Mohon tunggu...
Evania DillaArisandi
Evania DillaArisandi Mohon Tunggu... Evaniadilla

sometimes later becomes never!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Bela Negara Perlahan dan Bertahan

1 Juni 2019   15:02 Diperbarui: 1 Juni 2019   15:10 372 1 0 Mohon Tunggu...

Bela Negara, terdengar seperti sebuah kata yang sering kita dengar, namun tanpa sadar jarang kita resapi maknanya. Definisi dari bela negara itu sendiri sebenarnya adalah sikap ataupun perilaku warga negara yang dijiwai oleh rasa nasionalisme terhadap NKRI berdasarkan Pancasila ataupun UUD 1945 dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalau kita semua ketahui, sebenarnya setiap warga negara Indonesia memiliki kewajiban yang sama dalam masalah bela negara. Entah itu secara fisik, maupun non-fisik. Apa perbedaannya? Apabila fisik, artinya kita membela negara dengan suatu tindakan yang terlihat. Misalnya sajaterdapat gencatan senjata, kita ikut andil dalam melindungi negara dari keadaan lebih buruk dengan terjun langsung melakukan serangan balik. Sedangkan non-fisik, artinya kita membela negara dengan suatu tindakan yang tidak terlihat, tetapi tetap berdampak. Misalnya, kita meningkatkan rasa nasionalisme kita dan melakukan penerapan yang bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Dapat kita rasakan saat ini, hidup di era globalisasi tentu memiliki berbagai tantangan. Berbagai budaya baru dari luar negeri, tanpa sungkan masuk ke negara kita hingga hampir menggantikan budaya lama yang sudah menancap lama di jiwa masyarakat Indonesia. Budaya baru ini datangnya perlahan-lahan, namun masif. Berbagai pakaian terbuka, budaya berpesta, seks bebas, seolah seperti hal yang biasa di kalangan masyarakat Indonesia, terutama bagi pemuda dan penduduk kota besar.

Naasnya, beberapa pemuda Indonesia masih menyepelekan konsep bela negara, dan tidak merasa memiliki peran dalam hal tersebut. Padahal, sebenarnya yang menjadi harapan dan sasaran utama kelangsungan bangsa Indonesia adalah pemudanya. Sudah jelas terdapat landasan konstitusional perihal bela negara yang tertera dalam UUD 1945 Pasal 27 Ayat 3 yang berbunyi, "Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara."

Itu artinya, sebenarnya hal ini sudah ditegaskan dan wajib ditegakkan. Hanya saja, seringkali terjadi kurangnya pembekalan hukum dan amanat bangsa kepada masyarakat, baik yang belia maupun yang sudah lanjut usia sehingga hal-hal seperti ini seolah lumrah terjadi, bahkan sejak lama. Sosialisasi perihal poin-poin penting yang tertera dalam landasan-landasan negara baik konstitusional, operasional maupun idiil jarang sekali dianggap sebagai suatu hal yang primer dalam kehidupan bernegara.

Banyak hal yang perlu disayangkan terjadi. Namun, ini bukan berarti kita tidak dapat bertindak apa-apa terhadap keadaan yang sudah terlanjur begini adanya. Masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi warga negara yang melaksanakan amanat bela negara, dimanapun dan kapanpun.

Melihat keadaan bangsa yang telah bahagia termakan era, yang sangat kita wajibkan kepada seluruh warga negara Indonesia adalah rasa nasionalisme. Jika kita telisik lagi, nasionalisme sendiri sebenarnya punya konsep yang hampir sama dengan bela negara karena sejatinya, nasionalisme memang sebuah paham dengan tujuan mempertahankan suatu negara. Jika nasionalisme sudah mampu terpasang kuat dan rapat dalam jati diri seorang warga negara, maka sikap atau tindakannya sehari-hari secara tidak langsung akan mengandung nilai-nilai bela negara.

Nasionalisme adalah kunci utama dari sikap lainnya seperti sikap cinta tanah air, sikap mampu melestarikan lingkungan hidup, sikap gotong royong, sikap patuh terhadap nilai dan norma yang berlaku. Nah, seringkali kita bertanya-tanya, "Bagaimana bisa kita mempersuasi nasionalisme ini?" atau mungkin, "Apa bisa kita membuat orang yang tak punya rasa nasionalisme, jadi mementingkan sekali nasionalisme ini?" Jawabannya mudah saja. "Bisa. Sangat bisa." Jika timbul lagi pertanyaan, "Bagaimana?" Maka, marilah kita jawab, "Bersama-sama."

Dewasa ini, bangsa kita seringkali tertumpuk masalah-masalah menuju ujung tanduk. Perpecahan dapat kita lihat dimana-mana, bukan? Banyak masalah menyangkut agama, menyangkut demokrasi, dan masih banyak lagi. Akar permasalahannya sebenarnya hanyalah perbedaan pendapat. Tak mesti secara langsung, bahkan di dunia maya pun, warga Indonesia mudah sekali terpecah hanya karena beda pendapat. Hal inilah yang harus kita waspadai. Bukankah, kita punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika?

Bela negara tak harus melakukan sesuatu yang nampak gempar. Bela negara bisa kita lakukan seperti budaya luar melakukan aksinya pada budaya kita ; 'perlahan-lahan, namun masif'. Ada baiknya, kita selalu melakukan kampanye sederhana tentang bela negara. Dimulai saja dari orang terdekat kita, keluarga. Selalu katakan kepada mereka agar tak mudah mendebat ketika ada orang terdekat, atau lawan bicara memiliki pendapat yang berbeda dengan kita. Selalu beri pesan kepada mereka agar tak membenci antar sesama warga Indonesia yang sama-sama hidup dan menginjak di bumi pertiwi.

Nantinya, dengan mempersuasikan sikap bela negara ini, kita mampu mewujudkan kebersamaan dalam menjunjung tinggi tujuan bangsa Indonesia. Dimulai dari kebiasaan kecil, seperti contohnya.. saat bermain media sosial, tidak mudah membalas komentar akun lain yang berbeda pendapat. Tidak hanya mempersuasikan rasa bela negara itu sendiri, tetapi kita juga boleh mempersuasikan bangsa kita sendiri. Misalnya, dengan menunjukkan kekayaan alam Indonesia, budaya Indonesia, kepada khalayak yang belum mengenal lebih dalam bahwa Indonesia sekaya itu. Lama-lama, hal tersebut akan berkembang menjadi pelestarian budaya dan bangsa Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x