Mohon tunggu...
Esti....
Esti.... Mohon Tunggu... Sedang Berbenah

Yuk Melangkah

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Kejelasan Visi Dakwah: Ila Sabili Rabbika

15 Juni 2021   04:23 Diperbarui: 15 Juni 2021   04:25 102 2 0 Mohon Tunggu...

Kalimat ud'u il sabli Rabbika dalam QS an-Nahl [16]: 125 mengandung perintah untuk menyeru manusia ke jalan Allah SWT. Menurut al-Hafizh ath-Thabari (w. 310 H) dalam Jmi' al-Bayn (XVII/321), al-Baidhawi dalam Anwr at-Tanzl (III/245), ayat itu berkonotasi (menyerukan) syariah yang Allah syariatkan bagi makhluk-Nya, yakni Dinul Islam. Kalimat il sabli Rabbika merupakan kiasan yang dipinjam al-Quran (al-isti'rah) untuk menggambarkan jalan (al-tharq) yang harus ditempuh seseorang tatkala ia meniti ajaran Islam (ittib' sabliLlh), sebagaimana orang yang menempuh jalan kebatilan (sabl al-thght) (lihat: Abu Hayyan, Al-Bahr al-Muhth, III/721).

Lafal sabl pun berbentuk mufrad (tunggal) mengisyaratkan jalan kebenaran itu hanya satu, tak berbilang. Ini membantah keyakinan kufur relativisme, pluralisme dengan syubhat menegasikan klaim satu jalan kebenaran Islam. Lafal sabl pun ditautkan (bi al-idhfah) pada frasa Rabbika yang merupakan bentuk ma'rifah bermakna spesifik, tidak bias dan tidak samar, yakni jalan Allah semata bukan selainnya, mengingat al-idhfah termasuk jenis al-ma'rif (lihat: Ibn Hisyam, Syarh Syudzr al-Dzahab (h. 202); Khalid al-Azhari, Syarh at-Tashrh (I/96)); memperjelas batasan (taqyd) bahwa dakwah yang benar adalah dakwah kepada akidah Islam dan syariahnya, bukan kepada ajaran sesat menyesatkan.

Dalam QS an-Nahl di atas, Allah SWT memperjelas buah dari adanya dakwah; perbedaan antara mereka yang tersesat dan mereka yang meniti jalan-Nya

Allah SWT menegaskan informasi (khabar bi at-taukd) tentang Diri-Nya (al-tafrd li al-madh). Menariknya, dalam ayat ini mereka yang tersesat digambarkan dalam bentuk kata kerja lampau (al-fi'l al-mdhi): dhalla yang terikat pada orientasi waktu. Sebaliknya, mereka yang meniti jalan petunjuk diungkapkan dalam bentuk kata benda (al-ism) lafal al-muhtadn yang merupakan ism al-f'il (kata benda subjek) dari kata kerja ihtad (mengambil petunjuk). Ini berfaedah li al-tsubt wa al-istimrr (tetap dan terus-menerus) (Al-Hafizh al-Suyuthi, Al-Itqn, IV/1324). Ini menunjukkan kesesatan jauh lebih rapuh daripada kebenaran yang sejalan dengan fitrahnya. Allah menciptakan hamba-hamba-Nya dengan sifat fitri yang lurus, namun menyimpang disebabkan tipudaya setan.

Adapun kesesatan itu rapuh serapuh pijakannya, diserupakan oleh Allah (tasybh) dengan pembuat rumah dari sarang laba-laba (Lihat: QS al-'Ankabt [29]: 41).

Kisah sahabat yang dikenal teguh memegang prinsip, Umar bin al-Khaththab r.a, misalnya, bisa luluh menerima kebenaran Islam, dan menjadi tokoh agung berjuluk al-frq.

Optimislah!

Ini merupakan motivasi untuk optimis mendakwahi makhluk-Nya meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Allah dalam QS an-Nahl [16]: 126-127 membimbing hamba-hamba-Nya menghadapi tantangan para penentang dakwah, sekaligus mengingatkan mereka untuk bersabar atasnya. Ini mengandung dillah adanya kelaziman tantangan di jalan dakwah dan tuntunan untuk kokoh di atas kebenaran.

Penjelasan diatas merupakan gambaran bahwa sertifikasi dakwah dan mekanismenya adalah datangnya dari Allah bukan yang lain. Maka setiap muslim harus bersemangat amar ma'ruf nahi munkar sebagai wujud pelaksanaan kewajiban.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x