Mohon tunggu...
Evi DwiAnita
Evi DwiAnita Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Membaca

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Mengenal Tjokroaminoto dan Sjafruddin Prawinagari Tokoh Ekonomi Islam di Indonesia

1 November 2022   17:15 Diperbarui: 1 November 2022   17:19 147
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

H.O.S Tjokroaminoto

Tjokroaminoto adalah tokoh masyarakat yang terkait dengan perkumpulan keagamaan. Tjokroaminoto memperkenalkan gagasan sosialisme berdasarkan Islam karena dua alasan. Visi-visi Tjokroaminoto tentang properti sangat berbeda dengan definisi sosialis tentang properti. 

Menurutnya, ada dua hukum tentang kepemilikan dalam sosialisme (serangkaian), yang pertama adalah kepemilikan alat-alat produksi harus berada di bawah ikatan solidaritas. 

Kedua, kontrak akan menentukan apa dan bagaimana hal-hal ini akan diberikan atau dibagikan. ia mengatakan bahwa ada dua aturan yang mengatur kepemilikan properti dalam sosialisme, yang pertama adalah bahwa orang-orang yang tinggal di sana harus diizinkan untuk memiliki alat produksi. 

Kedua, perjanjian hidup bersama harus mendefinisikan apa yang akan diberikan atau dibagikan dan bagaimana hal itu akan dilakukan. Menurut Tjokroaminoto, sosialisme berdasarkan Islam tidak menguasai hak milik. Dia tidak setuju dengan interpretasi (penerjamahan lisan)  asli dari konsep sosialis properti. 

Menurut, keteladanan Nabi ketika memimpin pemerintahan negara. Soal riba, Tjokroaminoto menentang riba. Riba menurut Tjoroaminoto tidak hanya berarti mereka yang bekerja, yaitu bunga, tetapi riba seperti Tjokroaminoto menguntungkan orang lain yang berkuasa. Soal riba, Tjokroaminoto sangat menentang riba. Ia mengatakan bahwa hal ini sejalan dengan teladan nabi pada masanya. 

Riba, menurut Tjokroaminoto, lebih mengacu pada konsumsi pendapatan lain dari pemerintah negara bagian daripada menghubungkan orang-orang yang menderita dengan kepentingan pribadi. 

Meskipun Tjoroaminoto tidak bermaksud pekerja ketika dia menggunakan kata riba, suku bunga yang tinggi bukanlah satu-satunya hal yang terlintas dalam pikirannya ketika dia berpikir tentang riba. peningkatan kredit atau bunga, tetapi juga dengan memaksanya untuk membatasi beberapa kegiatannya dan kegiatan serupa lainnya. 

Tjokroaminoto mencoba memasukkan konsep riba ke dalam Islam agar para penguasa bisa memahaminya. Dijelaskan bahwa, kemaslahatan meewaarde adalah diharamkan oleh Islam karena merupakan bagian dari kemaslahatan. 

Tjokroaminoto menyimpulkan bahwa Islam menentang kapitalisme dan bahwa "buah" didasarkan pada konsep riba. Prinsip persaudaraan dipraktekkan melalui pembatasan sepuluh. Berdasarkan prinsip bahwa semua ciptaan Tuhan adalah bersaudara dan harus saling membantu, Islam melarang makan atau mengumpulkan uang dalam bentuk apapun.

 Kekuatan tirani yang justru menyebabkan kehancuran dunia dan matinya fitrah manusia, berasal dari benih keuntungan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun