Mohon tunggu...
'eyyasy Kariem
'eyyasy Kariem Mohon Tunggu... -

mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

MANUFER MILITER UMAR BIN AL KHATTAB RA

8 Februari 2011   15:04 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:47 9926
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

p { margin-bottom: 0.08in; }



  1. PENDAHULUAN

Khalifah Umar bin al Khattab ra memulai masa pemerintahannya dengan serangkaian penaklukaan yang sebelumnya telah dirintis oleh Abu Bakar ra, Umar bin al Khattab ra berhasil menyelesaikan semua tanggung jawab itu dengan amat gemilang. Berkat rahmat Allah ta’ala serta dukungan para negarawan Islam pada saat itu, Umar bin al Khattab berhasil membangun Negara yang amat luas dalam waktu yang relative singkat jika dibandingkan dengan waktu yang sebelumnya dibutuhkan oleh para kaisar dan penguasa untuk meluaskan kekuasaan mereka

Namun demikian, misi dan cara yang dilakukan oleh khalifah Umar bin al Khattab jauh berbeda dengan tujuan para peguasa tersebut. Umar bin al Khattab ra menegakkan Negara yang dipimpinnya diatas dasar yang kokoh berupa keimanan kepada Allah ta’ala dan penegakan keadilan yang didukung pula oleh rasa cinta yang tulus, akhlak yang baik, dan tradisi Arab yang luhur. Jadi, wajar saja jika sejarah menulis nama Umar bin al Khattab sebagai seorang penakluk paling besar dalam sejarah manusia. Sebab, semua penaklukan yang dilakukan oleh Umar bin al Khattab selalu memberikan dampak yang positif bagi bangsa-bangsa yang mendiami wilayah taklukannya.

Bagi Umar bin al Khattab ra, penaklukan adalah semata-mata upaya untuk meninggikan kalimat Allah ta’ala taala dan demi menggenapi janji Allah ta’ala taala kepada orang-orang beriman, yaitu mereka akan menjadi pewaris bumi. Selain itu, Umar bin al Khattab ra memang memiliki tekad yang amat kuat untuk membebaskan umat manusia dari kekejaman para penguasa Persia dan Romawi dibarengi dengan menyampaikan risalah tentang keesaan Allah ta’ala kepada bangsa-bangsa yang ada. Allah ta’ala taala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Artinya: “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”(QS. at Taubah: 33)

Suatu ketika, datanglah seorang lelaki kepada Umar bin al Khattab dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bawalah diriku untuk berjihad!” mendengar itu, Umar bin al Khattab pun berkata kepada seorang lelaki lain: “Ajaklah ia masuk ke baitul mal dan biarkan dia mengambil apapun sekehendak hatinya!” maka lelaki itu pun masuk ke baitul mal yang ternyata di dalamnya banyak terdapat emas dan perak, Lelaki itu berkata: “Aku sama sekali tidak membutuhkan hal ini, yang kubutuhkan hanya bekal dan kuda tunggangan!” maka lelaki itupun dibawa menghadap Umar bin al Khattab. Setelah dikabari ikhwal ucapan lelaki tersebut, Umar bin al Khattab langsung meminta bawahannya agar memberikan bekal dan kuda tunggangan kepada lelaki tersebut. Lantas Umar bin al Khattab sendiri yang menuntun lelaki itu atas kudanya. Setelah berada di atas kuda, lelaki itu pun melangkahkan kudanya seraya menengadahkan tangan memuji Allah ta’ala atas apa yang dianugerahkan kepadanya. Dan Umar bin al Khattab terus mengikuti lelaki itu sambil berharap agar ia juga di doakan olehnya. Setelah doa itu, dia kembali berdoa dengan berucap: “Ya Allah ta’ala, limpakanlah kebaikan kepada Umar bin al Khattab!”

Itulah khalifah Umar bin al Khattab al Faruq, dia sangat cerdas dan tahu cara memilih orang yang tepat sebagai pasukannya, yang mengutamakan harta dari din Allah ta’ala, Umar bin al Khattab selalu memberikan wasiat terbaik dan menjaga setiap perkara terpuji untuk disampaikan kepada semua panglima peranganya. Ini bertujuan agar mereka terus menghidupkan hakikat keimanan yang selalu ia sampaikan kepada mereka. Suatu ketika Umar bin al Khattab pernah berkata: “Demi dzat yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, seandainya ada seekor onta saja yang binasa sia-sia di tepian sungai Eufrat, aku khawatir karena hal itu semua keluarga al Khattab di mintai pertanggung jawaban oleh Allah ta’ala.”

Pada zaman jahiliyah, orang-orang Arab begitu takut terhadap bangsa Persia dan Romawi, mereka selalu tunduk kepada kedua bangsa yang memiliki dua kerajaan sebagai kaki tangannya: bangsa Lakhmi yang menjadi kaki tangan Persia, dan bangsa Ghassan yang menjadi kaki tangan Romawi untuk menguasai syam. Bangsa Arab selalu mengagungkan mereka, menyebut mereka dengan sebutan raja, dan para pujangga Arab juga banyak yang mengubah judul syair-syair untuk memuji mereka

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun