Mohon tunggu...
Evi Peach
Evi Peach Mohon Tunggu... Evi Nur

selenophile. Student at UIN walisongo Semarang

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Review Buku "Sampah di Laut, Meira"

7 Juni 2020   17:27 Diperbarui: 7 Juni 2020   17:25 19 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Review Buku "Sampah di Laut, Meira"
Gambar: @asdfevinrx

Gambar: @asdfevinrx
Gambar: @asdfevinrx
Sampah di Laut, Meira. Novel ini ditulis oleh Mawan Belgia dan merupakan tembusan dari Buku Mojok, terbit bulan April kemarin, ya masih baru.

Selama membaca novel ini, saya terlalu sering mengatakan "Lah kok?" atau "Oh astaga", ya maklum, tipikal pembaca yang terlalu histeris.

Sampah di Laut, Meira. Sebenarnya saya sering menerka-nerka alur cerita atau maksud dari Sampah di Laut dan siapa Meira itu sendiri, tapi, ekspektasi saya melayang jauh setelah membaca novel ini. Menerka-nerka memang tidak selalu bagus.

Cola, sebuah sampah plastik kemasan minuman yang berpengetahuan adalah tokoh utama dalam novel ini. Adapun Meira seorang (roh) yang cukup malang nasibnya, dan juga Ohana si sampah plastik yang senang bernyanyi.

Cola, Meira, dan Ohana diceritakan di masing-masing bab berbeda di novel ini. Tapi tentu saja saling bergandengan, dan saya juga salut dengan cara penulis membuat mereka tetap bergandengan tanpa merusak ciri khas per-babnya. Halaman awal novel ini kita akan disajikan dengan perjalanan hidup Cola, mulai dari pabrik, lemari pendingin, dan beberapa tempat sebelum sampai ke laut.

Meira, tokoh ini sangat menarik perhatian saya. Gadis malang akibat perang kedua orangtua. Kisah Meira bisa dibilang memang cukup relevan dengan kehidupan sekarang. Banyak anak yang akhirnya "kebingungan" karena sikap kedua orang tua. Kemudian kisah Meira dan Buce, ais, ini adalah bagian yang lumayan menyedihkan menurut saya.

Lalu Ohana, penulis berhasil membuat saya ikut merasakan kejengkelan Ohana karena dikatai sampah yang bodoh wkwk. Ohana yang suka bernyanyi dan sekaligus penggemar berat Raisa.

Novel ini penuh dengan kritikan terhadap manusia dan lingkungan. Kersesahan-keresahan terhadap lingkungan utamanya laut, berhasil ditumpahkan dalam novel ini. Tentang ketidak-bijakan manusia dalam memperlakukan sampah, kurangnya perhatian manusia terhadap sampah yang masih bisa didaur ulang, atau sampah yang bisa sangat bermanfaat di kehidupan manusia.

Bayangkan jika sampah-sampah itu juga punya kehidupan, bagaimana rasanya dibuang dan ditelantarkan di sembarang tempat atau bahkan dibakar sampai benar-benar musnah? Menyedihkan sekali pasti.

Setiap kisah yang dituliskan dalam novel ini bisa dikatakan adalah pesan untuk pembaca agar lebih baik kepada sampah. Karena jika tidak, yang akan rugi ya kita manusia.

Slide terakhir merupakan bagian favorit saya. Goodjob!

VIDEO PILIHAN