Mohon tunggu...
Evina Cahyani Budiaji
Evina Cahyani Budiaji Mohon Tunggu... Mahasiswa - Universitas Sebelas Maret

Saya adalah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Politik yang sedang mencoba mengamati dunia sosial. Merupakan suatu hal yang baru bagi saya untuk dapat menuangkan pikiran saya dalam suatu karya kepenulisan dan menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk dapat memberikan karya yang bermanfaat bagi orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menggugat Konstruksi Gender pada Era Terkini

10 Juni 2022   09:00 Diperbarui: 10 Juni 2022   09:02 534
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Permasalahan mengenai diskriminasi gender selalu menjadi isu yang terus menguat dari waktu ke waktu. Gugatan mengenai permasalahan tersebut tidak hanya terjadi di negara dengan peradaban yang tinggi. Perjuangan akan adanya keadilan pada kesetaraan gender dalam perlakuan atau pemberian hak, senantiasa dilakukan pula di berbagai negara lain. Meskipun telah diperjuangkan bertahun-tahun lamanya, masih dapat ditemui banyak kasus yang melibatkan diskriminasi gender pada era ini. Diskriminasi gender tersebut sering kali melemahkan pihak perempuan dan memberikan ketidakadilan terhadap mereka.

Langgengnya permasalahan mengenai kesetaraan gender disebabkan oleh adanya budaya patriarki yang mendominasi dan berkembang pada masyarakat. Pada mulanya, istilah patriarki dipakai oleh Max Weber untuk mengacu pada sistem tertentu ketika posisi seorang ayah dalam rumah tangga mendominasi anggota keluarga lainnya dalam menguasai produksi ekonomi keluarga (dalam Syamsiah, 2014:281). Namun, kini pandangan bahwa laki-laki merupakan kaum yang lebih perkasa, lebih kuat, dan lebih berhak menduduki peran penting telah mengonstruksi tatanan budaya hingga membuat masyarakat lebih memihak laki-laki daripada perempuan. Konstruksi budaya ini terus berlangsung dari abad ke abad dan dari generasi ke generasi. Masyarakat pun menjadi sulit untuk membedakan antara apa yang disebut "kodrat" dengan "konstruksi budaya" sebagai produk cipta karya manusia.

Untuk memahami perbedaan dua hal tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai perbedaan antara gender dan sexuality. Pengertian sex (jenis kelamin) merupakan pembagian 2 (dua) jenis kelamin manusia berdasarkan kondisi biologis yang melekat pada manusia. Hal-hal tersebut akan terus melekat pada manusia (baik laki-laki maupun perempuan) sepanjang hidup dan merupakan ketentuan Tuhan atau yang dapat disebut dengan kodrat.

Adapun, menurut Jary, D. dan Jary, J. dalam Dictionary of Sociology (1991:254), para sosiolog dan psikolog lebih mengartikan gender dalam pembagian 'masculine' dan feminine'. Hal tersebut dilihat melalui atribut yang melekat secara sosial dan kultural. Dengan kata lain, dalam konsep gender ini melekat sifat-sifat yang dikonstruksi secara sosial dan budaya. Sebagai contoh misalnya laki-laki, dianggap lebih kuat, perkasa, agresif, dan rasional sedangkan perempuan lebih dianggap sebagai seseorang yang lemah lembut, keibuan, pasif dan emosional.

Seiring dengan perkembangan waktu, adanya konstruksi sosial ini ternyata dapat melemahkan sebelah pihak. Konstruksi sosial ini umumnya menunjukkan bahwa pihak yang mendominasi tersebut adalah seorang laki-laki karena dianggap memiliki sifat yang lebih menonjol untuk bertahan di luar rumah. Sedangkan wanita dianggap lemah sehingga lebih tepat untuk melakukan pekerjaan domestik di dalam rumah. Adanya hal tersebut seiring perkembangan jaman membuat perempuan disepelekan dan dianggap berada dibalik laki-laki. Bahkan parahnya lagi, perempuan menjadi pihak yang mengalami perlakuan kasar dan semena-mena oleh konstruksi tersebut.

