Erniwati Oswan
Erniwati Oswan

Merah darahku, putih tulangku, biru hatiku.

Selanjutnya

Tutup

Sosial

Andai Daud Jadi Panutan

17 Mei 2018   20:39 Diperbarui: 17 Mei 2018   20:57 291 1 0
Andai Daud Jadi Panutan
Sumber: https://pixabay.com

Kitab orang Kristen yang disebut Alkitab, terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama dicatat banyak peperangan dan kekerasan. Daud adalah salah satu panglima perang yang tercatat dalam Perjanjian Lama. Sejarah mencatat bahwa Daud melakukan banyak peperangan, pembunuhan dan kekerasan pada musuh-musuhnya.

Namun ada juga bagian-bagian yang mencatat Daud mengampuni beberapa musuhnya, misalnya Simei yang mengutuknya waktu Daud melarikan diri dari kejaran putranya Absalom (2 Samuel 16:5-8). Namun demikian, Alkitab juga mencatat bahwa di akhir hidupnya, Daud meminta Salomo untuk membalaskan perbuatan Simei kepadanya (1 Raja-raja 2:8-9). Rupanya kedagingan Daud sebagai manusia membuatnya tidak dapat mengampuni Simei secara utuh.

Melihat kehidupan Daud, penulis jadi berpikir, apa jadinya jika orang kristen memilih Daud menjadi panutan mereka? Ada dua versi yang bisa terjadi. Pertama, beberapa orang kristen akan mengambil sikap bahwa peperangan dan pembunuhan yang melibatkan Daud sesuai dengan konteks kehidupannya pada zaman itu, yang bertujuan untuk menguasai suatu area, sehingga mereka melakukannya dengan peperangan atau bertahan dari musuhnya dengan peperangan.

Orang-orang ini akan berpikir bahwa ini adalah semata-mata sejarah, suatu kenyataan hidup di masa lalu yang dicatat oleh Alkitab untuk kita belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini. Apakah saat ini kita hidup dalam situasi seperti zaman Daud, dimana kita harus meluaskan wilayah atau pengaruh sehingga harus berperang dan menumpahkan darah?

Kedua, mereka akan berpikir bahwa peperangan dan kekerasan adalah jalan keluar untuk menunjukkan superioritas dan memperluas pengaruh, seperti yang dilakukan Daud. Kelompok ini 'meneladani' Daud dan besar kemungkinan akan berpikir bahwa orang yang di luar kelompok mereka adalah orang-orang yang patut disingkirkan dan dimusnahkan dengan kekerasan dan perang. 

Berkaca dari apa yang dilakukan Daud, seorang raja besar yang sangat dihormati,seseorang bisa memilih sikap mana yang akan dipilih berdasarkan penafsirannya. Penafsiran yang bebeda akan mengarahkan seseorang pada pilihan yang berbeda seperti kedua kelompok di atas. Namun, keduanya adalah orang kristen. Kenyataan ini tidak bisa dihindari atau dihaluskan dengan mengatakan satu bukan kristen, yang lain adalah kristen. Justru dengan menerima kenyataan bahwa dua-duanya adalah orang kristen, kita bisa menemukan akar permasalahan dan bagaimana mengatasinya.

Penulis bersyukur Alkitab tidak berhenti hanya di Perjanjian Lama, tapi dilanjutkan dengan Perjanjian Baru. Tokoh sentral dalam Perjanjian Baru adalah Yesus Kristus atau Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengajarkan untuk mengasihi musuh-musuh kita (Matius 5:44, Lukas 6:28, Roma 12:14). Tuhan Yesus mengajarkan untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan, tetapi juga mempraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari.

Tuhan tidak membalas orang-orang yang menyalibkan-Nya meskipun Dia memiliki kuasa, bahkan untuk melenyapkan orang-orang ini dari muka bumi. Ini perkara yangterlalu mudah buat Tuhan Yesus, namun Tuhan memilih untuk mengampuni mereka. Tuhan Yesus yang menjadi panutan orang kristen, membuat semua orang kristen menggunakan nilai yang sama dalam berinteraksi dengan sesamanya. Dengan mata tertuju kepada Tuhan, semua orang kristen tidak mempunyai dualisme dalam menyikapi sejarah peperangan dan kekerasan  yang tercatat dalam Perjanjian Lama.

Kita harus hidup saling menghargai perbedaan dan bekerja sama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Baik menurut siapa? Hal ini dikembalikan lagi kepada tokoh panutan kita masing-masing. Jika tokoh panutan kita itu berpikir adalah baik melakukan perang untuk menumpas kelompok yang tidak sepaham, maka kehidupan yang saling menghargai dan bekerjasama hanyalah sebuah mimpi. Ketika tokoh panutan kita mengajarkan bahwa kebaikan dapat dicapai dengan cara damai, maka dunia ini akan berubah.

Sebenarnya, hal ini menunjukkan bahwa kita memerlukan sebuah kebenaran yang bersifat mutlak dan penulis percaya akan adanya kebenaran yang bersifat mutlak dan bersumber dari Alkitab. Apabila kebenaran mutlak tidak ada, maka setiap orang berhak menafsirkan segala sesuatu dengan bebas tetapi ia tidak berhak untuk memaksa orang lain mempercayai penafsirannya. Bukankah bagi mereka tidak ada kebenaran yang mutlak?

Kiranya, tulisan sederhana ini menolong kita semua untuk membangun sebuah komunitas yang sehat!

Erniwati Oswan dan Hany Ferdinando