Mohon tunggu...
EVRIDUS MANGUNG
EVRIDUS MANGUNG Mohon Tunggu... Pencari Makna

efridusmangung@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Menemukan Jalan Emas dalam Budaya Manggarai Menuju Penanggulangan Bencana Alam Indonesia

11 Agustus 2019   13:17 Diperbarui: 11 Agustus 2019   13:33 183 12 5 Mohon Tunggu...

Shulhan Syamsur Rijal dalam media ACTNews menulis sebanyak 92 persen dari bencana yang menerjang Indonesia adalah bencana kategori hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi berarti bencana alam yang dipicu oleh curah hujan lebat, deras dan basah sepanjang musim hujan. Catatan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di Indonesia membubung sepanjang tahun 2016.

BNPB sebagaimana ditulis Shulhan Syamsur Rijal menyimpulkan catatan bencana tahun 2016 jauh lebih besar dibanding tahun 2015. Menurut hitung-hitungan BNPB selama tahun 2016 telah terjadi 2.384 bencana alam di seluruh Indonesia. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun 2015 dimana catatan bencana alam "hanya" berjumlah 1.732 kejadian. BNPB memperkirakan selama tahun 2016 kemarin Indonesia merugi sebesar Rp 30 triliun. Jelas angka yang tidak sedikit, kerugian merebak karena matinya lahan pertanian, hancurnya harta benda dan robohnya rumah-rumah warga serta fasilitas umum[1]. 

Data yang dipaparkan Statistik Bencana Indonesia 2016 di atas maupun catatan bencana pada tahun-tahun sebelumnya tidak bisa dianggap sebagai catatan fakta bencana belaka. Data itu mesti dilihat dalam dua sudut pandang sekaligus. Pertama, catatan data yang terberi. Artinya, bahwa data ini memang diakui sebagai catatan atas fakta yang sudah dialami dan mungkin catatan itu akan bertambah jumlahnya pada perjalanan manusia Indonesia pada hari-hari yang akan datang. Kedua, Data terberi itu seharusnya ditanggapi dan dicarikan solusi yang terbaik sehingga diharapkan sekurang-kurangnya mampu menurunkan bencana secara kuantitatif.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi dua sudut pandang di atas dalam menyikapi bencana? Pendekatan budaya sadar bencana merupakan jawaban yang paling ampuh, jitu dan dianggap paling familiar untuk merangkum dua sudut pandang tersebut. Pendekatan budaya merupakan alternatif lain dari pendekatan-pendekatan ilmiah yang dinilai agak susah dipahami oleh masyarakat non akademis atau masyarakat yang memiliki SDM di bawah standar.

Untuk membantu pemahaman apa itu budaya sadar bencana yang paling ampuh, jitu dan dianggap paling familiar, saya memilah kata demi kata dari: budaya sadar bencana. Pemilahan ini bertujuan untuk memahami arti masing-masing kata. Budaya sadar bencana dipahami melalui defenisi dari masing-masing kata tersebut.

Pertama, Budaya. Budaya diartikan pikiran, akal budi, adat istiadat; sesuatu mengenai kebudayaan, yang sudah berkembang (beradab maju); sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.[2] 

Kedua, Sadar. Sadar berarti insaf, merasa tahu dan mengerti.

Ketiga, Bencana. Bencana berarti sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian atau penderitaan, kecelakaan; bahaya. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Berdasarkan definisi dari masing-masing kata di atas maka dapat disimpulkan bahwa budaya sadar bencana merupakan kondisi pikiran, akal budi, adat istiadat atau sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab maju), sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah dari seorang atau masyarakat yang insaf, merasa tahu dan mengerti adanya sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian atau penderitaan, kecelakaan; bahaya.

Model pendekatan budaya sadar bencana adalah model yang sudah melekat erat dalam diri manusia, sang pemilik kebudayaan itu sendiri. Budaya sudah ada sejak seseorang itu di dalam kandungan ibunya, ketika ia dilahirkan, hidup dan matipun tetap dalam suatu kerangka budaya tertentu. Seorang ibu yang mengandung sudah menghidupi dan dihidupi oleh budaya. Kelahiran itu sendiri bagi seorang ibu sebenarnya adalah kelahiran generasi penerus atas budaya yang dihidupinya. Solusi terhadap bencana sudah ada dalam diri manusia, melekat erat dalam diri manusia. Ketika seorang manusia menolak budaya itu sama halnya menolak keberadaan dirinya sendiri dan sekaligus menolak ibu yang telah melahirkannya.

Suatu kebanggaan yang luar biasa yang patut kita syukuri adalah bahwa Bangsa Indonesia dianugerahi berbagai macam budaya. Di balik rasa syukur sebagai suatu bangsa terbersit sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri yakni bahwa setiap orang Indonesia pasti lahir, hidup dan mati dalam suatu budaya tertentu. Oleh karena ia lahir dalam satu budaya tertentu maka ia pun memiliki cara pandangnya sendiri untuk menjalin hubungannya dengan Tuhan, hubungannya dengan manusia lain dan hubungannya dengan lingkungannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x