Lalu, apakah konstruksi sosial ini dapat dibatalkan? Pada dasarnya, perempuan menggugat konstruksi ini demi mencapai kesetaraan, sesuatu yang dimentahkan habis-habisan oleh patriarki dan konstruksi yang dibangun mengenai perempuan selama ini. Mengingat bahwa konstruksi sosial dapat berkembang dari waktu ke waktu, maka usaha yang dilakukan oleh mereka pun bukanlah suatu hal yang sia-sia dan sangat mungkin untuk mencapai suatu keberhasilan seiring dengan berjalannya waktu. Suatu hal yang dapat membuat hal tersebut cepat menemukan titik keberhasilan adalah adanya strategi dan sasaran yang tepat.

Gerakan feminisme hingga kini telah banyak sekali yang dilakukan. Seruan yang ada pada sosial media, berbagai diskusi pada forum webinar, serta bentuk perjuangan lain yang berusaha mengubah mindset patriarki masyarakat pun dilakukan. Namun, strategi seperti ini tidaklah akan cukup. Gugatan demikian sebenarnya hanya akan menghabiskan daya dan waktu feminis untuk berkutat pada hal tersebut. Hal ini lama kelamaan dapat membuat mereka terjebak pada perdebatan tanpa ujung mengenai patriarki dan konstruksi yang ada tanpa melakukan sesuatu yang lebih nyata atau nampak.

Berdasarkan pemikiran Antonio Gramsci (dalam Siswati, 2017) mengenai hegemoni, dapat disimpulkan bahwa seandainya terdapat sebuah konstruksi yang menjadikan identitas keperempuanan lemah, sesungguhnya konstruksi tersebut dapat ditolak dan tak harus diterima. Menurutnya, hegemoni hanya dapat berlangsung bila masih ada konsensus/kesepakatan antara pihak yang melakukan hegemoni dan yang terhegemonik. Jika perempuan menjadi pihak yang terhegemonik seperti kaum proletar yang tersubordinasi maka sejatinya mereka dapat menolak hegemoni dengan cara menolak konsensus, mengabaikan sama sekali konstruksi, dan melakukan hal lain yang dinilai lebih bermanfaat. Dengan demikian, hegemoni dari konstruksi itu akan rontok dengan sendirinya.

Poinnya adalah, feminis tidak seharusnya hanya melakukan pendebatan dan penolakan pada konstruksi yang menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan pemikiran. Karena toh identitas (kredibilitas) akan muncul dengan sendirinya apabila ada hal besar nyata dilakukan. Maka dari itu, di masa kini, di mana perempuan telah memiliki akses untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan, perempuan perlu meningkatkan kualitas diri mereka. Perempuan pun akan memiliki wibawanya sendiri dan tak lagi berada di balik laki-laki. Selain itu akhirnya, dari semua hasil konstruksi sosial yang baru, hal yang akan dinilai adalah kemampuan yang dimiliki sehingga setiap orang memiliki kesempatan/peluang yang sama.

Sebagai contoh nyatanya, feminisme dapat berkaca pada Kartini (pahlawan Indonesia yang menyelipkan pendidikan pada wanita di masa penjajahan) dan banyak perempuan perkasa lainnya seperti Waljinah (seniman), Madame Marie Curie (pemenang nobel fisika-kimia wanita pertama), Margaret Thatcher (pemilik pemikiran yang selalu dinanti dalam bidang politik), dan wanita hebat lainnya yang enggan menghabiskan waktunya berkutat pada perdebatan panjang menolak konstruksi yang ada. Mereka adalah wanita tangguh yang lebih memilih untuk melakukan atau membuat sesuatu, sesuai bidang yang mereka kuasai, tanpa melihat konstruksi yang ada, karena mereka yakin bahwa setelah melakukan sesuatu yang besar, konstruksi sosial apa pun pada akhirnya akan mengakui status dan identitas keperempuanan mereka sebagai perkasa, setara, dan layak, tanpa perlu berdebat panjang.

Oleh karena itu, untuk menjadi perempuan yang perkasa tidak seharusnya hanya diperjuangkan dengan sibuk menggugat budaya patriarki yang ada. Pada era ini, hal yang perlu dilakukan yaitu mendalami dan fokus pada bidang masing-masing, memperkaya diri dengan berbagai ilmu, bahkan melatih kekuatan fisik, hingga menjadi besar serta berkualitas. Dengan demikian, tanpa melakukan pendebatan, budaya apa pun akan tertunduk dengan sendirinya. Perempuan pun hanya perlu memilih untuk meningkatkan kualitas diri dan merontokkan konstruksi yang ada dengan sendirinya atau terus berupaya mendebat identitas dan konstruksi sosial yang masih berlaku?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun