan untuk terjun ke sungai. Persiapan dimulai dengan pengenalan dari pihak pemandu pada alat-alat untuk melakukan aktivitas tubing, kemudian dilanjutkan dengan melakukan brirfing,  pemanasan atau peregangan otot sampai berdoa bersama agar semuanya dapat berjalan lancar dan aman. 

Sekretariat Geo Tubing Lava Bantal (Dok.Pribadi)
Sekretariat Geo Tubing Lava Bantal (Dok.Pribadi)
Berdoa bersama (Instagram:Geo Tubing Lava Bantal)
Berdoa bersama (Instagram:Geo Tubing Lava Bantal)
Setelah  persiapan selesai, kita semua yang sudah memakai atribut pengaman seperti helm dan pelampung berjalan menuju sungai Opak untuk melakukan aktivitas tubing. Jarak antara sekretariat dengan start tubing sekitar 50 meter. Sungai Opak yang terasa tenang di pagi itu seolah menyambut dengan hangat para rombongan Kompasianer Jogja. Ban-Ban raksasa sudah siap untuk dinaiki, para pemandu juga sudah siap untuk mengawal kami untuk menyusuri sungai dengan trek sepanjang 2 km. Oh iya, ban tubing yang kita naiki itu sudah dimodifikasi dengan desain yang memiliki 2 tali yang saling terkait silang di tengah, sehingga dapat digunakan untuk duduk di tengah ban. Di sisi luar ban juga terpasang 2 tali yang bisa digunakan untuk pegangan, jadi sangat aDengan sedikit bantuan dari pemandu, akhirnya saya bisa bisa duduk di tengah ban dengan nyaman.  Ban pun meluncur dengan pelan membelah sungai opak yang terasa syahdu pada pagi hari itu.

Pergerakan ban yang saya naiki tidak selamanya tenang, mau tidak mau harus menuruti kehendak sang tuan rumah. Kadang saya harus berputar-putar, bahkan hampir menabrak pinggiran sungai yang dipenuhi sampah dan ranting-ranting pohon, untung ada mas wahyu, pemandu kita yang sigap membantu membetulkan arah ban saya. Suasana seakan tidak pernah sepi karena tawa dan keceriaan para teman-teman kompasianer jogja. Suasana tambah pecah saat kita menepi ke pinggir sungai untuk sekedar beristirahat sebentar, ketika itu ada salah satu teman yang memang sepertinya sedang panik dan tiba-tiba bannya terlepas dan terbalik, sontak teman saya tersebut menjerit dan terlihat ketakutan, padahal dia sudah memakai pelampung dan kondisi air sungai yang kita buat menepi itu dangkal #Aduhh. kami yang melihat kejadian itu, bukannya menolong malah tertawa dengan kerasnya. Usut punya usut, ternyata waktu itu memang ada yang sengaja ngerjain untuk membalikkan bannya, maaf ya, bukan saya lho, hahaha... 

Bergandengan (Foto by: Arif Lukman Hakim)
Bergandengan (Foto by: Arif Lukman Hakim)
Di tengah-tengah asyiknya meyusuri sungai opak, saya juga disuguhi dengan rimbunnya pepohonan bambu di kanan-kiri tepian sungai. Pohon-Pohon bambu tersebut seolah membentuk lorong yang indah dan terasa sejuk ketika dipandang.  O ini yang dinamakan lorong syahdu, pikirku ketika teringat cerita Pak sarwoto saat memberikan informasi di rumah sekretariat. Bentuknya yang menjulang tinggi dan melengkung memang benar-benar alami dan membuat mata ini tak lelah menatap kagum dengan keindahannya. Tapi sayang, pandangan ini sedikit terganggu dengan cukup banyaknya tumpukan sampah di kanan-kiri pinggiran  pohon bambu. Banner berulisan "Kaline Resik, Uripe Becik" sepertinya belum menjadi mantra yang ampuh untuk bisa lepas dari yang namanya sampah.

Lorong syahdu (Foto by: Arif Lukman Hakim)
Lorong syahdu (Foto by: Arif Lukman Hakim)
Sisi lain yang saya sukai dari aktivitas menyusuri sungai ini adalah bisa melihat aktivitas masyarakat di pinggiran sungai. Seperti yang terlihat pada waktu itu, ada beberapa anak kecil yang mandi di sungai, ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian, para pencari ikan sampai bapak-bapak yang sedang menambang pasir. Semua aktivitas tersebut semakin menambah daya plus wisata ini karena kita bisa meihat dan lebih mengenal kearifan lokal masyarakat setempat. Tapi yang lebih penting, masyarakat harus tetap diingatkan untuk tetap menjaga kelestarian sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kesadaran masyarakat sangat perlu dalam menjaga kebersihan sungai agar wiasatawan semakin tertarik untuk  berwisata di Geo Tubing Lava Bantal.

Aktivitas masyarakat di Sungai Opak (By:Arif Lukman Hakim)
Aktivitas masyarakat di Sungai Opak (By:Arif Lukman Hakim)
Hari sudah mulai beranjak siang, terik matahari terasa menyengat kulit. Menjelang beberapa meter lagi menuju titik finish di lava bantal, tidak ada pohon-pohon rindang yang menjadi tempat peneduh, beberapa kali saya harus menciprat-cipratkan air dengan tangan dan kaki ke atas ban agar tidak terasa panas. Ada sedikit rasa jenuh, semakin mendekati titik finish, arus sungai yang kita lewati terasa kalem-kalem saja tanpa perlawanan.  Memang di trek panjang ini kita jarang menemukan titik jeram yang menantang, sehingga membuat saya sedikit ngantuk dan berharap cepat untuk sampai di tempat finish. Disana terdapat trek pendek yang arusnya lumayan deras dan menguji adrenalin. Meskipun sedikit jenuh, saya sangat terhibur dengan keceriaan dan candaan yang sering dilontarkan oleh teman-teman kompasianer jogja, tingkah laku mereka yang kocak membuat saya sedikit terhibur.

Beberapa menit sebelum menuju titik finish, bau tidak sedap tiba-tiba tarasa menusuk hidung, teman saya disebelah juga merasakan hal yang sama, sehingga harus menutup hidung dengan kerah bajunya. "Wah, bau apa ini mas kok gak enak banget..!" tanya saya pada mas Wahyu pemandu kami, "Maaf mas, ini bau dari dari pabrik pemotongan ayam, limbah bulu ayamnya dijemur sehingga menimbulkan bau yang gak enak kayak gini" ujar mas wahyu, sambil tangannya menujuk  ke arah kiri seberang sungai. Lokasi pabrik memang sangat dekat dengan lokasi wisata Lava Bantal, sehingga hal ini menurut saya sangat mengganggu kenyamanan para wisatawan. Menurut artikel yang saya baca di antarayogya.com, persoalan pencemaran limbah bulu ayam di sekitar Lava Bantal itu sudah pernah dibicarakan oleh Pokdarwis kepada pemilik pabriknya hingga sampai ke kelurahan, namun ternyata tidak ada tanggapan. penjemuran limbah bulu ayam itu baru bisa berhenti ketika ada pejabat tinggi yang datang berkunjung ke Lava Bantal. Setelah selesai, kemudian diulangi kembali. Semoga kedepannya persolan ini cepat selesai, antara pengelola pabrik dan wisata Lava Bantal bisa mencapai titik temu untuk bisa menghadirkan wisata yang nyaman tanpa mengganggu kenyamanan para wisartawan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun